Pakar IPB: Jeroan Ikan Banyak Mengandung Protein dan Lemak Tak Jenuh

Jumat, 27 November 2020, 20:59 WIB

Jeroan ikan lebih banyak dibuang, padahal banyak mengandung protein dan lemak tak jenuh. | Sumber Foto:Dok Istimewa

AGRONET -- Pakar perikanan dari Departemen Teknologi Hasil Perairan (THP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB) Dr Roni Nugraha, M.Sc. menyatakan bahwa jeroan pada ikan banyak mengandung protein dan lemak tak jenuh.

“Khusus untuk jeroan ikan, jikalau kita melihat komposisi kimianya, jeroan banyak mengandung protein dan juga lemak tak jenuh,” kata Roni. Ia mengemukakan bahwa lemak tak jenuh, terutama omega 3 dan omega 9, dapat bermanfaat sebagai anti-inflamasi dalam tubuh.

“Omega-3 misalnya, dapat mencegah penyakit kardiovaskuler dan kalau dikonsumsi oleh bayi atau anak-anak dapat meningkatkan kecerdasan otak,” katanya

Sementara untuk Omega-9, dapat menghambat pembentukan Low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat yang menjadi penyebab pembentukan plak pada pembuluh darah kapiler.

BERITA TERKAIT

Roni mengungkapkan bahwa industri perikanan menghasilkan banyak sekali produk sampingan atau yang biasa disebut by-product. Di antaranya adalah tulang, jeroan, sisik, kepala dan bagian-bagian lain yang bukan merupakan produk utama, termasuk telur ikan.

Menurutnya, kata by-product, sebenarnya bersifat relatif, tergantung jenis industrinya. Dalam industri ikan, organ-organ tersebut lah yang masuk dalam kategori by-product. Namun pada industri kaviar (telur ikan), telur ikan lah yang menjadi produk utama.

Ia menyatakan lebih memilih kata by-product karena organ-organ tersebut sebenarnya masih dapat dimanfaatkan.

Bila dilihat pada komposisi kimianya, berdasarkan sejumlah penelitian, jeroan ikan memiliki manfaat seperti protein dan juga lemak tak jenuh itu.

Namun, diakuinya bahwa jeroan ikan ini termasuk organ yang mudah sekali mengalami pembusukan dikarenakan banyaknya mikroba.

“Sehingga, apabila ingin dimanfaatkan untuk konsumsi manusia, perlu penanganan yang segera setelah dikeluarkan dari tubuh ikan agar tetap segar,” kata Roni Nugraha yang menyelesaikan masternya di Department of Chemical Engineering, Chung Yuan Christian University, Taiwan itu.

Dia mengungkapkan bahwa umumnya, industri ikan tidak menyediakan sumber daya yang dapat digunakan untuk menangani jeroan ikan, sehingga pada akhirnya menjadi lebih banyak dibuang. Kalaupun disimpan, biasanya tidak lagi dalam kondisi segar dan layak untuk dikonsumsi.

“Jadi jeroan ikan ini pada akhirnya lebih banyak dimanfaatkan untuk bahan non-konsumsi, seperti pakan, sumber enzim protease atau diambil minyaknya,” ungkapnya.(234)

BERITA TERKAIT