Kelompok Nelayan Bangsring Sukses Mengonservasi Laut

Rabu, 02 September 2020, 20:38 WIB

Kelompok Nelayan Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur | Sumber Foto:Dok Istimewa

AGRONET --  Kawasan perairan Pantai Bangsring  kini telah menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Banyuwangi. Kawasan tersebut adalah basis kelompok nelayan Samudra Bakti yang dikenal secara nasional telah sukses dalam mengonservasi kehidupan bawah laut. Kelompok nelayan ini memperbaiki ekosistem laut dengan mengubah perilaku dan budaya tangkap ikan para nelayan. 

Lebih dari tiga dekade yakni sejak 1975 para nelayan setempat menggunakan potasium dan bom untuk menangkap ikan. Alhasil pada satu titik yakni pada sekitar 2008, pendapatan mereka menurun drastis karena ekosistem bawah laut sekitar desa mereka rusak parah.

Salah satu putera daerah Desa Bangsring - Ikhwan Arief - adalah sosok penggerak yang membantu para nelayan di desanya. Pendekatan personal kepada para nelayan dia lakukan guna merubah pola pikir mereka dalam mencari ikan. Meski membutuhkan waktu hingga 3 tahun, akhirnya nelayan di desa Bangsring sadar dan tidak lagi menggunakan potasium serta bom untuk menangkap ikan. Bahkan, para nelayan di sana menjadi garda terdepan dalam mengonservasi kehidupan bawah laut seperti ikan dan terumbu karang.

"Kami mengubah perilaku dalam menangkap ikan, tadinya menggunakan potasium atau bom ikan menjadi lebih ramah lingkungan. Awalnya banyak yang menentang, tapi kami tidak menyerah. Kami juga menetapkan area konservasi laut seluas 15 KM di mana di area ini tidak boleh ada aktivitas penangkapan ikan," ujar Arief.

Pada tahun 2014, mereka mendapatkan bantuan rumah apung dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Rumah Apung ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Di rumah apung tersebut, para wisatawan bisa diving, snorkeling, atau sekedar bermain dengan ikan-ikan hias yang ada di sana. Nelayan setempat juga menyewakan perahu bagi wisatawan yang hendak menyeberang ke Pulau Tabuhan, sebuah pulau tak berpenghuni yang menawarkan pasir putih bersih dengan kekayaan biota laut yang menawan.

BERITA TERKAIT

Wajah desa Bangsring yang dahulu terpuruk lantaran menjadi pusat penangkapan ikan dengan potasium dan bom, kini menjadi pusat wisata edukasi dan konservasi dengan nama Bangsring Under Water Banyuwangi. 

"Setiap bulan wisatawan yang datang sebanyak 30 – 70 ribu orang. Otomatis, pendapatan nelayan meningkat karena mendapatkan dua penghasilan, baik dari menangkap ikan di laut maupun wisata," kata Ikhwan.

Pemkab Banyuwangi pun mendukung penuh pengembangan destinasi wisata 'Bangsring Underwater'. Promosi-promosi dilakukan, termasuk melalui festival. Sebuah even berkala, Underwater Festival  berlangsung di Pantai Bangsring Berbagai atraksi wisata dan edukasi bahari mewarnai event yang dihelat selama even tersebut, sekaligus menjadi kampanye pentingnya konservasi laut .

Kerja keras dan keberhasilan itupun telah mendapatkan pengakuan secara nasional. Pada saat peringatan hari Lingkungan Hidup 2017, kelompok nelayan Samudra Bakti  memperoleh penghargaan Kalpataru kategori penyelamat lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang diserahkan Menteri LHK Siti Nurbaya kepada ketua kelompok nelayan Ikhwan Arief dan disaksikan langsung oleh presiden Jokowi..

Keberhasilan Kelompok Nelayan Samudra Bakti diharapkan menginspirasi wilayah pesisir pantai lain di Indonesia untuk mengonservasi kehidupan bawah laut dan menjaga ekosistem laut. "Karena, dengan cara ini nelayan bisa menjadi lebih sejahtera," kata Ikhwan.

Kini, kelompok Nelayan Samudra Bakti dipercaya  oleh Kementerian Pariwisata serta Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mendampingi nelayan dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Raja Ampat, Wakatobi, Manokwari, hingga Bawean, untuk melakukan konservasi laut dan pengembangan pariwisata bahari. (234)

BERITA TERKAIT