Bisnis Agro Pascapandemi

Senin, 21 Juni 2021, 17:51 WIB

Ilustrasi Bisnis Agro | Sumber Foto:ilustrasi AGRONET

Rina seorang manajer madya di sebuah lembaga sosial ternama nasional. Dompet Dhuafa. Sebelum pandemi, pagi-pagi ia sudah harus berangkat bekerja. Tak ada waktu nunggu buat menunggu tukang sayur keliling. Maka setiap akhir pekan ia ke pasar. Belanja keperluan dapur, sambil cari jajanan.

Pandemi mengharuskannya membatasi aktivitas itu. Ia memang menjadi lebih banyak waktu di rumah. Work from home, sebagaimana orang lainnya. Ke pasar bukan lagi pilihan. Menunggu tukang sayur pun ia enggan. Pilihannya adalah membeli sayur secara daring. Online.

“Kualitasnya bagus, harganya jelas,” katanya menjelaskan pilihan belanja itu. Lebih dari itu, cara tersebut dipandangnya paling aman untuk dilakukan di masa pandemi. Ia dan suaminya pernah merasakan betapa beratnya terkena Covid-19. Ia menjadi lebih hati-hati dalam bertindak.

Ya, belanja sayuran secara daring. Ke depan pola itu akan semakin berkembang di masyarakat. Ada perubahan perilaku konsumen yang mau tidak mau memang harus terjadi. Hal tersebut jelas akan mengubah format bisnis agro di masa mendatang.

BERITA TERKAIT

Pandemi Covid-19 memang mengacaukan. Di awalnya, di kuartal pertama 2020, pandemi mulai mengganggu distribusi produk pertanian. Padahal petani terus bekerja. Tapi distribusi produknya yang tersendat. Pasar-pasar sempat ditutup. Minimal dibatasi aktivitasnya.

Pada saat yang sama, beberapa saluran distribusi online sudah ada. Beberapa milenial mulai terjun ke bisnis sayuran.  Umumnya mereka ‘anak kota’. Bukan petani dari desa. Banyak yang bahkan sekolah di luar negeri. Sepulang ke Indonesia, mereka melihat peluang. Membangun start-up, berbisnis sayur secara online. Sebutlah Sayurboks, HappyFresh, Tukang Sayur, Bonsay, dan banyak lainnya.

Tak mudah memulainya tentu. Apalagi belanja ke pasar, ke supermarket, bahkan pada tukang sayur keliling tak sekadar untuk belanja. Tapi juga punya fungsi rekreasi dan juga sosial. Ketemu dan berbincang dengan orang. Juga melihat-lihat barang lain. Window shopping.

Pandemi memaksa orang berubah perilaku. Perlu membatasi aktivitas. Perlu lebih banyak tinggal di rumah. Sementara itu, kebutuhan sehari-hari tentu tetap harus dicukupi.

Itulah yang membuat kanal-kanal belanja sayuran secara daring jadi pilihan. Belum ada riset yang memastikan, seberapa banyak konsumen berhijrah dalam membeli sayur. Tapi aktivitas start-up jualan sayuran tampak meningkat pesat.

Keluarga muda perkotaan menjadi konsumen utamanya. Mereka tak banyak ikatan emosional dengan pasar tradisional. Dalam banyak hal cenderung suka hal praktis. Menuntut standar kualitas. Dan sangat terbiasa dengan gadget.

Inilah yang membuat toko-toko online sayuran tumbuh pesat. Apalagi mereka tak sekadar jualan sayuran. Namun berbagai hal bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan dapur. Daging, susu, telor, bahkan hingga bumbu-bumbu.

Tumbuhnya toko-toko online seperti itu mengubah wajah bisnis agro di Indonesia. Perubahan yang paling nyata adalah yang dihilir tersebut. Orang tak perlu melihat barangnya. Buka aplikasi, pesan kebutuhan yang diinginkan, bayar secara daring, langsung tunggu kiriman.

Cara tersebut memerlukan dan menumbuhkan trust. Rasa percaya antarpihak. Pembeli percaya, sayur dan bahan pangan yang dibelinya berkualitas baik. Juga tersedia kapan pun ia memerlukan. Di sisi lain, penjual –yakni toko online—harus terus menjaga kepercayaan itu.

Harus terus menjaga ketersediaan pangan yang diperlukan konsumen. Dalam kuantitas. Apalagi kualitas. Menyangkut berbagai komoditas yang diperlukan, tanpa kecuali. Imbasnya kemudian akan ke hulu.

