Sartam, Petani Pohuwato, Pahlawan Lingkungan Dunia

Selasa, 25 Juni 2019, 09:19 WIB

Sartam, dinobatkan sebagai BirdLife Nature’s Hero Award 2019 oleh Birdlife International, sebuah lembaga konservasi burung yang berbasis di Cambridge, Inggris. | Sumber Foto:Dok Burung Indonesia

AGRONET --  Keberhasilan tidak selalu diukur dari harta berlimpah atau dari kedudukan dan jabatan. Keberhasilan juga menyangkut kepuasan diri dalam menjalankan pekerjaan dan mendapatkan serta menikmati hasil kerja, seberapapun yang diperoleh. Keberhasilan juga diperoleh dari bermanfaatnya hasil pekerjaan seseorang bagi lingkungannya. Bagi masyarakat sekitarnya tinggal, bagi sesama makluk serta alam semesta raya. Keberhasilan ideologis tersebut akan sangat bermakna, terlebih lagi jika diakui dan dihargai oleh masyarakat dalam bentuk simbol penghargaan.

Adalah Sartam, 68 tahun, petani biasa asal Desa Puncak Jaya, Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato, kampung di ujung barat Provinsi Gorontalo, diberi penghargaan internasional sebagai pejuang lingkungan. Petani tangguh ini dinobatkan sebagai BirdLife Nature’s Hero Award 2019 oleh  Birdlife International, sebuah lembaga konservasi burung yang berbasis di Cambridge, Inggris.

Kisah Sartam bermula ketika Mongabay Indonesia mewawancarainya pada Kamis, 8 November 2018. Saat itu, Sartam turun gunung ke Marisa, Ibu Kota Kabupaten Pohuwato. Ia bersama petani lain menghadiri peresmian Pusat Pengembangan Ekonomi dan Pelestarian Terpadu Bentang Alam Popayato-Paguat yang dibuat Burung Indonesia untuk program Gorontalo.

Lembaga ini mengarahkan fokus pekerjaan pada pelestarian jenis-jenis burung yang terancam punah dan habitatnya. Desa Puncak Jaya, tempat Sartam bermukim, adalah satu dari enam desa dampingan Burung Indonesia.

BERITA TERKAIT

Amsurya Warman Amsa, Manager Program Burung Indonesia untuk Gorontalo menceritakan, Sartam adalah petani kakao yang kesehariannya telah menerapkan pola pertanian ramah lingkungan. ”Lahan berbukit berpadu tanah kurang subur tidak menjadi penghalang,” ungkapnya.

Desa Puncak Jaya tempat tinggal Sartam, mulanya disebut Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Marisa VI. Sebagian besar wilayahnya berada di kawasan hutan produksi terbatas (HPT). Seiring berjalan waktu, ketika terjadi pemekaran, UPT Marisa VI secara definitif menjadi Desa Puncak Jaya.  Jika dari Kota Gorontalo, menuju kampung yang berbatasan dengan kawasan hutan tersebut membutuhkan waktu sekitar 6 jam perjalanan menggunakan kendaraan.

Tanpa basis pendidikan tinggi, berbekal pengalaman dan pembekalan yang diperolehnya selama menjadi petani, Sartam telah mempraktekkan pertanian yang ramah lingkungan dengan kaidah konservasi melalui pengelolaan lahan dengan membuat terasering. Tanaman campur antara kakao sebagai komoditi utama diselingi pohon buah, kayu, dan tumpang sari seperti jahe, kunyit, cabai, terong, aren, juga pisang.

Pada awalnya, seperti kebanyakan petani lain yang tinggal dekat kawasan hutan, kebun Sartam selalu disatroni kawanan monyet yang sudah dianggap sebagai hama. Belum sempat panen, hasil kebunnya diserang sekawanan monyet, burung dan babi hutan.

“Kami rugi. Panen selalu gagal. Monyet menghabiskan semua tanaman,” ungkapnya.

Untuk mencegah gagal panen, petani di kampungnya merancang perangkap hama dengan berbagai model. Bahkan yang paling ekstrim, membuat pagar kawat besi yang dialiri listrik bersumber dari aki. Jika monyet atau burung masuk kebun, menyentuh pagar, akan mati. Namun cara ini juga berbahaya bagi manusia.

“Kalau saya selalu mengejar kawanan monyet dengan golok,” ceritanya. Namun aksi Sartam tidak membuahkan hasil. Upayanya sia-sia, panen tetap saja gagal.

Hingga suatu ketika, di akhir 2017, ia membuat “resolusi konflik” dengan monyet. Ia berdamai dengan satwa yang dianggap hama kebun petani. Sartam tetap menanam dengan model kebun campur, yang berbeda adalah saat Sartam memutuskan menghibahkan satu hektar tanamannya untuk kawanan monyet.

Sartam mempunyai dua hektar lahan.  “Kebun dua hektar itu saya bagi dua. Satu hektar, khusus untuk kawanan monyet. Saya perlakukan sama perawatannya sebagaimana saya merawat satu hektar untuk saya. Dengan berbagi, kami seperti berkawan,” ungkap Sartam.

Ia tak lagi mengangkat golok. Bagi Sartam, mendapatkan panen dari lahan satu hektar sudah lebih dari cukup.

Saat diwawancara, Sartam bercerita mengenai “resolusi konflik” dengan kawanan monyet yang telah dilakukannya. Menjelaskan alasan mengapa  dan bagaimana dia memutuskan menghibahkan satu hektar kebun dan tanamannya bagi kawanan monyet, burung dan babi hutan.

Pola pertanian ini terbukti mengoptimalkan hasil kebunnya.  Dari hasil kebun, Sartam bukan hanya tercukupi kebutuhannya sehari-hari, ia juga  mampu membiayai pendidikan anaknya hingga perguruan tinggi. Sartam mempunyai empat anak, satu diantaranya tengah melanjutkan studi di perguruan tinggi.

“Satu anak saya kuliah semester lima di kampus di Marisa. Biayanya ya dari hasil berbagi satu hektar itu,” jelasnya.

Sementara dari sisi lingkungan, pertanian yang diterapkan Sartam  ternyata  menjamin keutuhan ekosistem dan keragaman hayati. Sartam telah berhasil mengubah cara pandang orang-orang bahwa monyet, burung dan babi hutan bukanlah hama.

Dengan berhasilnya Sartam menghidupi keluarga dan membiayai sekolah anak-anaknya dari hasil kebun satu hektar itu, Sartam telah memberikan contoh nyata dahsyatnya berbagi.

Atas semua penghargaan yang telah diterimanya, Sartam mengaku bangga dan berterima kasih kepada semua pihak. “Semoga petani lain bisa termotivasi. Saya berharap banyak petani yang berhasil mengelola lahan secara lestari dan hidup rukun dengan satwa di sekitar kebun terutama monyet hitam atau Macaca hecki, burung rangkong, dan babi hutan,” ungkapnya.

Selain penghargaan internasional, Sartam juga mendapat penghargaan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pohuwato. Apresiasi yang diberikan dalam Rapat Paripurna di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah [DPRD] Pohuwato, Mei 2019 lalu. Oleh pemerintah daerah Sartam dinobatkan sebagai inspirator lingkungan.(234)

BERITA TERKAIT