Keren NTP Bisa 109,29

Minggu, 24 Juli 2022, 11:17 WIB

petani memanfaatkan mikro organisme lokal (MOL), EM4, kascing, pestisida nabati, pupuk organik hayati, zero waste, LEISA dan lainnya. | Sumber Foto:Kementan

AGRONET -- Wow keren. Nilai Tukar Petani (NTP) terus merangkak naik. NTP tidak mau kalah dengan beragam komoditi pangan strategis yang menjelang hari-hari besar keagamaan dan nasional kemarin terekam naik cukup signifikan. Angka NTP 109,29 adalah angka tertinggi di era Reformasi. Hampir tidak pernah NTP mampu melewati angka 107. NTP biasa nya berkisar antara 97 - 104 saja.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar petani (NTP) nasional sebesar 109,29 per Maret 2022. Angkanya naik 0,42 persen dari posisi Februari 2022 sebesar 108,83. NTP adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan.

Selama ini NTP selalu dikaitkan dengan kesejahteraan petani, walau pun banyak pihak yang meragukan nya. Semakin tinggi angka NTP, maka semakin sejahteralah para petani kita. Sebalik nya, kalau NTP melorot, maka petani menjadi tidak sejahtera. Namun begitu, ada pengamat pertanian yang mempertanyakan apakah sesederhana itu menyimpulkan kesejahteraan petani ?

Apakah cukup untuk menentukan kesejahteraan petani hanya dengan membandingkan indek harga yang diterima petani terhadap indek harga yang dibayar petani ? Apalagi bila sejahtera itu dimaknai selesai nya persoalan lahir batin manusia. NTP hanyalah satu indikator yang dapat dijadikan alat ukur. Tentu masih banyak alat ukur lain yang dapat digunakan untuk menilai kesejahteraan petani. Itu sebab nya banyak kalangan yang mengusulkan agar pendekatan NTP perlu disempurnakan.

Pertanyaan mendasar nya adalah mengapa kalangan Pemerintah dan akademisi tidak ada yang menindak-lanjuti "semangat" yang demikian ? Apakah mereka khawatir kejadian produksi beras bakal terulang dalam ukuran kesejahteraan petani ? Kita tentu masih ingat ketika Badan Pusat Statistik menerapkan metode Kerangka Sampling Area (KSA).
Metoda KSA ini menggantikan perhitungan sistem ubinan.

Hasil akhir nya terjadi perbedaan angka yang cukup besar dan banyak membuat Kepala Daerah yang terpaksa harus mengerutkan dahi. Selisih angka 32 % antara di hitung secara ubinan dan dihitung dengan KSA, bukan saja telah terjadi "kebohongan" atas data yang diumumkan BPS, tapi di daerah pun banyak Gubernur atau Bupati yang kebakaran jenggot. Banyak yang bertanya apakah betul BPS telah merevitalisasi data nya sendiri.

Bayangkan, suatu daerah yang selama ini dikenal surplus, tapi dengan ada nya perhitungan KSA, otomatis daerah nya menjadi defisit. Banyak dari mereka yang melakukan penggugatan atas KSA. Namun seiring dengan perjalanan waktu, isu itu pun menghilang dengan sendiri nya. Dari sekian banyak pejabat publik yang angkat bicara menengahi masalah yang ada, boleh jadi hanya Pak Jusuf Kalla yang saat itu menjabat Wakil Presiden, yang cukup pantas untuk didalami lebih lanjut.

Rencana nya perhitungan model KSA akan diterapkan pula untuk menghitung produksi jagung dan kedele dalam tahun berikut nya. Namun, entah apa alasan nya rencana BPS tersebut tidak dilanjutkan. Apakah karena ada nya kehebohan ketika KSA padi dilakukan atau ada sebab lain yang membuat perhitungan KSA untuk jagung fan kedele ditunda ? Yang jelas, apa pun metode perhitungan yang bakal diterapkan nanti nya, kita tidak ingin mengulangi lagi kekeliruan perhitungan sistim ubinan. Kita butuh model perhitungan yang lebih akurat dan terukur.

