Saat Yuni Shara Berkalung Eucalyptus

Senin, 20 Juli 2020, 09:58 WIB

Daun Eucalyptus. | Sumber Foto: Istimewa

Geger itu sudah berlalu. Setelah sempat menjadi bulan-bulanan hujatan, kini produk minyak atsiri itu mulai mendapat tempat di publik. Secara perlahan posisinya bahkan meningkat. Tak heran bila kalung atsiri Eucalyptus pun melingkar di leher selebritas. Seperti Tommy Kurniawan hingga Yuni Shara. Di masa pandemi Covid-19 ini.

“Inovasi ini perlu dilanjutkan lagi,” kata Yuni Shara yang merasa lebih aman berkalung Eucalyptus itu saat harus keluar rumah.

Jalan bagi Eucalyptus untuk mendapat tempat di hati publik memang tidak mudah. Sudah berabad-abad sebenarnya Eucalyptus berkontribusi nyata bagi masyarakat. Dalam wujud sebagai minyak kayu putih, Eucalyptus sudah membantu jutaan manusia meringankan beban melawan flu.

Di Indonesia tidak ada orang yang tak mengenal minyak kayu putih. Ketika kepala terasa mulai pening, hidung tersumbat, dan riak di leher mulai membatuk, minyak kayu putih banyak menjadi pilihan. Kita tidak tahu seberapa efektif sebenarnya minyak atsiri itu membunuh virus. Tapi, kita merasa, kayu putih itu membantu membuat flu tak berkepanjangan.

Menguatnya budaya modern tak terasa ikut meminggirkan posisi kayu putih. Masyarakat perkotaan pelan-pelan meninggalkan. Makin cenderung pada solusi medis bahkan untuk sedikit flu saja. Makin bergantung pada obat kimia. Apalagi yang mahal harganya, dan direkomendasikan dokter terkenal.

Minyak kayu putih? Seolah itu hanya solusi bagi masyarakat tradisional. Atau bagi masyarakat kelas bawah dengan keterbatasan ekonominya. Sampai kemudian dunia ambruk oleh serangan virus yang tak dikenal di awal tahun 2020. Virus jenis berkorona yang dinamai Covid-19 ini.

Kalangan kedokteran dunia pun tak tahu, apa obat obat untuk mengatasi virus ini. Seluruh dunia hanya mencoba-coba. Rendecivir sering dipakai. Namun sifarnya juga coba-coba. Jauh dari pasti. Khlorokuin, obat malaria itu juga dicoba dipakai. Termasuk di Indonesia. Namun kemudian malah disebut berbahaya.

Yang lebih pasti bukan pengobatan, melainkan pencegahannya. Salah satu pencegahan terpenting di tengah keganasan Covid-19 ini adalah menguatkan imunitas. Antara lain dengan konsumsi herbal empon-empon yang diserukan Prof. Choirul Anwar Nidom dari Universitas Airlangga, Surabaya.

Di tengah ketidakpastian dunia itu, para peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian bergerak. Secara empirik, Eucalyptus sudah teruji di masyarakat selama bergenerasi-generasi. Eucalyptus sudah menjadi bagian dari kearifan lokal bangsa Indonesia. Mengapa tidak diteliti lebih lanjut?

Hasil temuan penelitian itu mengejutkan. Eucalyptus efektif untuk membunuh beragam virus. Apakah efektif membunuh Covid-19? Memang masih harus diteliti lebih lanjut. Tetapi beragam virus berkorona tumbang oleh Eucalyptus. Bahkan hanya dengan uap Eucalyptus di udara.

Dari sana berkembang asumsi. Selama ini dinyatakan bahwa Covid-19 masuk ke tubuh melalui mata, hidung, dan mulut. Ketika uap Eucalyptus mampu membunuh virus-virus berkorona, tentu berefek positif pada kesehatan. Setidaknya untuk mengurangi paparan beragam virus berkorona.

Tentu bagus kalau produk Eucalyptus itu dikalungkan. Menjadi semacam terapi aroma yang juga bermanfaat buat menangkal virus sepanjang waktu. Terutama saat-saat di tempat umum yang rawan dengan virus. Menteri Syahrul Yasin Limpo mengapresiasi itu dengan mempromosikannya.

Langkah tersebut disambut positif banyak pihak. Meskipun hujatan dari sebagian warganet --kalangan yang memang paling vokal saat ini-- juga tak terhindarkan. Bahkan ada yang menuding soal manfaat kalung Eucalyptus itu merupakan pembohongan publik.

Ketidakpercayaan pada manfaat Eucalyptus itu sedikit banyak dapat dipahami. Untuk sampai benar-benar tersimpulkan secara medis yang diakui dunia efek Eucalyptus terhadap Covid-19 memang masih perlu penelitian panjang. Apalagi sebagian masyarakat memang hanya percaya medis kimia.

Itu yang menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Bangsa besar yang bergantung sepenuhnya pada produk medis kimiawi dari luar, dan belum juga berusaha sungguh-sungguh mengembangkan kearifan lokalnya sendiri. Padahal, menyangkut Covid-19, produk medis yang dipakai lebih tidak teruji dibanding Eucalyptus tersebut.

Hingga kini Eucalyptus belum dipandang sebelah mata oleh otoritas Kesehatan kita buat dikembangkan secara serius. Termasuk kemungkinannya untuk meredam keganasan Covid-19 ini. Namun di masyarakat, kepercayaan terhadap Eucalyptus makin meningkat.

Keyakinan keluarga Prof Idrus Paturusi di Makasar misalnya. Terpapar Covid-19 dan harus diopname di rumah sakit --saat dunia belum menemukan obatnya yang pasti-- membuat Prof. Paturusi harus mencari jalan sendiri. Eucalyptus-lah yang diyakini menjadi jalan kesembuhannya.

Realitas itu semestinya membuka mata hati seluruh anak bangsa. Sudah tidak saatnya, sebagai bangsa besar, kita menunggu saja dan sekadar jadi konsumen industri medis dari luar. Sudah saatnya kita peduli dan mengembangkan kekayaan kita sendiri. Seperti pada Eucalyptus dan lainnya.

Kalung Eucalyptus yang melingkar di leher Yuni Shara semestinya mengingatkan kita tentang hal tersebut. Semoga.

Zaim Uchrowi. Dewan Redaksi Agronet.

BERITA TERKAIT