Pertamina EP Resmikan Panen Perdana Pertanian SRI Organik Desa Bajo

Senin, 17 Juni 2019, 16:14 WIB

PT Pertamina EP (PEP) Asset 4 Cepu Field panen perdana csr pertanian SRI Organik bersama Kelompok Tani Bina Alam Sri di Desa Bajo Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora. | Sumber Foto:Dok Pertamina

AGRONET -- Berbekal sepatu boots, belasan petani anggota kelompok tani Bina Alam Sri di Desa Bajo, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora membersihkan kotoran ternak di beberapa kandang milik warga belajar. Bau tidak sedap kotoran ternak tersebut tidak melunturkan geliat petani organik untuk menurunkan biaya produksi hingga 48% atau setara Rp 6 juta per hektar. Di hari itu sejumlah 30 karung kompos sudah siap digunakan di lahan pertanian.

Dalam kegiatan CSR nya, PT Pertamina EP (PEP) Asset 4 Cepu Field, melalui proses penggalian potensi sumberdaya masyarakat dan SDA serta penyamaan visi dan misi dimulai sejak 4 Juni 2018 dan dilanjutkan dengan pelatihan pertanian sehat ramah lingkungan berkelanjutan (PSRLB) di bulan berikutnya, pendampingan dan monitoring rutin dilakukan setiap bulannya agar kelompok belajar dan tercapai kualitas pemberdayaannya.

Kegiatan tersebut memunculkan gagasan dan terbangunnya pertanian SRI Organik bersama Kelompok Tani Bina Alam Sri di Desa Bajo Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora.

Konsep “Organik Untuk Bumi” diyakini kelompok bahwa alam perlu diolah dengan berwawasan lingkungan secara berkelanjutan. Sebuah revolusi hijau tampak sudah mengubah mindset dan perilaku para petani Bajo. Surat, Ketua Kelompok Tani Bina Alam Sri, menuturkan bahwa hasil ikhtiar para petani organik mulai terlihat nyata.

“Sawah yang sebelumnya menggunakan pupuk kimia hanya bisa menghasilkan 7 ton per hektar. Setelah mengenal pertanian organik, kini hasilnya bisa sampai 8-9 ton per hektar, “ ungkapnya.

Saat panen perdana bulan Januari 2019 lalu, setidaknya 11 orang anggota kelompok dapat menikmati hasil produksi maksimal seluas 2,4 hektar. Bupati Blora Djoko Nugroho yang sempat hadir ke panen perdana berharap ke depan hasilnya bisa ditingkatkan lagi. “Saya yakin Blora akan menjadi lumbung padi yang lebih besar dan menyehatkan, saya ingin Desa ini menjadi rujukan petani dari wilayah lain yang ingin belajar organik, “serunya.

Sektor pertanian memang diakui merupakan tiang ekonomi Kabupaten Blora yang juga menjadi lumbung pangan di Provinsi Jawa Tengah, dengan harapan besar seperti itu, kelompok semakin berkembang dan dituntut bergerak cepat. Surat mengatakan menjelang musim panen kedua setelah lebaran ini sudah mencapai 4,2 hektar lahan yang digarap organik.

“Perkembangannya mencapai dua kali lipat dan 21 anggota semakin kreatif dan inovatif memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar lingkungan karena kebutuhan pupuk disediakan secara mandiri. Per hektar kira-kira kami membutuhkan 7-10 ton pupuk sebagai pondasi,” terangnya.

Keunggulan dari budidaya padi organik atau lebih dikenal dengan SRI Organik adalah penggunaan air yang lebih hemat, pertumbuhan anakan padi yang menjadi lebih banyak dan sehat, serta tanah yang berubah menjadi gembur dan subur. “Tertinggi kami sampai 103 anakan/batang, sedangkan kalau sistem konsvensional hanya 25-30 anakan,” sebut Surat.

Setelah setahun menerapkan sistem SRI organik, rupanya Kelompok Bina Alam Sri membawa dampak peningkatan minat dan niat dari petani yang masih menjalankan sistem konvensional. Nilai potensi sawah organik mulai dilirik oleh 37 calon warga belajar baru. “Dengan begitu kami optimistis dapat memproduksi hingga 10 hektar lahan sawah organik di tahun ini hingga 2020,” ujar Surat.

Ia berharap, pemerintah dapat mendukung aktivitas kelompok tani ini dalam menerapkan pertanian organik, seperti yang dilakukan Pertamina EP Asset 4 Cepu Field. Tidak hanya itu, kelompok juga berharap adanya bantuan pengadaan sapi untuk dipelihara bersama dan kemudian diolah kotorannya menjadi pupuk organik.

