Rahasia Sukses Durian Ucok

Jumat, 01 November 2019, 20:38 WIB

“Belum ke Medan kalau tidak mampir ke Ucok Durian." | Sumber Foto:Istimewa

AGRONET --  Siapa tidak kenal Durian Ucok? Kota Medan seolah sudah identik dengan Durian Ucok. Spot kuliner buah Durian di kota Medan yang fenomenal.  

Sesuai KTP, nama juragan durian asal Medan itu Zainal Abidin Chaniago. Biasa dipanggil Ucok karena putra asli Medan, putra Batak. Berkat dia pula buah durian lokal tak sekedar menjadi hiasan. Dia sukses menjual aneka durian utuh. Itulah sebab lapak duriannya disebut Durian Ucok.

Bang Ucok dan karyawannya bisa membedakan cita rasa durian, manis legit atau pahit, hanya dari kulit luarnya saja.  Berkat dedikasinya yang tinggi, Ucok telah mampu membuat usahanya semakin fenomenal dan melegenda. Tanpa disadari, bisnis duriannya telah menjadi ikon pariwisata kota Medan.

Hampir setiap pendatang ke kota Medan, baik turis lokal maupun asing, merasa wajib mampir. Seolah sudah menjadi suatu keharusan kalau ke Medan, mampir ke Durian Ucok. Tak terkecuali
seorang Presiden, Pak SBY pernah mampir ke tempatnya untuk sekedar mencicipi durian. Juga Presiden Jokowi yang mampir usai rangkaian upacara pernikahan putrinya di kota Medan.

"Saya merasa sangat terhormat toko ini pernah didatangi pak SBY dan Jokowi. Momen-momen yang tidak akan pernah terlupakan sepanjang hidup," kenang Ucok.

Piawai karena Pengalaman, Unggul karena Jaringan

Pria paruh baya itu mengaku telah menempuh jalan yang cukup berliku dalam membesarkan usahanya.  Lahir dari ayah penarik becak dan ibu buruh cuci, ditambah lagi Ucok memiliki lima adik, memaksa Ucok harus putus sekolah sejak usia 14 tahun. Pendidikan terakhirnya hanya sebatas Sekolah Menengah Pertama.

Dari usia 14 tahun itu pula, Ucok terbiasa mencari uang sendiri. Salah satu pekerjaan yang merubah garis hidupnya, menjadi buruh angkut buah Durian.  Di awal tahun 1980an , Ucok  membantu para penjual durian di sepanjang Jalan Iskandar Muda, Medan. Bukan hanya satu pedagang, tapi banyak pedagang.  Namun demikian, Ucok tak sekedar membantu  orang berdagang, ia aktif belajar dan mencari tahu seluk- beluk Durian. Menjadi kuli angkut memberi kesempatan  Ucok diajak para pedagang berkeliling ke sentra-sentra Durian, mencari daerah yang sedang musim.

Melihat besarnya keuntungan dari hasil berdagang Durian, muncul hasrat terbesar Ucok untuk  membuka usaha sendiri. Keinginan itu akhirnya terpenuhi setelah bertahun tahun bekerja membantu para pedagang berjualan Durian. Dengan modal Rp1,75 juta, didukung pengalaman dan pengetahuan, Ucok memberanikan diri membuka lapaknya sendiri.

Modal yang ada dipakai untuk membeli setengah mobil bak durian yang dijajakannya di pinggiran jalan. Dari sekedar tempat mangkal di awal berjualan, layaknya kaki lima hingga menjadi sebuah warung tenda sederhana. Selama 25 tahun lalu merintis bisnis Durian, Ucok tak langsung melejit, ia mengaku pernah mengalami jatuh bangun.

Sembari berdagang, Ucok terus menerus mencari ilmu sebanyak banyaknya mengenai Durian. Rajin menyambangi petani durian di berbagai tempat hingga ke Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan hampir seluruh Pulau Sumatra. Kegiatannya itu lambat laun membuahkan jaringan bisnis. Koneksinya ke para petani durian semakin terjalin.

Ucok membangun kepercayaan para petani durian. Berani membeli lebih mahal dan banyak membantu mereka pendanaan saat dibutuhkan. Ucok rela meminjamkan uang untuk membantu petani, dengan perikatan hasil durian mereka akan menjadi milik Ucok saat panen.

Menjalin hubungan baik dengan para petani terus menerus dilakukannya. Seolah mereka sudah menjadi bagian keluarga. Berkat jaringan yang terjalin kuat inilah, stok durian Ucok selalu tersedia sepanjang tahun. Lapaknya selalu kebanjiran stok. Hal ini yang membuat Durian Ucok berbeda dengan gerai durian lainnya. Bukan sekedar mampu menjual durian 24 jam non- stop, tetapi juga tidak mengenal musim. Kapan saja pingin durian, datang ke Durian Ucok, 

"Berjualan Durian setiap hari, seolah selalu ada musim Durian di Medan. Ilmunya dari sana," kata Ucok. Berkat pemahaman akan durian, Ucok membuat penjualan lebih efektif.  Guna memenuhi kebutuhan durian, setiap hari datang enam hingga tujuh truk pengangkut Durian berasal dari berbagai penjuru Sumatera.

Startegi memanjakan diterapkan juga ke konsumen. Baginya kepuasan pelanggan merupakan kunci sukses lainnya. Ucok tahu betul persaingan semakin ketat. Itulah kenapa baginya pelanggan merupakan asset mahal, Pelanggan adalah raja.  Lapak dibuatnya nyaman, agar pelanggan bisa makan langsung di tempat.  Layanannya kepada pelanggan membuat tidak ada lagi kiasan  membeli  Durian ibarat  membeli kucing dalam karung. Pilih Durian sesuai selera, cocok harga, dibuka disajikan. Cocok rasa silakan dibayar. Jika ternyata  tidak cocok atau mengecewakan, Durian langsung diganti tanpa dipungut harga.

Guna memanjakan pelanggan, lapak Ucok menghadirkan durian dengan variasi jenis terbanyak. Mulai dari pilihan produk durian yang terdiri dari manis legit dan pahit. Menurut Ucok, ada dua rasa durian yang melekat di Medan, manis legit dan pahit. Rasa pahit yang muncul bukannya karena buah belum matang tapi rasa yang justru khas, ada sedikit cita rasa getir dan bau menyengat yang mewarnai manis durian asli Medan. Rasa pahit pada durian berarti kandungan alkoholnya lebih terasa.

Atas permintaan banyak pelanggan pula, Durian Ucok berinovasi menyediakan  packing khusus untuk Durian kupas, agar bisa dibawa sebagai oleh-oleh meski menumpang pesawat. Juga inovasi lainnya dengan menjual berbagai olahan durian seperti pancake durian, daging durian, durian beku, dan es krim durian.

Dibantu 30 orang karyawan, Ucok berjualan 24 jam non- stop di Jalan Iskandar Muda dan Jalan KH Wahid Hasyim, Medan. Dalam sehari Ucok mampu menjual 3.000  hingga 5.000 buah Durian. Kisaran harga  mulai dari Rp 20.000 hingga  Rp 50.000 per buah. Ada juga paket kemasan dengan harga Rp 100.000-500.000. Dalam sehari bisa dihitung, omzet Durian Ucok tak kurang dari Rp.100 juta. Terlebih lagi jika di akhir pekan.

Tidak berlebihan tagline yang mereka buat guna memikat para wisatawan, “Belum ke Medan kalau tidak mampir ke Ucok Durian."(234)