Patola, Pejuang Kopi dengan Kelompok Tani dan Koperasi

Kamis, 28 November 2019, 20:14 WIB

Patola, petani kopi dari desa Benteng Alla, Kecamatan Angeraja, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. | Sumber Foto:Dok Istimewa

AGRONET --  Militansi  Patola (46 tahun),  seorang petani kopi dari desa Benteng Alla, Kecamatan Angeraja, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan,  yang dengan gigih mengajak petani kopi berhimpun dalam kelompok tani, membentuk koperasi dan kemudian memperjuangkannya hingga berhasil memperbaiki taraf hidup petani kopi, patut dijadikan teladan dan motivasi bagi para petani lain.

Perjuangan Patola  dengan kelompok tani dan koperasinya, membuktikan bahwa memperbaiki nasib petani harus dilakukan sendiri oleh petani dan dimulai dengan menghimpun kekuatan dalam sebuah kelompok tani.

Patola adalah Ketua Koperasi Benteng Alla.  Ada 20 kelompok tani lain selain KelompomTani Benteng Alla yang tergabung di koperasi dan setiap kelompok beranggotakan 20-25 petani.

Kopi  Benteng Alla, produk koperasi ini bukanlah kopi biasa. Brand kopi  Benteng Alla sudah mendunia dan telah berhasil memperoleh sertifikasi internasional. Sejumlah perusahaan dan usaha lokal kopi telah menjadi mitra koperasi termasuk Starbucks.

BERITA TERKAIT

Pencapaian tersebut bukan perjalanan yang mudah. Pada awal Patola memulai mengajak petani kopi lain berhimpun dalam kelompok tani, sebagian petani menduga Patola hanya ingin mencari nama dan keuntungan. Dan saat idenya  mulai diterima, kemudian bersama anggota koperasi  lain berusaha memperbaiki kualitas kopi agar harga jual lebih tinggi,  Patola  menjadi musuh bersama para pengepul dan pedagang besar.

Berjuang Melawan Mafia Kopi

Patola lahir dan besar dari keluarga petani kopi. Patola menyaksikan sendiri betapa kopi di Enrekang tak punya harga akibat permainan pengepul. Selama puluhan tahun, pengepul dan pedagang besar menjerat petani dalam lingkaran sistem ijon. Mereka menguasai penggilingan dan mata rantai pasokan ke pedagang besar di Makassar bahkan eksportir kopi. Situasi ini membuat petani putus asa dan  akhirnya  beralih dari tanaman kopi ke tanaman lain yang dianggap lebih menguntungkan.  Kopi tidak dapat dijadikan sandaran hidup.

Prihatin dengan kondisi tersebut, Patola yang saat itu bekerja di Sang Hyang Sri di Sidrap, memutuskan pulang kampung.  Sebagai sarjana pertanian, Patola mencoba mencari solusi  dengan mengunjungi beberapa perusahaan besar pengekspor kopi.  Patola harus kembali ke desa dengan rasa kecewa.  Walau kopi berkualitas bagus,  kenyataannya tetap saja kopinya tak bisa diterima tanpa melalui pengepul yang sudah menjadi jejaring perusahaan.

Namun Patola tak putus asa. Dia justru bangkit dan melawan. Dikumpulkannya sejumlah petani dan diutarakan maksudnya membentuk koperasi. Walau awalnya banyak yang ragu, keinginan ini akhirnya direspons positif. Mereka membentuk Koperasi Sari Kembang, cikal bakal koperasi Benteng Alla Utara sejak 2007.

“Dulunya desa ini susah diakses kendaraan, alat komunikasi ke dunia luar juga tak ada sehingga kami mengandalkan penjualan kopi ke pedagang yang masuk. Harganya sangat rendah dan dikendalikan mereka,” ungkap Patola.

Menghadapi situasi ini, Patola berinisiatif mencari pasar ke luar desa. Ia mendapat informasi bahwa pedagang besar di Kabupaten Tana Toraja bisa memberi harga yang lebih baik. Bersama sejumlah petani lainnya berangkatlah Patola ke Toraja membawa dua truk berisi kopi. Sayangnya, upaya perdananya tak berbuah hasil sesuai harapan.

