Fapet UGM Gelar Seminar Nasional Ulat Sutera

Senin, 21 Oktober 2019, 20:57 WIB

Peluang Lebar Budi Daya Ulat Sutera, diseminarkan Kamis (17/10) di Auditorium Drh. R. Soepardjo, UGM. | Sumber Foto:Dok UGM

AGRONET --  Fakultas Peternakan UGM menyelenggarakan Seminar Nasional Ulat Sutera pada Kamis (17/10) lalu di Auditorium Drh. R. Soepardjo. Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis Fapet UGM yang ke-50 atau Lustrum X.

Dekan Fapet UGM, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., menyatakan bahwa pemilihan topik ini karena melihat peluang bahwa peternakan ulat sutera selama ini ditinggalkan. Para akademisi serta masyarakat Indonesia, menurutnya, tidak banyak yang memandang potensi dari ulat sutera, baik secara ekonomi maupun keilmuan.  “Seminar ini mencoba membuka pikiran dari masyarakat tentang potensi ulat sutera tadi,” ujarnya.

Sukirno, S.Si., M.Sc., Ph.D., pakar ulat sutera liar, menyatakan saat ini 95 persen dari kebutuhan ulat sutera Indonesia merupakan hasil impor, sementara kebutuhan sutera Indonesia per tahun adalah 900 ton. Padahal, di Indonesia banyak terdapat ulat sutera, utamanya yang liar, tepatnya terdapat sekitar 42 jenis. Ia mengungkapkan bahwa pada awalnya ulat ini dianggap hama oleh masyarakat. Namun, setelah diteliti ulat ini ternyata memiliki banyak manfaat.

“Ketika menjadi ulat, walau kelihatannya memakan daun, ia dapat meningkatkan produktifitas pohon yang ditempatinya. Lalu, konon bagian dalamnya bisa digunakan untuk sutera, sementara bagian luarnya bisa untuk aksesori. Ulat ini biasanya dianggap merugikan, padahal itu karena tidak bisa memanfaatkannya saja,” papar Dosen Biologi UGM ini.

Sukirno mengungkapkan di Indonesia sudah ada yang bisa memanfaatkan ulat sutera liar ini untuk yang jenis samia. Mereka adalah UMKM dari Kulonprogo yang sudah bisa memanfaatkannya untuk dijadikan kain sutera atau barang-barang aksesori lainnya.

Sementara itu, Dr. H. Amran Mahmud, S.Sos., M.Si., Bupati Wajo, Sulawesi Selatan, menyatakan di daerahnya sudah sejak tahun 50-an sudah terkenal akan budi daya ulat sutera, utamanya yang jenis murbei. Namun, ia menyebut produksinya hanya bisa memenuhi 3 ton dari 900 ton tadi. Amran bercerita pengalamannya mengunjungi peternakan ulat sutera di Thailand. Ia menyatakan bahwa luas lahan di sana hanya sebesar 2 hektare, namun bisa menyejahterakan para pekerjanya.

Ketika Amran bertanya kepada pengurus lahan tersebut, ternyata ketika awal memulai bisnis ini, mereka berlatih budi daya dari Indonesia, tepatnya di salah satu daerah di Sulawesi. Tak pelak, Amran mengungkapkan bahwa dirinya menangis ketika mengetahui hal tersebut. “Bisa jadi daerah yang mereka maksudkan itu dari Wajo. Namun, jika kita melihat sekarang jumlah produksi kami jauh di bawah mereka,” ungkapnya.

Oleh karena itu, salah satu tujuan Amran ketika ia diangkat menjadi Bupati Wajo tujuh bulan lalu adalah untuk mengembalikan kejayaan Sutera Wajo. “Saya mulai dengan hal sederhana dengan mewajibkan para PNS di Wajo untuk memakai sutera tiap hari Kamis,” sebutnya.

Selain itu, saya juga berusaha secara aktif untuk berkomunikasi pada para ilmuwan untuk meminta pendapat terkait masalah ulat sutera dari hulu ke hilir. “Ini adalah peluang bagi kami, masyarakat Wajo, serta Indonesia untuk menggairahkan budi daya ulat sutera,” pungkasnya.(234)