“Semakin luasnya lahan yang diproduksi, kami juga akan semakin membutuhkan bahan-bahan alami untuk keperluan pupuk organik. Maka kami butuh bantuan dari pemerintah setempat. Tahun ini kami sudah diagendakan mendapat mesin chopper untuk mencacah limbah organiknya dari Pertamina,” harap Surat.

Acara tersebut berlangsung di Balai Desa Bajo yang dilanjutkan dengan panen di sawah kelompok dengan total seluas 2,6 ha.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Asset 4 General Manager Agus Amperianto, Cepu Field Manager Afwan Daroni, Asset 4 L&R Manager M. Ibnu Wardhana. Turut mengundang Bupati Blora Djoko Nugroho beserta Forkopimda Blora, Kepala Dinas Pertanian & Ketahanan Pangan Blora, Kepala Dinas Kesehatan Blora, Muspika Kedungtuban dan Kepala Desa Bajo selaku tuan rumah.

Agus Amperianto mengatakan bahwa dengan program pertanian sehat ramah lingkungan berkelanjutan (PSRLB) yg terdiri dari budidaya padi SRI organik, sayuran organik dan tanaman obat keluarga (toga) sebagai alternatif pengobatan ini dapat bermanfaat bagi peningkatan ekonomi masyarakat Bajo.

"Kami berharap dengan adanya program CSR ini dapat meningkatkan pendapatan dengan penghematan biaya dan meningkatkan kemandirian. Konsep organik dapat diterapkan dan bahan-bahan nya juga mudah ditemukan," ujarnya.

Sebelumnya di bulan Juli 2018, Pertamina memberikan pelatihan PSRLB kepada 47 orang peserta desa Bajo selama 4 hari. Sampai saat ini pendampingan masih intens dilakukan dan kelompok tampak giat menerapkan konsep organik dengan praktek tanam tunggal, membuat kompos organik, mikro organisme lokal (mol), sampai pada pengobatan herbal untuk keluarga.

Awalnya di Desa Bajo terdapat dua orang anak yang kurang beruntung hidupnya, selama tujuh tahun didiagnosis lumpuh. Orang tuanya sudah berobat kemana-mana dan mengelurkan biaya yang besar namun tidak membawa perubahan. Sampai suatu saat mendengar adanya pengobatan herbal yang difasilitasi Pertamina, maka orang tua anak tertarik untuk mencobanya. Setelah dua bulan berjalan pengobatan, sudah terjadi perkembangan anak tersebut sudah bisa duduk, sudah bisa berjalan dengan bantuan orang tua, kepalan tangan nya sudah bisa membuka dan menutup, hingga berinteraksi seperti orang biasa. 

Sementara itu, Afwan Daroni mengapresiasi antusias dan semangat para warga belajar. “Alhamdulillah produktivitas padi dapat meningkat dan capaiannya baik. Semoga kesehatan Kabupaten Blora dan warga Bajo khususnya juga semakin meningkat dengan adanya beras organik, “ ujarnya.

Ketua Kelompok Bina Alam Sri mengatakan bahwa perkembangan tanaman padi dipandang cepat tumbuh anakannya, “Dengan system SRI organic, pada saat padi berumur 27 hari anakannya sudah berjumlah 32-52 anakan selain akar panjang, banyak, dan berwarna kuning keputihan hingga batang besar dan daun terlihat lebar. Terkait toga, untuk warga yang rutin mengkonsumsi ramuan herbal alhamdulillah sebanyak 86% merasa kesehatannya lebih baik,” ujarnya.

Bupati Blora Djoko Nugroho dalam kesempatan tersebut turut mengapresiasi kegiatan kelompok Bina Alam Sri yang difasilitasi Pertamina. “Kami ucapkan terima kasih kepada Pertamina yang turut meningkatkan produktivitas padi Blora sehingga Blora tetap menjadi lumbung pangan Jawa Tengah, “ungkapnya.

Terakhir, PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu juga ucapkan terima kasih kepada Pemerintah Desa Bajo dan segenap masyarakat Desa Bajo yang turut mendukung kegiatan operasional Perusahaan. Saat ini pemboran Sumur NKT-01TW di Desa Bajo sudah selesai dibor pada tanggal 18 januari 2019 sampai kedalaman 2903 m selama 62 hari. “Kami berharap komunikasi dan dukungan ini dapat terus berjalan kedepannya dengan baik,” tutup Agus. (234)