Kementan - BUMN Pangan Kolaborasi Serap Gabah Petani

Minggu, 28 Maret 2021, 19:47 WIB

Kementan menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak terkait dalam mengamankan produksi gabah/beras petani. | Sumber Foto:Humas BKP Kementan

AGRONET -- Memasuki puncak panen raya padi pada bulan Maret-April, Kementerian Pertanian (Kementan) berkolaborasi dengan BUMN pangan, Perum BULOG dan PT. Pertani untuk menyerap gabah petani. Hal ini sesuai dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang mendorong jajarannya agar terus bersinergi dengan stakeholder baik dari pemerintah maupun swasta dalam rangka menyelamatkan produksi gabah petani. 

Dorongan menyerap gabah petani terus bergulir di berbagai daerah seperti di Jawa Tengah. Pada rakor stabilisasi harga gabah/beras petani, Jumat (26/03), Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan Agung Hendriadi kembali menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak terkait dalam mengamankan produksi gabah/beras petani. 

“Pemerintah harus hadir di tengah-tengah petani manakala harga gabah jatuh saat panen raya, yaitu dengan melakukan pembelian atau penyerapan baik gabah maupun beras, baik secara PSO maupun komersial yang tentunya dilakukan oleh kawan-kawan BUMN Pangan seperti Perum Bulog dan PT. Pertani, maupun pelaku usaha perberasan seperti Perpadi maupun penggilingan. Hal ini penting agar petani tetap semangat dan termotivasi untuk terus berproduksi,” ungkap Agung. 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Propinsi Jawa Tengah, Agus Wariyanto, mengatakan koordinasi dengan stakeholder terkait untuk mencari solusi bersama-sama dalam mengatasi harga jatuh di tingkat petani saat memasuki panen raya di wilayah Jawa Tengah yang merupakan salah satu lumbung beras nasional.

“Kami mendapat banyak masukan dan keluhan dari petani, saat ini sedang masuk panen raya di wilayah Jateng, harga gabah turun bahkan jatuh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Oleh karena itu kita perlu duduk bersama dengan semua stakeholder untuk mencari solusi agar petani tetap bisa mendapatkan keuntungan yang layak dari usaha produksinya,” jelas Agus.

Komitmen untuk menyerap gabah/beras petani juga disampaikan Perum Bulog dan PT. Pertani. Perwakilan Kanwil Perum Bulog Jateng, Rasiwan, mengatakan pihaknya siap dan berkomitmen untuk menyerap dan membli gabah atau beras petani. 

“Kami sudah memiliki sistem yang berjalan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga gabah/beras. Koordinasi dengan Dinas Pertanian, Dinas Pangan maupun Perpadi terkait lokasi panen, harga gabah/beras, serta edukasi ke petani terkait kualitas gabah/beras yang dibeli Bulog,” jelasnya. 

Dia menambahkan, pihaknya juga telah membentuk Tim Reaksi Cepat untuk merespon informasi harga gabah jatuh di petani dengan mengecek lapangan dan melakukan pembelian. 

Hal senada disampaikan Kepala Kantor Cabang PT. Pertani Semarang, Heru Yulianto, yang menyatakan PT. Pertani siap dan komitmen untuk menyerap gabah produksi petani dan membeli di atas ketentuan HPP. 

“Kami melakukan pembelian gabah petani secara komersial yang bisa digunakan untuk benih maupun untuk diolah menjadi beras. Saat ini kami membeli gabah kering panen (GKP) petani minimal Rp 4.250/kg yang digunakan untuk pengolahan menjadi beras, dan sekitar Rp 4.800-4.900/kg untuk yang diolah menjadi benih," jelas Heru. 

Komitmen bersama tersebut disambut dengan senang oleh Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Jawa Tengah, Tulus Budiono yang juga turut hadir dalam rakor tersebut. Menurutnya, peningkatan serapan gabah/beras oleh Perum Bulog ataupun PT. Pertani akan mempengaruhi pembelian dan penjualan gabah/beras dari pelaku usaha seperti Perpadi yang selama ini membeli gabah petani dan menjual gabah/beras ke Perum Bulog maupun PT. Pertani.

“Dengan komitmen Perum Bulog maupun PT. Pertani dalam meningkatkan serapan, kami sangat senang dan yakin akan bisa meningkatkan pembelian gabah petani yang saat ini sedang panen raya,” ungkap Tulus.

Dia juga mengungkapkan bahwa saat ini diperkirakan terdapat stok beras di seluruh penggilingan nasional sekitar 1,9 juta ton, dan sudah penuh sehingga perlu dikeluarkan (dijual) agar bisa menyerap gabah produksi petani. (357)