Bangun Ketahanan Pangan di Masa Pandemi, Faperta UNSOED Kenalkan Teknologi Superbodi

Senin, 11 Mei 2020, 15:31 WIB

Alih teknologi Superbodi kedelai, dilaksanakan di lahan petani Wlahar Wetan, merupakan bagian dari program pendampingan Desa Binaan Faperta Unsoed tahun 2020. | Sumber Foto:Dok Faperta Unsoed

AGRONET --  Perjuangan masyarakat internasional termasuk Indonesia dalam menanggulangi pandemi Covid-19 tidak hanya bertumpu pada tenaga kesehatan, tetapi juga pada komitmen semua komponen masyarakat untuk berperan menghentikan penularan virus dengan bertahan di rumah masing-masing selama masa pandemi. Kondisi ini, dapat dijalankan oleh sebagian besar masyarakat pada sektor-sektor umum. Akan tetapi berbeda dengan sektor pertanian. Kebutuhan pangan tak bisa terhenti oleh pandemi.

Justru ketersediaan pangan yang memadai diperlukan untuk menjaga daya tahan tenaga kesehatan yang berjuang di garda depan, maupun masyarakat yang justru pada saat ini perlu menjaga tubuh agar tetap sehat, agar tidak mudah mengalami infeksi virus maupun penyakit lain. Para petani tetap harus bekerja di sawah dan lahan-lahan pertanian demi menyediakan pangan bagi masyarakat. Bertolak dari kondisi tersebut, Faperta Unsoed berkomitmen memberikan dukungan bagi berbagai pihak dalam meningkatkan produksi pangan, guna mendukung ketahanan pangan di masa pandemi.

Fakultas Pertanian / Faperta Unsoed mengenalkan Teknologi Superbodi untuk mendukung ketahanan pangan pada masa pandemi. Teknologi Superbodi dikenalkan oleh Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D dan tim desa binaan Faperta Unsoed yang diketuai oleh Dr. Ir. Agus Sutanto, M.P. bersama anggota yang hadir yaitu Dyah Susanti, S.P., M.P. dan Dina Istiqomah, S.P. M.Sc kepada  para petani desa Wlahar Wetan. Teknologi ini dipraktekkan secara langsung di lapang dengan pembatasan jumlah peserta, penggunaan masker, penerapan physical dan social distancing yang kemudian ditindaklanjuti  dengan alih teknologi melalui video Teknologi Tepat Guna sebagai upaya mengurangi resiko penularan virus covid-19 selama masa pandemi.

Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D mengatakan bahwa Teknologi ini menjawab kekhawatiran para petani yang terlambat panen padi yang ditanam pada musim tanam pertama. Mereka mengeluhkan ketakutan tidak akan bisa panen pada musim tanam kedua jika menanam padi lagi, karena diprediksi akan kekurangan air pada pertengahan fase pertumbuhan tanaman. Beberapa petani melaporkan selama ini peluang panen pada musim tanam kedua hanya sekitar 50% pada lahan-lahan yang terlambat memanen padi yang ditanam pada musim tanam sebelumnya. Artinya, sebagian petani akan mengalami gagal panen akibat kekeringan.

“Pelaksanaan alih teknologi di lapang juga dipilih sebagai upaya meminimalkan penularan virus covid-19 dibandingkan jika dilaksanakan di ruang tertutup. Sinar matahari pagi selama beraktivitas di lahan juga diharapkan menjadi salah satu upaya mengikuti anjuran berjemur untuk menjaga para pengabdi dan peserta alih teknologi semakin sehat”, ungkap Prof .Totok Agung.

Alih teknologi Superbodi kedelai yang dilaksanakan di lahan petani Wlahar Wetan merupakan bagian dari program pendampingan Desa Binaan Faperta Unsoed tahun 2020. Alih teknologi ini mengawali penanaman demplot Superbodi yang diharapkan menjadi sekolah lapang bagi para petani setempat. Istilah Superbodi merupakan akronim dari masukkan benih di pertengahan bonggol/bedogol padi.

Lebih lanjut menurutnya penanaman benih kedelai, kacang hijau ataupun biji palawija lain dengan teknik ini akan mendukung pertumbuhan tanaman karena terjaganya perakaran tanaman yang biasanya terganggu oleh merekahnya tanah akibat kekuarangan air pada musim tanam kedua. Seresah bonggol padi dapat mempertahankan kelembaban tanah di bagian perakaran kedelai dan menjadi cadangan bahan organik sehingga pertumbuhannya menjadi tetap optimal. Biasanya petani menanam  kedelai di sela-sela bonggol tanaman padi musim tanam sebelumnya, sehingga tanaman mengalami kekeringan dan tidak dapat bertahan hingga panen. “Teknologi ini digali dari kearifan lokal petani di beberapa daerah, yang disempurnakan dengan pengaturan jarak tanam sejak pertanaman padi sebelumnya,  penggunaan varietas unggul dan penggunaan biofertilizer”, jelasnya.

Pendampingan teknologi dari Faperta Unsoed kepada para petani di Desa Wlahar Wetan di masa pandemi ini diharapkan mampu membangkitkan semangat petani untuk tetap menjaga kesehatan selama menjalankan perannya sebagai penopang ketersediaan pangan, sekaligus sebagai bentuk sumbangsih lembaga dalam mendukung ketahanan pangan nasional di masa pandemi.(234-dyahS-unsoed.ac.id)