Balitbangda Provinsi Papua Barat dan Fahutan UNIPA Berkolaborasi Membuat PUP di Hutan Gunung Meja

Minggu, 16 Januari 2022, 15:11 WIB

Balitbangda Provinsi Papua Barat dan Fahutan UNIPA Berkolaborasi Membuat PUP di Hutan Gunung Meja | Sumber Foto:BALITBANGDA

AGRONET -- Kawasan Hutan Gunung Meja merupakan salah satu aset penting bagi warga Kota Manokwari. Keberadaan kawasan ini telah berkontribusi pada setiap detik hembusan nafas dan kebutuhan air minum penghuni ibukota Provinsi Papua Barat ini.

Karena itu, guna memastikan fungsi ekologis dan hidrologinya tidak terganggu, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Papua Barat bekerjasama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Papua (Fahutan UNIPA) mulai mengintensifkan kolaborasi dengan sejumlah pihak melakukan kajian dan penelitian ilmiah.

 

Salah satu kegiatan yang sudah berjalan adalah penelitian dinamika hutan tropis menggunakan Petak Ukur Permanen (PUP). Penelitian ini bertujuan untuk melihat dinamika perkembangan kondisi hutan dari waktu ke waktu. Hasilnya diharapkan akan memberikan informasi ilmiah dan rekomendasi atau informasi tentang intervensi apa yang akan dilakukan, baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat.

“Gunung Meja juga memberikan nilai estetika, spiritual, pendidikan dan nilai ilmiah tapi juga inspirasi dalam kreativitas dan tentunya ekonomi. Sebagai warga Manokwari, kita harus bangga dan harus menjaga dan lindungi untuk masa depan anak-cucu kita,” ujar Kepala Balitbangda Provinsi Papua Barat, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si, FLS ketika berkunjung ke kawasan hutan Gunung Meja Manokwari, didampingi Kepala Bidang Ekonomi dan Pembangunan Haerul Arifin, S.Hut, M.Si; Kepala Sub Bidang Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup, Jimmy Oruw, S.Hut, M.Si; Koordinator Lapangan PUP dari Fakultas Kehutanan UNIPA, Jimmy Wanma, S.Hut, M.App.Sc dan sejumlah staf Balitbangda Papua Barat serta mahasiswa kehutanan UNIPA, pada Sabtu (15/1/2022).

"Koordinator Lapangan PUP dari Fakultas Kehutanan UNIPA, Jimmy Wanma, S.Hut, M.App.Sc (belakang) saat mendampingi Kepala Balitbangda Papua Barat" (dok.balitbangdamedia_pb)

Professor Heatubun menjelaskan, Balitbangda Papua Barat sebagai lembaga riset dan inovasi di daerah akan memainkan perannya dalam menjaga hutan Gunung Meja sebagai harta tak ternilai dan modal alam kita. PUP adalah aset dan langkah strategis dalam mengaplikasikan metode penelitian ilmiah yang digunakan oleh negara-negara yang memiliki hutan tropis untuk memastikan kontribusi hutan tropis bagi kestabilan iklim planet bumi kita.

PUP yang dibangun di Gunung Meja ini akan menjadi bagian dari sistem jaringan petak ukur permanen hutan tropis di dunia. “Kita harus bangga karena hutan Gunung Meja ini juga berperan besar bagi kelangsungan umat manusia di muka bumi, karena data dari hasil time series yang dikirim dari tim PUP Manokwari ke jaringan PUP internasional membantu dalam memahami dinamika hutan dan pengaruhnya terhadap iklim secara global,” jelasnya.

Kepala Sub Bidang Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup Balitbangda Papua Barat, Jimmy Oruw menambahkan bahwa PUP ini bisa menjadi salah satu model fasilitas untuk menskenariokan atau memodelkan pengaruh perubahan iklim terhadap kondisi hutan atau ekosistem sekitar kawasan.

kaban & team

"Didampingi Kepala Bidang Ekonomi dan Pembangunan Haerul Arifin, S.Hut, M.Si; Kepala Sub Bidang Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup, Jimmy Oruw, S.Hut, M.Si; Koordinator Lapangan PUP dari Fakultas Kehutanan UNIPA, Jimmy Wanma, S.Hut, M.App.Sc dan sejumlah staf Balitbangda Papua Barat serta mahasiswa kehutanan UNIPA" (dok.balitbangdamedia_pb)

Dengan PUP ini, bisa dilihat dinamika yang terjadi dalam hutan normal atau tidak. Ini harus diketahui karena akan berdampak pada wilayah di sekitarnya. Hasilnya akan menjadi rekomendasi ke pemerintah daerah untuk mengatur model pengelolaan yang tepat.