Meski perusahaan tersebut membeli kopi dari petani, namun mereka menetapkan kuota dan jadwal pembelian. Petani yang tak memiliki akses ‘orang dalam’ susah menjual produk kopinya. Mereka harus menunggu lama dan itu berdampak ke kualitas kopi. Setiap hari, ratusan petani datang dan hanya mendapat jatah 100 liter per hari.

“Saya pelajari, ternyata ada anggota lewat jalur lain, bisa masuk 1-2 truk per hari, sekitar 14 ribu liter. Tidak bagus pola seperti ini karena ada main. Kita merugi dan susah, ternyata ada jalur lain. Ini tidak bisa panjang. Kami hanya kayu bakar saja, kalau sudah tak dibutuh ditendang keluar.”

Tak putus asa, Patolla mencari pasar yang lain di Makassar, meski tetap harus titip kopi ke pedagang Toraja yang telah terdaftar di perusahaan tersebut. Menjual di pedagang perantara ternyata jauh lebih menguntungkan dibandingkan menjual langsung ke perusahaan, karena telah ada kerja sama antar mereka.

Dengan modal awal yang hanya puluhan juta rupiah, Patola mulai membeli kopi petani di atas harga pengepul. Saat itu, pengepul membeli Rp 5.000 per kilogram (kg) untuk kopi kulit tanduk. Oleh koperasi, harga dinaikkan menjadi Rp 7.000 per kg. Kopi ini lalu diolah dengan baik hingga menjadi biji kopi pilihan dan dibawa ke Makassar.

Tapi prosesnya tak berjalan mulus. Pengepul dan pedagang besar yang merasa kalah bersaing dengan koperasi, meneror Patola dengan segala cara. Pedagang bermodal besar berupaya membuat Patola dan koperasinya bangkrut dan kehilangan kepercayaan. Itu dilakukan dengan membeli kopi petani dengan harga jauh di atas harga pembelian koperasi. Keadaan kian tak menguntungkan karena pedagang menguasai penggilingan yang membuat petani berada dalam posisi tawar rendah.

“Saya sempat melawan dan membeli dengan harga tinggi juga. Sebagian petani bisa setia dan tak menjual kepada pedagang, tetapi banyak pula yang tergiur dan menjual ke pengepul. Kami berusaha bertahan walau habis-habisan. Saya sampai pernah rugi Rp 80 juta karena melawan pengepul yang terus menaikkan harga,” kenang Patola.

Menurut Patola, dana awal koperasi yang tidak seberapa, habis untuk melawan pedagang. Bahkan uang tabungannya dan beberapa pengurus habis. Mereka juga mesti meminta para anggota, saat hendak menggiling kopi agar datang bergantian dengan membawa kopi sedikit demi sedikit dan tak mengaku sebagai anggota koperasi. “Bahkan, hasil panen kadang harus kami sembunyikan agar tak ketahuan pengepul,” tuturnya.

Menghadapi tekanan, Patola tak kehilangan akal. Terlebih kepercayaan petani pada koperasi mulai terbangun. Dia mulai mencari mitra perusahaan besar, sembari terus menawarkan kopi ke pemilik-pemilik kafe di Makassar.

Keinginannya bermitra mendapat jalan ketika bertemu dengan pemasok kopi untuk Starbucks. Melalui perjuangan panjang, serangkaian proses uji coba, pemasok ini setuju mengambil kopi dari petani untuk masuk ke Starbucks. Tak semua petani,  hanya 400-an. Tapi setidaknya, ini bisa mengembalikan rasa percaya diri petani.

Harga beli dari Starbucks saat ini berkisar Rp 57.000-Rp 70.000 per kg dalam bentuk kopi beras. Dengan pencapaian ini, pengepul tak lagi bermain harga. Kali ini, mereka berusaha menyuap Patola. Dia ditawari harga lebih tinggi Rp 500 per liter kopi beras agar tak menjual produk ke Makassar atau tempat lain. Tapi tawaran ini ditampik. Pada akhirnya pengepul lelah dan berhenti mengganggunya.

