Sayurbox Amanda Susanti, Tak Sekedar Bisnis Jual Sayuran

Kamis, 02 Januari 2020, 12:03 WIB

Berawal dari keprihatinan terhadap kesejahteraan petani. | Sumber Foto:Dok Istimewa

AGRONET --  Amanda Susanti, seorang wanita keturunan, kelahiran Jakarta 22 Juni 1990, keluar dari perkerjaannya di sebuah perusahaan swasta, demi merealisaikan keinginannya menjadi petani penghasil pertanian organik dengan mengelola kebunnya sendiri di daerah Parungkuda, Sukabumi, Jawa Barat.

Ketika menjadi petani dan bekerja dengan para petani, lulusan salah satu universitas di Manchester, Inggris ini  merasakan sendiri  susahnya mencari akses untuk menjual produk ke konsumen. Ia melihat mata rantai antara petani ke konsumen sangatlah panjang. Akibatnya, harga produk pun menjadi mahal, terlebih untuk produk pertanian organik.

Kehidupan petani inilah yang mengusik dan menjadi perhatian Amanda.  Ia prihatin dengan kehidupan petani yang dilihatnya sudah bekerja keras tetapi penghasilan dari penjualan produk taninya tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup mereka.

Keprihatinan itu makin kuat di tahun 2016,  saat ia bertemu dengan Misto, seorang petani singkong.  Saat itu Misto selesai menjual hasil panennya kepada seorang pedagang desa tetapi hasil yang diperolehnya dari hasil bertani tersebut sangat kecil.  Amanda semakin tergugah. Kesejahteraan petani benar-benar masih jauh dari yang diharapkan. 

BERITA TERKAIT

Sementara di sisi lain,  dari pengamatannya secara langsung pula, masyarakat di kota besar seperti Jakarta telah muncul kesadaran kebutuhan akan produk pertanian yang lebih sehat, dalam keadaan segar namun dengan harga yang bagus.

Itulah sebabnya, Amanda kemudian menggandeng para petani memproduksi pertanian organik dan mulai mencari celah menjual hasil pertanian organik tersebut secara langsung ke konsumen, katering dan restoran dibandingkan menjual ke pedagang.

Amanda mulai mencari cara dan membangun saluran  sendiri untuk menghubungkan secara langsung konsumen dengan petani.  "Penawarannya ke lingkungan keluarga dulu, kemudian ke teman dan ibu-ibu. Dari situ, kemudian tersebar dari mulut ke mulut. Ya, kebanyakan organic growth,” kata Amanda.

Berawal dari media sosial yaitu  Instagram dan WhatsApp. Ternyata permintaan pasar akan produknya terus meningkat.  Ia kemudian  membangun bisnis dengan membuat Sayurbox, sebuah platform digital (market place) melalui website   untuk memudahkan pelanggan mengakses produk-produk pertanian yang tersedia. Ketika pesanan terus meningkat,  Sayurbox  meluncurkan aplikasi yang bisa diunduh oleh konsumen produk pertanian melalui gadget mereka, yang diluncurkan Juli 2016.

Upaya membangun Sayurbox ini didukung dua temannya yang sangat mengerti keinginan Amanda dan memiliki visi dan misi yang sama, yaitu membantu lebih banyak petani dan menjual lebih banyak produk langsung ke konsumen.  Juga membantu petani lokal untuk menanam tanaman dengan lebih baik sesuai dengan permintaan pasar.

Sejahterakan Petani, Manjakan Pelanggan

Berbisnis di bidang agriculture seperti ini bukanlah tanpa tantangan. Awalnya Amanda dan kawan-kawan menghadapi tantangan untuk meyakinkan petani agar mau ikut dalam ekosistem Sayurbox. Selain itu, tidak semua petani paham teknologi smartphone sehingga tidak jarang petani tidak ingin bergabung karena kesulitan menggunakan teknologi dalam transaksi jual beli. Tak hanya itu saja. Amanda juga harus terus mengedukasi para petani agar menanam bibit-bibit tanaman organik untuk menghasilkan tanaman yang berkualitas baik, sehat dan segar untuk dikonsumsi. 

Ketika memulai bisnis ini, Amanda menggandeng dua petani untuk mitra mereka dalam mensuplai produk. Namun perlahan-lahan, mitra petani terus bertambah dan datang dari berbagai daerah seperti Bogor, Sukabumi, Lembang, Cipanas dan  Jawa Timur. Bahkan ada beberapa dari mereka yang mengajukan diri untuk menjadi mitra.