Toko-toko ini harus menjalin hubungan dengan pemasok-pemasok andal. Pemasok itu bisa langsung petani atau kumpulan atau kelompok petani.  Atau ke beberapa pedagang perantara yang tepercaya

Akibat lebih lanjutnya, petani atau kumpulan petani perlu lebih terorganisasi dalam produksi. Perlu membuat perencanaan ketat. Mau memproduksi apa, berapa volumenya, kapan, bagaimana kualitasnya? Petani, lebih mudah merencanakan itu semua dibanding masa sebelumnya.

Petani menjadi dapat memprediksi ‘pasar’ yang hendak menampung hasil usahanya. Terkait dengan jumlah, harga, dan waktu. Dengan begitu, petani dapat lebih memfokuskan pada dua hal. Pertama, pemenuhan kualitas dan kuantitas pada waktu yang disepakati. Kedua, mengefisienkan biaya produksi.

Dua hal itu akan membuat dunia tani ‘lebih mengindustri’. Para petani, akan tertuntut untuk mengembangkan sistem yang membuat usahanya lebih efektif dan efisien. Mulai dari penyiapan untuk bercocok tanam. Hingga penanganan hasil panen. Grading sebagai ciri ‘industri agro’ yang selama ini jauh dari dunia tani tradisional, kini akan otomatis teradopsi.

Pedagang perantara? Hampir pasti masih ada. Toko-toko online tetap akan rasional. Pemasoknya bisa siapapun. Tak harus selalu petani langsung. Bisa saja pedagang. Yang penting dapat diandalkan, dari waktu ke waktu.

Hanya para pedagang perantara tepercaya yang akan bisa bertahan. Rantai tataniaga bahan pangan, yang selama ini bisa sangat panjang, akan lebih ringkas. Ruang gerak pemasok nakal, yang manipulatif dan memainkan harga, akan semakin terbatas. Semua itu terbantu oleh digitalisasi pasar agro.

Di bangsa lain, bisnis agro secara tertata sudah terbangun sebelum era digital. Seperti di Jepang, yang masyarakatnya tergabung dalam kelompok konsumen yang kuat. Di setiap wilayah pemukiman, warga terbiasa mengorganisasi diri. Sudah punya rencana belanja secara pasti. Perlu apa saja dalam setahun? Berapa jumlahnya? Seperti apa kualitasnya? Kapan diperlukan?

Semua itu diorganisasikan oleh organisasi konsumen di tingkat ‘RW’ atau ‘desa’ masing-masing. Lalu organisasi konsumen ‘RW’ atau ‘desa’ pun berhubungan langsung dengan koperasi atau kelompok tani. Kontrak ditandatangani tahunan. Lalu, berdasar kontrak itu, petani pun memproduksinya.

Di Indonesia hal seperti itu belum mewujud. Setiap keluarga melangkah sendiri-sendiri. Petani juga cenderung bekerja sendiri-sendiri. Yang memegang kendali adalah pedagang perantara. Terutama malah pedagang perantara nakal. Yang bisa menimbun barang, dan memainkan harga.

Tanpa konsumen yang terorganisasi, juga petani sebagai produsen yang terorganisasi, bisnis agro tidak akan pernah benar-benar sehat. Tak akan dapat naik kelas ke jenjang lebih tinggi. Konsumen tidak akan mendapat kualitas dan harga terbaik. Petani juga tak akan dapat harga terbaik serta kepastian pasarnya.

Itu yang selama ini terjadi. Hingga pandemi Covid-19 menerjang kita semua. Banyak yang terhuyung dan bahkan tumbang akibat terjangan itu. Tetapi, hikmah yang dapat dipetik juga sebesar daya terjangannya. Setidaknya di dunia agro yang masih menjadi kontributor besar bagi perekononiam warga perdesaan.

Pandemi telah mengantarkan bisnis agro di level mikro memasuki era baru. Era baru yang lebih transparan, kompeten, serta menguatkan rasa percaya satu sama lain. Efeknya bukan hanya dalam bisnis agro. Namun ke berbagai sendi kehidupan bangsa.

Berkembangnya platform-platform belanja online menjadi ujung tombaknya. Hal itu perlu terus didukung. Fenomena itu akan semakin berkembang di perkotaan. Serupa dengan fenomena motor-motor pedagang sayur keliling di perdesaan.

Pada akhirnya adalah bagaimana konsumen seperti Rina di atas, di seluruh Indonesia, bisa mendapatkan bahan-bahan agro terbaik dengan cara mudah. Lalu para petani juga semakin baik berelasi dengan pasarnya. Pandemi Covid-19 ternyata membukakan jalan menuju ke arah sana.*

Zaim Uchrowi – Initiator AGRONET      

BERITA TERKAIT