Semangat mengangkat harkat petani dan kopi Enrekang, akhirnya berbuah manis. Koperasi Benteng Alla yang dirintisnya lebih 10 tahun lalu, kini semakin besar. Anggotanya mencapai 2.700-an petani yang menyebar di sentra kopi Enrekang di antaranya Kecamatan Baroko, Bungin, Masale, Buntu Batu dan Baraka.

Saat ini sedikitnya 400-an petani yang terhimpun dalam koperasi, menjadi pemasok kopi untuk Starbucks. Selebihnya memasok untuk pengekspor dan pemilik kedai kopi di Makassar hingga Pulau Jawa dan Bali.

Kopi Juara, Bertaraf Internasional

Ketekunan dan disiplin Patola dalam mengelola kebun berbuah hasil. Ia beberapa kali menjuarai lomba kopi secara nasional. Pada 2016, ia menjadi juara 1 pada kontes kopi di Bali untuk origin Benteng Alla.

“Kami menang lebih ke keseimbangan rasa, hasil drill-nya bagus, after test-nya juga bagus dan ada sedikit rasa lemon.”

Dalam beberapa kali kontes kopi tingkat nasional, biji kopi yang dibawa Patola menjadi pemenang. Dalam lomba kopi nasional di Bali tahun 2014 kopi Benteng Alla meraih juara empat. Tahun 2016, kopi yang sama akhirnya menjadi juara satu. Tahun lalu, Patola membawa kopi Memba dan menjadi juara dua. Meski turun peringkat namun rasa kopinya justru lebih tajam dibanding tahun sebelumnya. Hanya saja rasanya dianggap kurang seimbang karena asamnya tinggi. Ini adalah pencapaian tertinggi untuk kopi Enrekang yang sekian lama kalah bersaing dengan kopi Toraja yang sudah terlebih dahulu terkenal.

Pada 2018, salah satu kopi dampingannya dari Komunitas Adat Tangsa masuk dalam 6 besar kopi terbaik, yaitu Origin Lubika. Meski hanya di posisi 6 dengan tapping score 4 namun harga lelangnya tertinggi, yaitu Rp500 ribu per kg.

"Pencapaian ini  menjadi kebanggan masyarakat Enrekang, yang memang memiliki cita rasa kopi terbaik di dunia. Hampir semua daerah di Enrekang memiliki rasa kopi yang khas. Yang paling terkenal dari Benteng Alla, Masalle, dan Nating Bungin," jelas Patola.

Saat ini omzet Koperasi Benteng Alla Utara sekitar Rp 70 juta per bulan. Koperasi ini juga membuat unit usaha lain yakni ternak kambing. Ternak yang dikelola bersama dengan sistem bagi hasil ini, menjadi pendapatan tambahan bagi petani di waktu-waktu produksi kopi sedang turun. Ini juga untuk mencegah petani mencari tambahan penghasilan dengan membuka kebun hortikultura.

Sesuai tujuan awal koperasi untuk meningkatkan kapasitas petani, pelatihan dan bimbingan terus dilakukan. Diskusi rutin digelar sebagai ajang silaturahmi dan membicarakan berbagai persoalan. Sejumlah tenaga internal control system koperasi juga ditempatkan di setiap kecamatan. Mereka membantu dan mengontrol petani mulai dari penanaman, petik merah, hingga proses pascapanen.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Enrekang dalam hal ini Dinas Pertanian, terus melakukan penyuluhan pengolahan kopi demi menghasilkan kopi yang berkualitas.

Petani dan masyarakat pun diedukasi menikmati kopi dengan mengajak mereka meminum kopi berkualitas dari biji kopi pilihan. “Bertahun-tahun mereka terbiasa meminum kopi kualitas rendah karena yang bagus biasanya dijual. Dengan tahu rasa kopi bercita rasa tinggi, mereka bisa lebih menghargai tanaman ini dan pada gilirannya meningkatkan kualitas produksi,” kata Patola. (234)

BERITA TERKAIT