Live Podcast Estuary Speaks FPIK IPB : Harus Cerdas, Pengelolaan Kekayaan Pulau-Pulau Kecil

Selasa, 24 Agustus 2021, 12:51 WIB

Live Podcast Estuary Speaks Series 5 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, dengan tema “Smart Managing: Pulau-Pulau Kecil Penghela Ekonomi Kelautan dan Perikanan”, (20/08). | Sumber Foto:Dok FPIK IPB

AGRONET --  Indonesia merupakan negara kepulauan yang seharusnya masyarakatnya dikenal sebagai masyarakat bahari. Namun, faktanya, Indonesia justru lebih dikenal dengan negara agraris yang fokusnya adalah daratan. Selain itu, banyak orang yang berfokus hanya pada pulau-pulau besar saja. Sehingga, pulau-pulau kecil kurang diperhatikan. Padahal, pulau-pulau kecil memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan lebih lanjut.

Sejalan dengan hal tersebut, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University menggelar Live Podcast Estuary Speaks Series 5 dengan tema “Smart Managing: Pulau-Pulau Kecil Penghela Ekonomi Kelautan dan Perikanan”, (20/08).

Ummu Salma selaku moderator dalam live podcast ini mempertanyakan istilah dari ‘Smart Managing’. Hal ini dikarenakan istilah tersebut belum banyak dikenal oleh masyarakat pada umumnya. Sehingga, live podcast ini menghadirkan Guru Besar dari Departemen Ilmu dan Teknologi Keluatan (ITK) FPIK IPB University, Prof. Dr. Ir. Dietrich G. Bengen, DEA.

Prof Dietrich menjelaskan bahwa smart managing itu merupakan upaya pengelolaan secara berkelanjutan yang berfokus pada tiga pilar, yaitu ekologis, sosial, dan ekonomi. Harus dikelola secara cerdas. Hal tersebut kemudian menjawab pertanyaan Ummu Salma.

“Secara ekologis, dapat terus-menurus mendapatkan sumber daya dari pulau-pulau kecil. Secara sosial, masyarakat yang memanfaatkannya, meningkat kualitas hidupnya. Serta pilar ekonomi mampu meningkatkan kesejahteraan mereka,” ujar Prof Dietrich.

Lebih lanjut Prof Dietrich menyatakan bahwa pulau-pulau kecil ini biasanya memiliki sumber daya alam yang masih terjaga dan sangat prospektif, seperti terumbu karang. Tekanan dari daratan tidak ada karena terletak di daerah terpencil.

“Namun, jika dieksploitasi berlebih dapat berbahaya. Sehingga, perlu dikelola supaya meningkatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia di pulau-pulau kecil,” tegasnya.

Letaknya yang jauh dari pusat kegiatan manusia menyebabkan pulau-pulau kecil kurang mendapatkan perhatian. Hal tersebut juga menyebabkan adanya keterbatasan pengawasan terhadap sumberdaya yang ada di pulau-pulau kecil.

Indonesia baru-baru ini mulai melirik pulau-pulau kecil sebagai bagian besar potensi yang tersedia. Sehingga, mulai banyak upaya yang dikerahkan untuk mengelola pulau kecil. Prof Dietrich menyebutkan bahwa ada 16671 pulau yang memiliki nama di Indonesia. Menariknya, 16000 pulau itu adalah pulau-pulau kecil yang memiliki luas <2000>

“Dari pulau tersebut hanya 1766 pulau yang berpenduduk. 14905 tidak berpenduduk. Berpenduduk disini artinya manusia yang memanfaatkan potensi,” jelas Prof Dietrich.

Dalam kaitannya dengan membuka potensi pulau-pulau kecil, Prof Dietrich menuturkan bahwa smart managing juga hadir agar pulau kecil, khususnya kelautan, dapat menjadi daya tarik. Sehingga, hal tersebut membuka akses untuk bisa mengoptimalkan sumber daya yang ada.

“Contohnya kita bisa kembangkan untuk wisata karena keindahan laut. Sehingga, ada investasi disana dan pasti akan membuka akses menuju pulau-pulau kecil. Sehingga, ini bisa mendorong orang-orang untuk membangun sosial dan ekonomi,” tandasnya.

Memanfaatkan sumber daya secara optimal artinya memanfaatkan secara berkelanjutan. Sehingga, manusia dapat terus mendapatkan manfaatnya saat kita perlukan. Pendekatan daya dukung suatu ekosistem sangat penting dilakukan untuk kelestarian pulau-pulau kecil.

“Pengelolaan harus cerdas. Saat pulau-pulau kecil sudah menguntungkan, perlu tetap diperhatikan kapasitas atau daya dukung ekosistem,” ungkapnya.

Prof Dietrich menegaskan Kembali bahwa karena adanya pemanfaatan maka sumber daya di pulau-pulau kecil harus dikelola. Adanya kegiatan pemanfaatan pasti akan memunculkan masalah. Sehingga, smart managing dibutuhkan agar pengelolaan dapat dilakukan secara cerdas agar sumber daya tetap lestari.

“Pengelolaannya pun juga berbeda-beda tergantung karakteristik dari pulaunya,” tutup Prof Dietrich. (Annisa Dinulislam. fpik.IPB/234)