“Secara kewenangan berdasarkan status pengelolaan hutan, kawasan hutan ini berada dalam kewenangan BKSDA karena masih berstatus Taman Wisata Alam, jadi kita akan berkolaborasi juga dengan pengelola Kawasan BKSDA untuk tindaklanjutnya,” tandasnya.

Ditambahkan, kawasan Gunung Meja ini penting dan memiliki hubungan yang kuat dengan masyarakat di Kota Manokwari. Karena itu, kebijakan daerah yang didasari oleh hasil riset ini sangat penting dalam rangka pengelolaannya di masa depan untuk memastikan kontribusi bagi ekonomi lokal maupun bagi kemaslahatan umat manusia.

"Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Papua Barat, Prof. Heatubun saat meninjau Hutan Gunung Meja yang merupakan Hutan Tropis di Kabupaten Manokwari" (dok.balitbangdamedia_pb)

Sementara itu, Koordinator Lapangan (Korlap) PUP Fakultas Kehutanan UNIPA, Jimmy Wanma menjelaskan PUP Gunung Meja ini sudah dibangun sejak Tahun 2016 bekerjasama dengan pihak the Royal Botanic Gardens Kew, UK (Inggris) dan melibatkan Fahutan UNIPA serta Balai Litbang Kementerian Kehutanan Republik Indonesia waktu itu.

“Jadi survei ke lokasi kali ini bersama Kepala Balitbangda Papua Barat adalah untuk melihat dinamika hutan gunung meja yang terjadi dalam 5 Tahun terakhir disamping mengecek progress aktivitas riset yang sedang berjalan dan upaya pemeliharaan PUP itu sendiri,” Ujar Jimmy Wanma yang juga sebagai Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fahutan Unipa.

Adapun luas areal yang digunakan untuk membangun PUP ini adalah 100 x 100 (meter), dengan membuat sebanyak 25 sub plot yang masing-masing berukuran 20 x 20 meter. Plot ini menggunakan metode Rainfor, yaitu metode pengukuran yang dikembangkan lembaga riset yang membatasi mengukur pohon berdiameter di atas 10 cm.

“Setelah 5 Tahun, kami kembali lagi untuk menghitung data time seriesnya. Melihat hasil perkembangan pekerjaan yang sudah dikerjakan 5 tahun lalu,” jelasnya.

Setelah diamati, lanjut Jimmy Wanma, ternyata dalam lima tahun, banyak dinamika yang terjadi. Pohon yang sebelumnya belum 10 cm, sekarang diamaternya sudah lebih dari 10 cm. Tapi ada juga pohon yang pernah diukur,sekarang sudah mati karena tumbang. Sehingga diamati lagi penyebabnya tumbangnya pohon-pohon itu.

Selain itu, akan dilakukan juga pengukuran data abiotik, (intensitas cahaya dan aspek kondisi tanah). Juga akan membuat peta penyebaran pohon, peta situasi dan kedudukan PUP dalam kawasan Gunung Meja.

Tim kerja juga, lanjut Jimmy Wanma, akan berkonsultasi dengan BKSDA Papua Barat, membuat papan nama PUP dan mengatur waktu peresmiannya. Harapannya PUP ini akan menjadi salah satu faktor pendukung dalam proses akreditasi Fahutan UNIPA.

"Kepala Balitbangda Provinsi Papua Barat, Prof. Heatubun (atas) bersama Koordinator Lapangan PUP dari Fakultas Kehutanan UNIPA, Jimmy Wanma, S.Hut, M.App.Sc dan sejumlah staf Balitbangda Papua Barat serta mahasiswa kehutanan UNIPA" (dok.balitbangdamedia_pb)

“Petak ukur ini idealnya datanya diambil setiap tahun. Namun baru dilakukan sekarang karena disupport oleh Balitbangda Papua Barat,” ujarnya.

Dari hasil pengamatan lapangan itu, kata Jimmy Wanma, dapat dikatakan bahwa proses alamiah di Gunung Meja masih berlangsung dengan baik. “Walaupun ada 40 pohon yang mati, tapi ada 40 pohon baru juga yang tumbuh,” tandasnya.

Karena itu, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fahutan UNIPA ini berharap dukungan masyarakat dan pihak-pihak terkait untuk bersama mendukung upaya riset dan pengembangan pada kawasan hutan Gunung Meja demi masa depan dan kepentingan bersama menyelamatkan salah satu ikon Kota Manokwari.

 

Sumber:

BALITBANGDA PAPUA BARAT

BERITA TERKAIT