Forum Pelestari Terumbu Karang Banten Inisiasi Gerakan Rehabilitasi Terumbu Karang

Minggu, 06 Desember 2020, 13:07 WIB

Gerakan Rehabilitasi Terumbu Karang (GRTK) yang digagas oleh Forum Pelestari Terumbu Karang (FPTK) Banten pada akhir November lalu. | Sumber Foto:Dok KKP

AGRONET-- Terumbu karang merupakan sumberdaya laut yang sangat penting bagi kehidupan manusia, baik secara ekologi maupun secara ekonomi. Kekayaan ekosistem terumbu karang adalah asset bagi pembangunan dan kemakmuran bangsa sehingga perlu dijaga dan dilestarikan agar terus memberikan manfaat bagi masyarakat pesisir dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

  

Karenanya, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sangat mengapresiasi Gerakan Rehabilitasi Terumbu Karang (GRTK) yang digagas oleh Forum Pelestari Terumbu Karang (FPTK) Banten pada akhir November lalu.

Plt. Direktur Jenderal PRL TB. Haeru Rahayu yang akrab disapa Tebe menyampaikan luas area terumbu karang di Indonesia mencapai 2,5 juta hektar, dengan jumlah luas tertinggi berada di Sulawesi, Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara dan Papua. Menurutnya, dibutuhkan peran aktif seluruh komponen masyarakat termasuk pemerintah daerah untuk melakukan pengendalian kondisinya.

BERITA TERKAIT

“Tentu saya sangat apresiasi kegiatan ini. Ini menunjukkan masyarakat Banten khususnya di wilayah Kabupaten Pandeglang punya komitmen, dalam mendukung konservasi dan keanekaragaman hayati laut,” ujar Tebe di Jakarta.

Sementara Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Ditjen PRL, Andi Rusandi menyampaikan bahwa pengelolaan terumbu karang membutuhkan sinergi, dukungan, komitmen, dan partisipasi aktif dari berbagai pihak agar dapat dirasakan manfaatnya  secara lestari dan berkelanjutan

“Kerusakan terumbu karang di Indonesia saat ini cukup besar karena faktor alam dan manusia, tapi Indonesia punya ketahanan terumbu karang yang lebih baik” jelas Andi.

Berdasarkan hasil riset Universitas di Australia bekerjasama dengan WWF Regional, perairan di Indonesia mempunyai daya lenting 41 persen dibandingkan negara lain yang berkisar 10 persen.

“Maka dari itu terumbu karang jadi satu kekuatan bagi Indonesia yang harus dikelola,” tegasnya.

 Hal senada dikatakan Kepala LPSPL Serang, Syarif Iwan Taruna Alkadrie. Kegiatan yang digelar bersama FPTK Banten dinilainya dapat membangun sinergitas program dan kesinambungan kegiatan pada tahun-tahun mendatang.

“Upaya pelestarian terumbu karang ini perlu terus ditingkatkan, apalagi terumbu karang  berperan penting dalam kelestarian ekosistem pesisir dan menjadi sistem penyangga kehidupan wilayah pesisir dan sebagai tempat memijah dan mencari makanan berbagai biota laut,” tutur Iwan.

Sementara itu, praktisi konservasi laut Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK) Mumu Muamalah menegaskan penanganan dan pengelolaan  pesisir dan laut harus terintegrasi, mulai terumbu karang, padang lamun dan mangrove.

“Setahu saya, di pesisir dan laut Banten ini belum menemukan keterpaduan pengelolaan pesisir laut yang meliputi tiga hal tersebut. Selain itu, program dan kegiatannya harus berkelanjutan,” ujar Mumu.

Dalam forum yang sama, Koordinator FPTK Banten, Nurwata Wiguna menyampaikan Rencana Strategis Gerakan Rehabilitasi Terumbu Karang (GRTK) Panca Warsa I (2021-2025) yang akan menjadi pedoman aksi lima tahun ke depan.

“Hari ini, draft Renstra GRTK ini kami sosialisasikan kepada anggota forum. Insyaallah, draft ini akan dibahas secara detil bersama dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga forum pada acara musyawarah, pertengahan Desember 2020 mendatang,” imbuh Nurwata. (234.Humas PRL)

BERITA TERKAIT