Hingga kini, sudah ada lebih dari 200 petani dari berbagai daerah yang siap mensuplai kebutuhan produk pertanian kepada pelanggan Sayurbox. Para petani bisa memberikan info tentang hasil panen ke dalam platform digital Sayurbox dan nantinya akan dibantu didistribusikan ke konsumen.  

Manfaat yang didapatkan para petani yang bermitra adalah mereka akan dimudahkan dalam pendistribusian langsung ke konsumen. Para petani juga akan diedukasi dan semua sistem penjualan diterapkan secara transparansi.?

Berbicara konsep bisnis, Sayurbox menerapkan fresh produce platform dan berfokus memotong rantai distribusi. Nilai lebih yang ditawarkan Sayurbox tidak hanya sekedar mendapatkan produk pertanian yang dipetik langsung dari lahan petani yang dipanen, tetapi juga tidak memakai banyak pestisida untuk menjaga produknya tetap organik. Selain itu, ada beberapa produk pertanian yang jarang tersedia di supermarket atau pasar tradisional, tapi Sayurbox menyediakannya.

Para konsumen yang ingin memesan memiliki waktu tertentu setidaknya dua hari sebelumnya agar sayuran atau buah-buahan dikirim dalam keadaan segar. Dalam proses penjualannya, Sayurbox menerima pesanan dari pelanggan dengan sistem PO.  Lalu pesanan akan dikumpulkan menjadi satu dan diteruskan kepada petani agar dipanen. Setelah dipanen, petani akan mengirim sayuran segar tersebut ke hub Sayurbox untuk didistribusikan kepada pelanggan.

Karena menggunakan sistem PO, sayuran akan diantar pada hari-hari tertentu yakni Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu. Sistem digunakan agar tidak ada produk pertanian yang terbuang dengan percuma. Petani juga mendapatkan kepastian bahwa hasil panennya tersebut memang sedang dibutuhkan.

Hingga saat ini, Sayurbox hanya melayani konsumen rumah tangga di area Jabodetabek dan Bandung. Ke depannya, dengan aplikasi yang telah diluncurkan, ia ingin mengembangkan sayap dengan merambah konsumen skala besar seperti restoran dan catering dan merambah daerah-daerah lain di Indonesia agar bisa ikut merasakan kemudahan mengonsumsi sayuran organik langsung dari petani dengan harga layak

Sayurbox menyediakan segala produk pertanian untuk dimasak setiap hari. “Setiap hari kami panen,” ujar Amanda. Sekarang ada sekitar 400 jenis sayuran dan buah yang dijual Sayurbox. Bahkan, ada berbagai produk pertanian yang kadang tidak ada di supermarket atau di pasar. Misalnya, buah tin, aneka buah beri, atau buah-buahan unik lainnya. Hal tersebut menjadi nilai lebih jualan Sayurbox.

Nilai lebih lainnya dibandingkan supermarket atau pasar: produk yang dijajakan Sayurbox diklaim lebih segar karena dipetik langsung dari lahan petani yang dipanen setiap hari sehingga tidak melewati banyak rantai distribusi. Selain itu, saat penanamannya tidak memakai banyak pestisida sehingga produknya tidak tahan lama. Makanya, Sayurbox harus pintar-pintar dalam managing cycle agar lebih efisien bisa sampai ke konsumen dengan baik. Cakupan harga tergantung pada produknya. “Misalnya lagi panen raya, harga bisa murah. Buah naga Rp 3.000/kg atau ada juga yang paling mahal, yaitu stroberi, bisa mencapai Rp 40.000/kg,” ucap Amanda. 

Sayurbox yang  kini telah memiliki puluhan ribu pelanggan, dari  warehouse nya di Warungjati mulai berekspansi ke Bogor untuk membangun gudang baru, fokus kepada infrastruktur dan bisnis model.

Rata-rata pembelinya dari media sosial, 50 persen wanita,  usia 23-35 tahun. Kapasitas pengiriman Sayurbox per hari berkisar antara 1.000-5.000 pengiriman dengan omzet yang semakin meningkat. Sayurbox  mengaku bahwa terhitung dari 2016 pertumbuhannya cukup positif, untuk Year on Year (YoY) sudah mencapai double digit?.

Atas semua kerja keras untuk pencapaiannya, Sayurbox berhasil mewakili Indonesia dalam kompetisi startup Seedstars World yang membuatnya berpartisipasi dalam Konferensi Regional Seedstars Asia di Bangkok pada N ovember 2017, serta Seedstars Global Summit di Swiss pada April 2018. Sayurbox juga berhasil mengantarkan Amanda pada penghargaan 30 Under 30 Forbes Asia 2019 sebagai pemuda inspiratif di bawah usia 30 tahun di bidang industri, manufaktur, dan energi.(234)

BERITA TERKAIT