Gapoktan Beji Makmur, Tembus Pasar Dua Benua

Senin, 12 Juli 2021, 10:13 WIB

Buah naga oruduksi Gapoktan Beji Makmur yang sudah dipacking dan siap diekspor. | Sumber Foto:Dok Ditjen hortik kementan

AGRONET --  Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto dalam bimbingan teknis (bimtek) bertajuk Model Pengembangan Kampung Buah Naga Organik secara daring, awal bulan kemarin memaparkan mengenai Kampung Hortikultura. Sumber budidaya hortikultura yang terkonsentrasi. 

Pada saat bimtek tersebut, Ketua Gabungan kelompok tani (Gapoktan) Beji Makmur Kelurahan Beji Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri, Jawa Tengah, Wahyu Tulus Nugroho menyampaikan keprihatinannya bahwa dalam perdagangan hasil pertanian, petani dalam posisi lemah dan tidak memiliki nilai tawar. 

“Petani itu tidak memiliki nilai tawar. Saat panen dan dijual, kalau tidak laku, dibeli dengan harga murah. Karena itu, senjata yang bisa digunakan untuk nilai tawar adalah sertifikasi organik,” ujarnya.

Beruntung petani Gapoktan Beji Makmur telah berhasil mendapatkan sertifikasi organik komoditas hortikultura pada 2018. Ia mengakui, salah satu senjata yang bisa digunakan petani untuk menjadi nilai tawarnya adalah sertifikasi organik. Gapoktan Beji Makmur merupakan salah satu kelompok tani yang sukses membudidayakan buah naga secara organik.

Mereka memanfaatkan lahan pekarangan untuk membudidayakan buah naga organik. Meskipun sempit, tapi saat musim kemarau kering, lahan pekarangan ini dapat sangat dimaksimalkan. Alhasil, pendapatan pun bisa meningkat.

Budidaya buah naga organik di Kabupaten Wonogiri banyak tersebar di pekarangan dan di sepanjang tepian jalan desa. Hampir di setiap pekarangan rumah warga dan di tepi jalan desa, terutama di wilayah Beji, Kecamatan Nguntoronadi.

Posisi wilayah desa yang berada di areal perbukitan cukup sulit untuk mendapatkan lahan yang berupa hamparan. Inisiasi penanaman buah naga pada awalnya adalah untuk pemberdayaan masyarakat. Namun tak dikira ternyata manfaatnya sangat terasa bagi masyarakat, terutama dari sisi peningkatan nilai tambah maupun peningkatan penghasilan.

Hampir semua keluarga di Desa Beji menanam buah naga organik dengan menggunakan pupuk kandang dan pupuk organik cair yang diproduksi sendiri oleh petani. Setiap pekarangan rumah rata-rata memiliki 5 sampai 10 tiang beton penyangga pohon buah naga dan tiap tiang berisi 4 – 5 pohon. Total sekitar 300 petani buah naga, 97 di antaranya sudah bersertifikasi internasional.

Wahyu menambahkan untuk lahan yang sudah ada jumlah produksi buah naga ditaksir mencapai 15-16 ton per musim. Semuanya sudah standar organik untuk pasar Eropa.

“Jumlah itu akan terus ditambah untuk memenuhi permintaan pasar mancanegara yang belum terpenuhi seluruhnya yaitu sebesar 1 ton perminggu,” bebernya.

Buah naga dari kawasan ini telah menjadi produk unggulan ekspor ke Jerman. Setidaknya sekitar 750 kg per minggu, buah naga organik rutin dikirim ke Jerman.

Kemitraan dengan eksportir buah naga semakin meningkatkan pendapatan petani karena biasanya buah naga yang dijual di pasar lokal dengan harga fluktuatif, bergantung pada kondisi pasar. Sedangkan untuk harga buah naga ekspor mencapai Rp. 20.000/kg dengan harga tetap sesuai perjanjian kerjasama dengan eksportir.

“Kami mengonsepkan pekarangan yang tadinya hanya pelengkap rumah diubah menjadi lahan yang menghasilkan. Permintaan ekspor buah naga organik mencapai 250 kilogram per pekan. Adapun harganya berada pada kisaran Rp 20.000 per kilogram,” tandasnya.

Pada 2018-2019, Gapoktan Beji Makmur berhasil mengekspor 2,5 ton buah naga organik. Buah naga asal Kelurahan Beji dan Desa Semin, Kecamatan Nguntoronadi telah menembus pasar ekspor. Gapoktan Beji Makmur mengekspor buah naga yang telah bersertifikat organik melalui PT Mega Inovasi Organik, Depok. Ekspor perdana ke Jerman dimulai akhir November 2018.

Pada 2021, Kelurahan Beji berhasil menjadi Desa Wisata Organik. Selanjutnya, Gapoktan Beji Makmur telah menjadi wahana pembelajaran, dibuktikan dengan kunjungan dari berbagai pihak.

Gapoktan Beji Makmur  juga sudah melakukan persiapan untuk memasok (ekspor) buah mangga organik ke pasar Eropa dan Amerika Serikat. Sebab, permintan akan buah-buahan organik di pasar internasional memiliki peluang sangat besar.

“Karena kami (Gapoktan) telah memiliki sertifikat organik berstandar Eropa dan Amerika Serikat untuk komoditi mangga, petai, pisang, alpukat, sawo, dan buah naga,” ungkap Wahyu.

Menurutnya, permintaan buah mangga organik dipasar dua benua itu cukup besar. Dalam satu pekan kalangan petani di daerahnya diminta memasok buah mangga sekitar 200 kilogram. Namun, sampai saat ini pihaknya belum mampu memenuhi kuota tersebut. Pada Desember 2018 lalu, baru dapat memasok buah mangga organik sekitar 40 kilogram ke Jerman dan kiriman tersebut baru sebatas sampel saja.

“Karena musim mangga berlangsung tidak lama, hal ini yang menjadi kendala petani, dimana mereka tidak mampu memenuhi kuota permintaan pasar. Untuk jenis mangganya seperti arumanis dan manalagi. Harga perkilonya Rp 16 Ribu,” ucapnya.

Oleh sebab itu, musim mendatang mereka ingin pasokan tembus target. Sehingga saat ini kalangan petani organik bersiap diri untuk meningkatkan kualitas buah serta melindunginya dari serangan lalat buah

“Sertifikat organik yang kami ini dari Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) Control Union untuk pasar Eropa dan Amerika. Jadi, kalau nanti ada permintaan, kami sudah siap,” ujarnya.(234)