Terus Produksi Saat Pandemi

Kamis, 23 April 2020, 14:58 WIB

ilustrasi : Terus Produksi Saat Pendemi | Sumber Foto:AGRONET

 

Senin, 20 April 2020. Kita, bangsa ini, masih tengah bergulat dengan pandemi. Wabah virus Covid-19 yang menyebar sangat cepat. Juga secara senyap. Angka korban yang terpapar terus bertambah. Terus meningkat dengan pesat. Begitu pula kematian yang ditimbulkannya.

Virus ini tak hanya membekukan paru-paru orang per orang. Namun juga membekukan kehidupan umum. Kantor-kantor ditutup. Pabrik-pabrik banyak yang berhenti beroperasi. Ekonomi dipaksa untuk menyusut tiba-tiba. Virus ini juga meng-KO kehidupan masyarakat luas.

Lalu orang dipaksa untuk pakai masker. Penutup hidung dan mulut. Juga dipaksa keadaan buat belajar kembali cuci tangan. Cuci tangan yang benar. Social distancing pun diserukan. Tak boleh lagi ada kerumunan, apapun alasannya. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan.

Tidak ada pilihan bagi kita. Semua harus mengurangi aktivitas di publik. Semua harus mengubah format kerja. Bukan lagi bekerja bersama-sama di kantor, pasar, atau tempat kerja lain. Tapi diserukan agar kerja dari rumah. Work from home (WFH). Mengurangi interaksi fisik antarsesama.

Bagi “orang kantoran”, hal tersebut tidak masalah. Apalagi Teknologi Informasi (TI) sekarang telah sangat berkembang. Sangat memadai buat mendukung kerja dari rumah. Namun, bagaimana halnya dengan petani? Bagaimana mungkin petani bekerja mengolah sawahnya dari rumah?

Ya, bagaimana petani bekerja di masa pandemi ini? Haruskah kerja dari rumah seperti banyak profesi lainnya. Ataukah justru harus terus ke sawah?  Buat bekerja nyata mengolah lahannya.

Untuk menjawab itu, lihat saja contohnya dari Menteri Pertanian. Di tengah musim pandemi ini, Menteri Syahril Yasin Limpo (SYL) tampak sering ada di sawah. Tentu dengan mengikuti protokol pengamanan terhadap Covid-19 yang ketat. Bermasker, berjarak, serta dengan hand sanitizing.

Seperti pada pekan terakhir menjelang Ramadhan tahun ini. SYL ada di tengah kebun jagung, di Bantaeng, Sulawesi Selatan.  Ini musim panen jagung. Di tempat panen itu saja, setidaknya ada 350 hektar jagung yang harus dipanen. Maka, panen tentu harus dilakukan. Meskipun harga jagung sedang murah.

Di tengah pandemi ini, sejumlah pabrik pakan ternak memang tengah mengurangi produksi. Tentu saja serapan jagung sebagai bahan baku juga menurun. Sedangkan stok jagung sedang berlebih. Masih ada panen pula. Akibatnya, tentu harga jagung menurun.

Pada titik tertentu, penurunan harga itu memang merugikan. Tapi setidaknya masih memberikan petani penghasilan. Di saat yang sama, banyak kalangan kehilangan penghasilan. Dan bahkan tak sedikit yang kehilangan pekerjaan.

Hasil panen jelas menambah stok pangan. Tambahan stok secara umum diperlukan. Di setiap waktu menjelang Ramadhan, saban tahunnya. Di saat-saat ini, stok pangan nasional memang baik. Beras, misalnya. Bahan pangan paling pokok ini tersedia 3,4 juta ton. Sebanyak 1,4 juta ton di antaranya ada di Bulog.

Dengan stok sebesar itu, sepertinya sebagian petani bisa istirahat. Berhenti bekerja untuk sementara dengan sepenuhnya tinggal di rumah. Sambil menunggu pandemi berlalu. Sebagaimana banyak orang lainnya yang bekerja dari rumah. Tapi, bukan itu tentu yang diserukan SYL.

“Terus produksi saat pandemi.”  Itu yang lebih ditekankan SYL dan Kementerian Pertanian. Rutinitas kerja di sawah dan kebun justru harus dijaga. Sebab itulah darah yang mengalir dalam jantung usaha tani. Bila aliran ‘darah’ itu tidak stabil, usaha taninya akan sakit.

Hal tersebut serupa dengan paru-paru saat terserang Covid-19. Penyakitnya tak akan serta merta menghilang. Namun perlu waktu untuk sampai pada kesembuhan. Maka petani perlu terus bekerja. Agar usaha taninya senantiasa terjaga sehat. Apalagi saat ekonomi secara luas juga sangat terimbas pandemi.

Toh di sawah petani juga dapat bekerja sendiri. Tanpa harus bertemu --apalagi berkerumun-- dengan orang-orang lain. Bekerja fisik, di tengah terpaan sinar matahari pagi, juga akan membuat badan  makin sehat. Hal yang sungguh penting di masa pandemi seperti ini.

Selain itu, petani juga dapat bekerja di lingkungan rumahnya sendiri. Seperti untuk mengolah hasil produksi. Saatnya petani kita melangkah ke pengolahan hasil. Ya, pengolahan hasil. Ini yang secara umum masih terabaikan oleh petani. Padahal inilah yang memberi nilai tambah ketimbang sekadar produksi.

Masyarakat lain, silakan berada di rumah. Biarkan petani terus bekerja di ladangnya. Buat memenuhi kebutuhan pangan bagi semua. Itu semangat yang terus dipompakan pada petani. Termasuk yang dilakukan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP).

Pengukuhan 67 Duta Petani Milenial di tengah masa pandemi menjadi salah satu langkahnya. “Petani milenial itu ujung tombak pertanian di era sekarang,” kata Prof Dedi Nursyamsi, Kepala BPPSDMP. Maju tidaknya pertanian Indonesia ke depan tergantung pada para petani milenial itu.

Mengukuhkan dutanya di saat pendemi adalah menyemangati para petani milenial untuk terus bekerja. Mereka bisa beradaptasi cepat dengan situasi yang ada. Misalnya, saat pandemi mengganggu sistem distribusi tradisional hasil pertanian, mereka mampu mengatasinya.

Para petani milenial itu siap mengembangkan sistem distribusi baru secara cepat. Seperti sistem home delivery yang memanfaatkan fasilitas daring. Dengan cara itu, bukan saja usaha petani milenial yang terjaga. Penghidupan seluruh petani yang ada di belakangnya juga terjaga.

Maka, Kementerian Pertanian pun mengerahkan para penyuluh untuk berbuat lebih aktif.  Konferensi jarak jauh secara nasional pun dilakukan. Meminta penyuluh agar makin memotivasi petani untuk terus bekerja. Agar petani terus berproduksi di masa pandemi ini.

Terus berproduksi saat pandemi, akan membuat petani sehat. Sehat raga karena bekerja fisik dengan sinar matahari pagi; sehat dana karena usaha taninya akan terus menghasilkan; juga sehat jiwa karena pangan yang diproduksinya bermanfaat bagi seluruh masyarakat.* 

Zaim Uchrowi. DEWAN REDAKSI AGRONET      

BERITA TERKAIT