Baru sekarang-sekarang ini NTP mampu mencapai angka 109,29. Sebelum-sebelum nya hanya berkisar antara 97 - 104. Pandemi Covid 19, rupa nya mampu meningkatkan NTP, padahal ketika tidak ada serangan virus corona, terkesan sulit untuk mendongkrak angka NTP. Hal ini tidak berbeda dengan rilis BPS, angka kemiskinan menurun di saat masa pandemi Covid 19.

Inilah isu yang cukup penting untuk diselami lebih dalam lagi. Ada apa sebetul nya dibalik pandemi Covid 19 dengan NTP ? Apakah di balik tidak tercapai nya target pertumbuhan, membuat angka kemiskinan menurun ? Atau karena ada bantuan sosial itulah penyebab utama turun nya angka kemiskinan itu sendiri ? Yang pasti menurun nya angka kemiskinan di masa pandemi Covid 19 adalah prestasi menggembirakan dan patit diberi acungan jempol.

Kalau NTP masih dijadikan instrumen untuk melihat kesejahteraan petani, bagaimana kaitan nya dengan nasib dan kehidupan petani gurem atau buruh tani yang terekam masih memprihatinkan ? Apakah secara kasat mata mereka pantas disebut hidup sejahtera ? Atau tidak, dimana mereka sendiri terlihat masih kesusahan untuk membebaskan diri dari jeratan kemiskinan yang mencengkram nya ?

Bagi mereka angka NTP sebesar 109,29 itu hanyalah sebuah data yang tidak sama dengan kehidupan nyata mereka di lapangan. Petani gurem dan buruh tani adalah anak bangsa yang terpinggirkan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Hidup sejahtera bagi mereka, tak ubah nya sebuah upaya dalam menangkap bayangan diri sendiri. Mereka tetap terjerat dalam lingkaran setan kemiskinan yang tak berujung pangkal.

NTP = 109,29 merupakan prestasi yang cukup membanggakan. Walau pun secara riel angka 9 29 tidak memberi arti yang cukup besar bagi kehidupan petani gurem dan buruh tani, namun secara statistik, hal tersebut adalah fakta yang terekam dalam potret petani secara keseluruhan. NTP akan memberi makna bagi kehidupan petani bila mampu mencapai poin 120. Arti nya, angka 20 baru akan menciptakan perubahan penghasilan yang cukup berdampak bagi kehidupan para petani.

Dulu ada pihak-pihak yang menakutkan bila NTP menembus angka 110. Mereka khawatir, jika NTP tinggi, maka akan berdampak nyata pada inflasi. Akan tetapi kerisauan tersebut kini tidak terjadi. Naik nya NTP seperti nya kehidupan ekonomi nasional terekam biasa-biasa saja. Inflasi tetap bisa dikendalikan dengan baik. Kemiskinan menurun. Ketahanan pangan terkendali. Bahkan dalam menghadapi pandemi Covid 19, pergerakan ekonomi nasional menggambarkan pemulihan yang cukup menggembirakan.

Kecenderungan menuju perbaikan terlihat dari mulai menggeliat nya roda perekonomian nasional dan daerah. Daerah-daerah wisata kini mulai diserbu lagi oleh wisatawan dalam negeri. Hotel, restoran dan Cafe terlihat mulai banyak dikunjungi. Tempat jajanan dan kuliner, terekam cukup padat didatangi konsumen yang fanatik. Dan untuk semua nya itu, wajib hukum nya dibayar dengan penerapan protokol kesehatan yang berkualitas.

Semoga NTP = 109,29 mampu memberi berkah kehidupan bagi kaum tani di negeri ini. Harapan kita, petani tidak hanya mampu hidup sejahtera, namun juga bakalan merasakan suasana hidup yang penuh dengan kebahagiaan. Kaum tani di negeri ini, sangatlah pantas untuk hidup sejahtera dan bahagia.

SUMBER :

KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT

BERITA TERKAIT