Merimpang Virus Corona

Jumat, 06 Maret 2020, 09:12 WIB

Virus Corona yang mematikan | Sumber Foto:Dok Istimewa

Dunia heboh. Aktivitas manusia seluruh dunia berkurang drastis. Berbagai seminar, pertunjukan, pertandingan, bahkan peribadahan mendadak dibatalkan. Ibadah umrah, misalnya. Pemerintah Saudi tiba-tiba menghentikan kegiatan ini. Entah sampai kapan.

Perbincangan keseharian pun didominasi urusan ini. Bukan hanya pada satu dua kalangan. Namun di semua kalangan. Bukan hanya di satu-dua tempat atau kawasan. Tetapi di semua negara. Di empat penjuru dunia. Perekonomian? Tentu bukan hanya terganggu. Namun sangat terganggu.

Semua itu karena sejenis virus. Virus Corona yang kini –oleh Otoritas Kesehatan Dunia—dinamai Covid-19. Jenis virus yang belum pernah ada selama ini. Virus yang kali ini  ‘terlahir’ dan meledak di Wuhan China. Lalu menyebar di seluruh dunia. Kita semua tahu itu.

Sudah ratusan ribu orang terjangkit Covid-19. Ribuan orang telah meninggal. Kalau gambar-gambar video yang ditayangkan benar, sebagian dengan cara yang sangat dramatis. Bayangkan jika virus itu terus menyebar. Sampai menjangkau 1% persen saja penduduk dunia. Betapa besar petaka yang ditimbulkannya. Hal yang mudah-mudahan tak terjadi.

Namun tentu kita harus bersiaga. Antara lain dengan bertanya pada diri sendiri. Pada situasi seperti sekarang ini, apa yang dapat kita lakukan? Lebih spesifik lagi, apa yang dapat dilakukan dunia pertanian?  Buat menangkal dan mengalahkan ‘virus milenial’ ini.

Virus adalah makhluk Tuhan yang berukuran superkecil. Makhluk nano, karena ukurannya menggunakan satuan nanometer. Satu nanometer adalah sepermilyar meter. Virus disebut dapat berdiameter 20 nano. Jika benar, maka perlu sekitar 125 milyar trilyun virus yang ditumpuk agar dapat mengisi ruang sebesar 1 meter kubik.

Makhluk sekecil itu dapat menyengsarakan, bahkan membunuh, manusia. Hebatnya lagi, sampai kini belum ada obat buat mengatasi virus.  Manusia belum menemukannya. Hanya antibodi yang diproduksi sendiri oleh setiap orang yang mampu membunuh virus. Kita hanya dapat memproduksi vaksin. Buat merangsang produksi antibodi.

Apalagi yang dapat dilakukan? Apalagi kalau bukan mengondisikan tubuh. Agar kondusif buat memproduksi antibodi secara efektif. Di situlah pertanian dapat berperan. Terutama melalui pendekatan herbal. Pendekatan itu yang dapat mencegah serangan virus. Termasuk tentu Covid-19.

“Masyarakat kita sebenarnya sudah terbiasa mencegah serangan virus.”  Itu kata Chaerul Anwar Nidom. Seorang profesor mikrobiologi Universitas Airlangga.  Kebiasaan tersebut adalah melalui  minuman.  Yakni minuman berbahan dari tanaman yang mengandung curcumin.

Disebutnya, curcumin ada di berbagai tanaman. Curcumin ada di jahe, temulawak, kencur, kunyit, hingga sereh. Itu tanaman yang biasa dimasukkan dalam kelompok empon-empon. Sering juga disebut tanaman rimpang. Meminum minuman rimpang, yakin Chaerul, akan efektif untuk mencegah Corona.

Jahe. Zingiber officinale. Ini rimpang paling terkenal untuk minuman. Air jahe, kopi jahe, hingga susu jahe. Hampir semua masyarakat di Indonesia sangat mengenalnya.  Semua minuman penghangat badan menggunakan jahe. Mulai wedang jahe di Jawa, hingga saraba di Sulawesi.

Obat-obatan flu herbal, semua berbasis jahe. Herbal paling laku saat ini mengandalkan jahe sebagai komponen utamanya. Seperti jamu Tolak Angin, hingga merek Bejo. Di antara keluarga jahe ini, yang kini banyak dipromosikan adalah jahe merah.

Temulawak. Curcuma xanthorriza. Ini banyak dikaitkan dengan keperluan menjaga stamina. Untuk tidak gampang lelah. Presiden Joko Widodo sebut selalu minum rebusan temulawak. Setiap pagi. Mungkin itu yang membuat presiden hampir selalu tampak fit. Sepanjang hari.

Temulawak juga dianggap efektif untuk melawan hepatitis. Yakni untuk mencegah sirosis. Pengerasan jaringan hati, yang membuat hati tidak lagi dapat berfungsi secara semestinya. Efektivitas temulawak untuk menetralkan penyakit hati disebut jauh lebih baik dibanding obat-obatan kimiawi.

Kencur. Kaempferia galanga. Banyak penceramah membawa potongan kencur muda saat melawat ke berbagai tempat. Gunanya melawan serak –hal yang diakibatkan virus—setelah banyak berceramah. Kencur juga memberi aroma menyegarkan. Beras kencur selalu menyegarkan.

Kunyit. Curcuma domestica. Selain untuk bumbu, kunyit juga dimanfaatkan untuk mengatasi gangguan lambung. Gangguan yang sering disebabkan oleh mikroba. Di masyarakat Jawa, salah satu minuman favorit adalah kunyit asam.

Sereh. Cymbopogon citratus. Yang lebih banyak dimanfaatkan adalah daunnya. Daun yang disebut memiliki kandungan antioksidan tinggi. Kandungan magnesium dan kalsiumnya juga dinilai penting untuk penguatan tulang maupun otot jantung. Kekuatan lain dari sereh adalah nilai aromaterapiknya.

Jahe, temulawak, kencur, kunyit, hingga sereh itulah rimpang. Kehadirannya dalam tubuh manusia bukan buat membunuh virus. Termasuk virus Corona, virus yang sebenarnya tidak terlalu mematikan (dibanding SARS, apalagi ebola misalnya), namun memiliki kecepatan penyebaran luar biasa.

Kehadiran rimpang itu buat menguatkan daya tahan tubuh. Kuatnya daya tahan tubuh itu akan ditandai dengan kemudahan antibodi untuk segera terbentuk setiap ada virus baru menyerang. Termasuk bila ada serangan Covid-19 tentu.

Histeria terhadap virus Corona jelas tidak perlu. Perilaku hidup sehat adalah perlindungan terbaik terhadap virus yang mempanikkan dunia itu. Rimpangkan saja dengan jahe, temulawak, kencur, kunyit, hingga sereh, efek virus Corona akan dapat dibatasi.

Zaim Uchrowi, KETUA DEWAN REDAKSI AGRONET