Mengejar Swa Sembada Pangan

Selasa, 05 Juli 2022, 23:32 WIB

Data BPS: Sektor Pertanian Serap Lapangan Kerja Tertinggi di Tahun 2022 | Sumber Foto:KEMENTAN

AGRONET -- Sekali pun saat ini Prabowo Subianto menduduki jabatan selaku Menteri Pertahanan RI, namun kecintaan dan kepedulian nya terhadap sektor pertanian, tidak pernah lepas dari kehidupan nya. 10 tahun menjadi Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, membuat diri nya tidak terpisahkan dari dunia pertanian.

Persahabatan dengan para petani inilah yang membuat Prabowo Subianto selalu konsern terhadap perkembangan pertanian di negeri ini. Bagi seorang Prabowo, pertanian dan petani merupakan "sahabat" sejati dalam kehidupan nya. Akibat nya wajar, jika dalam berbagai kesempatan Prabowo selalu mengingatkan penting nya bangsa kita mengejar swasembada pangan.

Salah besar jika bangsa ini telah mampu meraih Swasembada Pangan. Yang baru kita capai adalah Swasembada Beras pada tahun 1984. Itu pun tidak mampu kita lestarikan. Beberapa tahun setelah proklamasi Swasembada Beras, kembali bangsa ini melakukan impor beras. Sedangkan Swasembada Pangan sendiri masih belum mampu kita raih dan baru sebatas keinginan.

Pangan memang bukan cuma beras. Mengacu kepada pengertian pangan sebagaimana ditegaskan dalam Undang Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan, yang dimaksud dengan pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan Pangan, bahan baku Pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.

Dengan demikian menjadi jelas, yang nama nya pangan bukan cuma beras, namun juga ada jagung, kedele, bawang merah, bawang putih, cabai, daging sapi, kerbau, kambing, unggas, ikan, dan lain sebagai nya. Bahkan air pun terkategorikan sebagai pangan. Pangan adalah kumpulan dari beragam komoditas yang umum nya terkait dengan kebutuhan pokok manusia.

Makna Swasembada Pangan adalah bangsa kita mampu menghasilkam semua komoditas tersebut dari produksi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat dan Cadangan. Pertanyaan nya adalah apakah kita sudah mampu memenuhi keinginan tersebut ? Ah, rasa nya tidak.

Sebut saja kedele. Dari dulu, kita tidak pernah mampu "membebaskan" diri dari impor kedele Amerika. Pengusaha tahu dan tempe sangat "menyukai" kedele impor ketimbang yang diproduksi oleh petani lokal. Masalah nya, mengapa hal seperti ini harus terus berlangsung.

Apakah tidak ada seorang pun peneliti atau ilmuwan kita yang mampu menghasilkan kedele seperti yang diproduksi oleh para petani Amerika ? Sampai sejauh mana Pemerintah memberi dukungan maksimal terhadap pencarian inovasi dan teknologi budidaya tanaman kedele ? Inilah yang menarik untuk kita bincangkan.

Ada yang bilang, kedele adalah tanaman yang cocok dibudidayakan di negara yang sub tropis dan tidak cocok untuk dikembangkan di negara kita yang tergolong daerah tropis. Jadi, itulah salah satu alasan mengapa hingga kini, para pemulia tanaman kita belum mampu menghasilkan kedele seperti yang dibudidayakan di Amerika.

Swasembada Kedele bagi bangsa kita identik dengan hasrat untuk menangkap bintang di langit. Tidak hanya kedele, soal daging sapi pun merupakan problem yang cukup pelik bila kita ingin mewujudkan Swasembada Daging Sapi. Semangat ke arah itu, sesungguh nya telah sejak lama dikumandangkan Pemerintah. Politik anggaran pun sudah cukup banyak dikucurkan.

Studi banding banyak dilakukan. Ada yang secara khusus berangkat ke Australia dan Selandia Baru. Ada yang khusus datang ke Belgia. Semua nya itu, dimaksudkan agar kita mampu meningkatkan populasi sapi secara signifikan. Sayang, usaha yang ditempuh belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Yang pasti, hingga detik ini, kita masih melakukan impor sapi guna memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat di dalam negeri.

Ke dua teladan diatas, menggambarkan kepada kita, keinginan untuk meraih Swasembada Pangan, ternyata tidak semudah kita menuliskan nya diatas kertas. Swasembada Pangan merupakan cita-cita yang butuh pengorbanan dan perjuangan. Swasembada Pangan sebuah jalan panjang yang menuntut kerja keras untuk mewujudkan nya.

Itu sebab nya, keinginan menggapai Swasembada Pangan tidak cukup hanya dilakukan lewat pidato para pejabat belaka, namun yang lebih dibutuhkan adalah sampai sejauh mana penerapan nya di lapangan. Selain itu, keseriusan untuk meraih nya perlu dirancang ada nya sebuah Grand Desain dan Road Map pencapaian nya. Grand Desain beserta Road Map inilah yang akan memberi arah dan skenario bagaimana Swasembada Pangan itu dapat terwujud.

Pencapaian Swasembadà Pangan, tentu membutuhkan berbagai persyaratan yang dikemas dalam sebuah komitmen bersama. Mulai dari ada nya pola pikir yang sama dari para pemangku kepentingan hingga ke politik anggaran yang pantas untuk meraih menggapai nya. Untuk itu, apakah kita tidak berusaha untuk belajar dari kisah sukses Swasembada Beras yang berhasil kita capai pada tahun 1984 lalu ?

Belajar dari pengalaman, kelihatan nya masih dianggap sebagai guru terbaik untuk dilakukan. Apa yang digarap tahun 1984, ada baik nya diputar ulang kembali. Hal ini penting kita catat, karena jangan sekali pun kita melupakan sejarah. Bung Karno menyebut nya "jasmerah". Jangan Melupakan Sejarah. Begitu pun dengan apa yang telah dilakukan oleh Pemerintahan Orde Baru, yang ketika itu dikendalikan oleh Presiden Soeharto.

Saat ini tentu masih banyak saksi hidup yang menjadi pelaku-pelaku utama nya. Kita bisa mendengar bagaimana para birokrat Departemen Pertanian saat itu menyusun program dan kegiatan nya. Kita juga bisa bertanya kepada akademisi dan peneliti yang terlibat secara aktif dalam menyumbangkan gagasan dan inovasi yang dihasilkan nya. Dan menjadi lebih lengkap, kalau kita pun mendengar para tokoh tani yang waktu itu dengan gigih nya berjuang guna terwujudnya Swasembada Beras.

Keberhasila├▒ Swasembada Beras 1984, sebetul nya dapat dijadikan contoh dalam semangat kita untuk meraih Swasembada Pangan. Tinggal sekarang bagaimana kita mempelajari nya untuk kemudian dipraktekan dalam kehidupan nyata di lapangan. Tentu banyak hal yang patut disesuaikan dengan konteks kekinian. Apa yang dilakoni 38 tahun lalu, pasti jauh berbeda dengan sekarang.

Disinilah dibutuhkan kepiawaian dari para penentu kebijakan yang kini tengah dibeti mandat oleh rakyat untuk menyelenggarakan Pemerintahan. Kita tentu sangat percaya dengan kemampuan mereka, sehingga Swasembada Pangan bagi bangsa kita bukanlah sebuah pepesan kosong belaka. Swasembada Pangan butuh kerja keras dan kerja cerdas dalam mewujudkan nya.

Sumber :

KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT