Maju Berlokomotif Kopi (2)

Rabu, 29 Januari 2020, 09:54 WIB

Petani kopi, perlu lebih diberdayakan. | Sumber Foto:Dok Kementan

Sedang di Orchard Road Singapura? Singgahlah ke Mandarin Gallery di jalan itu nomor 333A. Warga negeri Singa sekarang dapat menikmati kopi istimewa Indonesia di café di tempat itu.

Ya, di situ ada kedai kopi Indonesia. Suppresso Coffee Gallery. Perusahaan spesialis kopi asal Surabaya itu sudah lebih setahun membuka outlet-nya di sana. Tepatnya sejak November 2018 lalu. Duta besar kita untuk Singapura, I Gede Ngurah Swajaya meresmikannya.

Kopi Indonesia di Singapura memang bukan hal asing. Lebih dari sepertiga pasokan kopi ke sana berasal dari Indonesia. Tapi, sayangnya itu untuk kopi kelas biasa saja. Sedangkan kopi premium, umumnya didatangkan dari Ekuador atau Brazil.

Begitu kata Sugih Rahmansyah. Atase perdagangan Indonesia untuk Singapura. Padahal kita punya banyak kopi premium. Kopi Gayo, Kopi Toraja, hingga Kopi Kintamani dikenal oleh pengamat kopi dunia. Apalagi Kopi Luwak yang memang sangat Indonesia.

“Saatnya kita mengisi pasar kopi premium di Singapura,” kata Sugih.

Pertanyaannya: Mengapa baru Supresso, dan sedikit produsen lain kopi, yang membuka outlet ke mancanegara? Mengapa juga baru pada beberapa tahun terakhir ini dilakukan? Sedangkan kopi Indonesia sudah cukup lama dikenal dunia. Sampai sekarang pun kualitas kopi kita tetap diakui.

Dalam hal ini kita tertinggal dari Thailand. Bukan soal bagaimana membangun kedai kopinya di dunia. Tapi bagaimana mendunia lewat gerai-gerai makanan. Mereka memfasilitasi warganya yang ingin membuka resto Thailand di mancanegara.

Pelatihan usaha kuliner negara berikan. Kredit usaha diberikan. Bahkan untuk perizinan serta teknis membuka resto Thailand dibantu. Itu yang membuat rumah makan Thailand pun menjamur di berbagai negara. Apalagi resto-resto Thailand swadaya juga bermunculan. Itu yang membuat masakan Thailand dapat ‘menaklukkan’ dunia.

Indonesia dapat menempuh jalan serupa. Bukan dengan mengandalkan masakan sebagai lokomotifnya. Namun kopi. Masakan Indonesia memang istimewa. Namun perlu waktu dan upaya besar buat mempromosikannya. Buat Indonesia, kopi lebih mudah menjadi lokomotif. Lebih dikenal dunia.

Saat itu, kedai dan kafe kopi Indonesia akan bertebaran di berbagai kota di dunia. Orang-orang pun antusias datang buat mencoba beragam aroma kopi kita. Mulai dari yang terasa menggigit, yang asam, gurih, hingga yang berasa coklat. Indonesia pun Berjaya.

Itu memang bukan langkah gampang. Namun juga bukan hal yang rumit buat dilakukan. Bahu-membahu seluruh anak negeri menjadi kuncinya. Para milenial kopi tentu yang di ujung tombak. Mereka yang mampu mendunia. Tinggal bagaimana negara memfasilitasinya.

Di ujung lainnya tentu para petani yang perlu lebih diberdayakan. Sebagian petani kopi saat ini sudah dari kalangan milenial. Mudah untuk diajak bertani secara modern. Namun sebagian besar masih petani generasi lama. Yang bertani secara tradisional.

Merekalah yang paling perlu diberdayakan. Agar usaha taninya selaras dengan tuntutan bisnis kopi bertaraf global. Di Vietnam, sebagian besar tanaman kopi sudah dibudidayakan melalui perkebunan yang efektif dan efisien. Tiongkok, yang kini juga mulai menggarap kopi, juga begitu. Malah kita yang tertinggal.

Koperasi petani kopi menjadi kuncinya. Di beberapa tempat, para petani sudah berhimpun dalam koperasi yang efektif. Lewat koperasi-koperasi itulah mereka efektif menjangkau pasar. Hingga ada kepastian kualitas macam apa, dengan harga berapa, serta kuantitas seberapa pasokan pasar yang harus mereka penuhi.

Sayangnya, masih sebagian kecil petani kopi yang terhimpun dalam koperasi yang kuat. Sebagian besar petani kopi belum berhimpun di koperasi. Koperasi yang sungguh maju juga masih terbatas. Itu tantangan yang perlu diatasi.

Rantai tataniaga tentu juga masih harus dibenahi secara serius. Bagi sebagian besar petani kopi, bersungguh-sungguh memproduksi kopi berkualitas tinggi kadang lebih menyulitkan. Menjual kopi ‘curah’, dengan beragam kualitas yang tercampur, kadang lebih mudah. Tinggal bicara soal volume.

Tetapi yang seperti itu tentu tak menghasilkan kopi premium. Kepremiumannya akan ditentukan oleh hasil grading pada biji kopi segala rupa tersebut.  Biasanya itu tidak di tangan petani dan koperasinya. Namun di tangan agen besar, kepanjangan dari para pemain dunia.

Maka, sekali lagi, perlu koperasi-koperasi petani kopi yang kuat. Koperasi yang didukung oleh asosiasi-asosiasi kopi yang dikelola secara benar-benar modern. Keberadaan Dewan Kopi Indonesia (Dekopi) sebagai payung asosiasi-asosiasi kopi tersebut akan memudahkan langkah itu.

“Alhamdulillah hubungan kita dengan pemerintah sangat baik,” kata Ketua Dekopi, Anton Apriantono.”Tinggal bagaimana menguatkan kerja sama yang lebih konkret untuk memajukan kopi Indonesia.” Bila demikian, Kementerian Pertanian tentu perlu duduk bersama dengan Dekopi secara intensif sampai ke tingkat teknis.

Selanjutnya dapat dibayangkan betapa maju dan modern-nya agrobisnis kopi Indonesia. Kemajuan yang memungkinkan kopi dapat menjadi lokomotif bagi pengembangan agrobisnis Indonesia secara menyeluruh. Pengembangan yang mencakup berbagai komoditas agro lainnya. Itu yang akan membuat Indonesia sungguh maju. Melalui pintu agro.

Semua itu dapat diawali dari kopi. Yakni menjadikan agrobisnis kopi sebagai model, atau lokomotif, kemajuan Indonesia yang berbasis agro. Ketika saat itu terwujud, kita tidak hanya akan menjumpai gerai kopi Indonesia di Orchard Road Singapura saja. Juga di Ginza Tokyo, 5th Avenue New York, hingga Avenue des Champs-Elysees Paris.

Zaim Uchrowi, Ketua Dewan Redaksi AGRONET