Penyuluh Kuat, Pertanian Hebat

Sabtu, 15 Oktober 2022, 15:02 WIB

Yuli Asnita, honorer Penyuluh Pertanian yang dinas di Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat (Sumbar), salah satu dari 10 penyuluh teladan se-Indonesia tahun 2020. | Sumber Foto:Dok Istimewa

AGRONET -- Ketika sedang memberi pencerahan pada saat kegiatan Pembekalan Penyuluhan Pertanian Nasional, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyampaikan jargon "Penyuluh Hebat, Pertanian Kuat". Tentu kita sepakat dengan pernyataan seperti itu. Betapa tidak ! Sebab, Pembangunan Pertanian tanpa Penyuluhan Pertanian, sama saja dengan bohong.

Kehadiran dan keberadaan Penyuluhan Pertanian dalam pentas pembangunan pertanian di negara kita, sebetul nya telah memberi hasil nyata, khusus nya di bidang perberasan. Dengan ada nya Penyuluhan Pertanian, produksi padi kita meningkat cukup signifikan, bahkan mampu menggapai Swasembada Beras 2019-2021.

Suka atau tidak, keberhasilan pencapaian Swasembada Beras, baik Swasembada Beras 1984 atau Swasembada Beras 2019-2021, dikarenakan ada nya peran para Penyuluh Pertanian yang optimal. Dengan kesabaran dan ketelatenan, para Penyuluh Pertanian mampu membangun "mind-set" baru kepada para Petani terkait dengan tata cara budidaya padi yang efektip dan efesien.

Penyuluh Pertanian inilah yang mengajarkan para petani, setiap ada perkembangan inovasi dan teknologi baru yang berkaitan dengan langkah-langkah untuk mendongkrak produksi. Sebagai guru petani, Penyuluh Pertanian penting memahami dan mengenali apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan para petani.

Hal ini penting dicermati, karena selain para Penyuluh Pertanian sebagai guru nya petani beserta keluarga nya, Penyuluh Pertanian pun dituntut untuk dapat jadi "juru penerang" kehidupan para petani. Ibarat "suluh", para Penyuluh Pertanian berkewajiban merubah kegelapan hidup petani menjadi semakin cerah dan ceria.

Lebih jauh dari itu, pada jaman nya Penyuluh Pertanian telah dikukuhkan pula oleh masyarakat selaku "problem solver". Penyuluh Pertanian dianggap sebagai orang yang serba tahu dan serba mengerti atas seabreg masalah yang dihadapi masyarakat, khusus nya yang berkaitan dengan aspek sosial ekonomi mereka.

Akibat nya, para Penyuluh Pertanian, bukan hanya tampil sebagai sumber informasi terkait dengan soal-soal budidaya pertanian, namun juga menjadi tempat bertanya masyarakat terhadap masalah kehidupan yang ada di sekitar nya. Pokok nya, Penyuluh Pertanian dinilai sebagai orang yang serba tahu.

Namun begitu, tidak selama nya kehidupan para Penyuluh Pertanian terekam menyenangkan. Penyuluh Pertanian sering dihadapkan pada kondisi yang memilukan dan mengenaskan. Salah satu nya, ketika Pemerintah menerapkan regulasi setingkat Undang Undang tentang Pemerintahan Daerah.

Beberapa waktu setelah Undang Undang No. 23/2014 diterapkan, dunia Penyuluhan menjadi porak poranda. Kelembagaan Penyuluhan setingkat Eselon 2, baik di Provinsi mau pun Kabupaten/Kota dibubarkan. Penyuluh Pertanian banyak yang sedih karena "rumah besar" nya sudah tidak ada lagi.

Dunia Penyuluhan Pertanian pun seperti yang kehilangan marwah. Suasana ini sempat berlangsung dalam beberapa tahun. Untung nya, beberapa saat kemudian Pemerintah melahirkan kebijakan yang "merangkul" kembali peran Penyuluhan Pertanian dalam pembangunan pertanian yang lebih nyata dan memposisikan Penyuluh Pertanian sebagai "prime mover" kegiatan.

Terbit nya Peraturan Presiden No. 35 Tahun 2022 tentang Penguatan Fungsi Penyuluhan Pertanian, semakin memperjelas sikap Pemerintah terhadap Penyuluhan Pertanian. Sinyal Kebangkitan Penyuluhan Pertanian, seperti nya sudah mulai menyala menyala dalam dunia pembangunan pertanian.

Pertanyaan nya adalah sampai sejauh mana Perpres ini akan mampu menggerakan para Kepala Daerah agar mereka pun mulai peduli terhadap perkembangan Penyuluhan Pertanian ke depan. Kita ingin supaya Gubernur dan Bupati/Walikota pun memiliki kecintaan yang mendalam terhadap Penyuluhan Pertanian.

Yang dikhawatirkan ternyata sekarang ini, para Kepala Daerah lebih tertarik untuk menghadapi Pemilihan Umum serentak tahun 2024 ketimbang memberi perhatian serius terhadap terbit nya Perpres diatas. Di benak para Kepala Daerah, yang disebut dengan "Pesta Demokrasi" adalah segala nya.

Kerisauan ini wajar terjadi, karena tanpa ada keberpihakan Kepala Daerah terhadap Penyuluhan Pertanian, boleh jadi yang nama nya penguatan fungai Penyuluhan Pertanian, lebih mengedepan sebagai pemanis pidato para pejabat ketimbang upaya nyata untuk mensejahterakan petani.

Penyuluh Kuat Pertanian Hebat, tentu bukan hanya sebuah jargon. Kita percaya, pernyataan Menteri Pertanian diatas, bukan hanya sekedar membuat harapan, namun yang lebih penting lagi adalah bagainana kalimat tersebut dapat diwujudkan dalam kiprah nyata di lapangan. Semoga menjadi kenyataan.

Sumber : KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT