Lewat Sekolah Lapang, Polbangtan Kementan Perkuat Hilirisasi Pertanian Organik

Jumat, 02 Juni 2023, 11:42 WIB

Sekolah Lapang | Sumber Foto:Polbangtan Manokwari

AGRONET -- Diseminasi pemanfaatan pupuk organik sebagai wujud dari antisipasi kelangkaan pupuk kimia, kembali digencarkan Politeknik pembangunan pertanian (Polbangtan) Manokwari dikalangan petani Desa Sumber Boga, Distrik Masni, Papua Barat.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan bahwa kunci meningkatkan produksi pertanian adalah memelihara kesuburan tanah. Kesuburan tanah dapat dipelihara secara berkelanjutan dengan menggunakan pupuk organik. 

“Perbaiki pupuk kita sekarang jangan pakai pupuk kimia saja, tetapi lebih banyak pupuk organik. Besok kita berharap produksi kita akan meningkat jauh bahkan melonjak dari sebelumnya. Kalau mau pakai pupuk kimia tidak perlu banyak, sehingga efek sampingnya bisa kita kurangi,” ujar Syahrul.

Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi yang mengatakan bahwa pemupukan merupakan komponen utama pada sebuah tanaman. Karena itu diperlukan keberimbangan penggunaan pupuk.

“Salah satu diantaranya, menggiatkan penggunaan pupuk organik dan melakukan pemupukan secara berimbang. Langkah ini penting dilakukan untuk menghasilkan padi berkualitas”. jelas Dedi.

“Hadirnya Gerakan tani pro organik (Genta Organik) ditujukan memanfaatkan sepenuhnya pupuk hayati, pembenah tanah dan pestisida nabati, mari terus genjot produktivitas pertanian,”sebutnya.

Melalui program Sekolah Lapang (SL) Genta Organik yang berlangsung, masyarakat diajarkan pembuatan pupuk organik cair, pupuk organik padat, pembuatan pupuk kascing (pupuk kompos cacing tanah) dan pengendalian hama penyakit pada tanaman menggunakan pestisida nabati.

Diikuti sebanyak 50 orang yang merupakan gabungan dari beberapa kelompok tani, pelaksanaan SL mendorong peningkatan produksi pertanian yang berdampak pada kesejahteraan petani.

Direktur Polbangtan Manokwari, Purwanta menyampaikan bahwa transfer ilmu kepada petani dilakukan atas dasar keprihatinan pada penggunaan pupuk kimia yang banyak menyebabkan degredasi tanah sehingga menyebabkan tanah menjadi kering dan keras. Sehingga diperlukan pemanfaatan pupuk dan pestisida dari bahan organik untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia.

“Pada SL kali ini, selain memperhatikan aspek hulu yaitu proses budidaya, petani juga diajarkan pentingnya aspek hilir setelah produksi yaitu melakukan inovasi berupa pengolahan hasil pertanian yang dapat menambah nilai jual dipasaran,” kata Purwanta

Lanjut Purwanta, kadang kala produksi sayur dan buah yang melimpah menyebabkan sulit terjual dipasaran, sehingga petani diajarkan teknik pengolahan semangka, cabai dan tomat yang menjadi komoditas andalan petani Kampung Sumber Boga agar dapat meningkatkan daya jual dan daya simpan.

 

Sumber :

BPPSDMP Kementan