Rio Aditya, Inisiator Kampung Anggur Bantul

Sabtu, 08 Pebruari 2020, 17:19 WIB

Rio Aditya bersama buah Anggur Ninel. | Sumber Foto:Dok Istimewa

AGRONET -- Jika sedang di Yogyakarta, cobalah mampir ke Kampung Anggur Dusun Plumbungan Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro Kabupaten Bantul.  Begitu tiba di Dusun Plumbungan, tampak terlihat pohon Anggur yang diberi penopang baja ringan dibiarkan menjalar dan rimbun, membuat halaman rumah-rumah penduduk  tampak teduh. Di antara dedaunan, buah Anggur merah yang segar, bergerumbul dan bergelantungan di para-para kokoh itu tampak menggiurkan, menggugah kita untuk memetik dan mencicipinya.

Karena sebagian besar warganya menanam buah Anggur,  Dusun Plumbungan Bantul dijuluki Kampung Anggur. Di setiap akhir pekan, banyak rombongan turis-turis domestik mengunjungi kampung Anggur. Bukan hanya dari Yogyakarta, tetapi juga dari berbagai kota di Jawa, bahkan dari luar Jawa yang sedang berkunjung ke Yogyakarta, sengaja datang untuk menjawab keingintahuan serta rasa penasaran dengan kampung anggur yang tengah populer dan viral di sosial media. Mereka mengabadikan kenangan dengan berswafoto berlatar  belakang Anggur yang bergelantungan,  serta membeli dan menikmati Anggur yang dipetik langsung dari pohon.

Adanya Kampung Anggur, telah berhasil menaikkan perekonomian warga. Itu tidak lepas dari peran seorang anak muda bernama Rio Aditya. Seorang guru BK honorer di sebuah SMK Kesehatan di Yogyakarta, lulusan Pendidikan Bimbingan Konseling (BK) Unviersitas Negeri Yogyakarta (UNY). 

Kesuksesan Rio menjadi bukti bahwa keberhasilan di bidang pertanian tidak hanya milik sarjana pertanian atau yang berlatar belakang keluarga tani.  Tidak juga  harus bermodal besar.   Kunci keberhasilan  Rio menjadi petani Anggur adalah motivasi yang tinggi, kemauan belajar, ketekunan dan pantang menyerah. 

Rio mulai mencoba menanam Anggur sendiri di rumah berawal dari keputusannya memilih mengonsumsi Anggur setiap hari.  Anggur dengan kandungan antioksidannya yang tinggi, diyakininya membantu melawan penyakit yang dideritanya secara mandiri.   “Setiap hari  saya makan Anggur. Setiap hari juga saya harus beli. Tapi kan mahal, sekilo yang rasanya biasa saja atau asam Rp. 60 – 100 ribu. Dengan penghasilan sebagai guru honorer, tentu saja tidak kuat,” kata Rio.

Rio belajar budidaya Anggur secara otodidak, mengingat tak ada satupun petani anggur di dusunnya. Bahkan di provinsi DIY pun tidak ada petani anggur sama sekali.  Berbagai jenis bibit anggur dibeli dari penjual bibit buah. Tapi mayoritas tidak bisa tumbuh dan berbuah seperti yang dijanjikan. Banyak yang tak bisa berbuah atau buahnya asam dan sedikit. Berbagai uji coba dilakukan Rio seperti menyambung dua varietes yang berbeda.

Awalnya, upaya Rio membudidayakan Anggur  bukan hanya  disangsikan  keberhasilannya, tapi juga dilecehkan dan ditertawakan sinis oleh para tetangga, Seumur-umur belum pernah ada tanaman Anggur tumbuh apalagi berbuah di Bantul. "Tetapi hal itu tidak menyurutkan semangat saya. Saya harus berhasil menunjukkan bahwa tanaman anggur bisa hidup dan berbuah. Saya sangat yakin karena sudah berulang kali mencoba, berulang kali gagal dan terus menerus mempelajarinya," kata Rio .

“Setelah bertahun-tahun belajar mengenai menanam anggur itu saya tahu kuncinya dan akhirnya bisa berbuah dengan sempurna. Nah pada akhirnya ketemu jenis Ninel dari Ukraina yang dengan sedikit inovasi bisa tumbuh lebat dan berbuah manis,” katanya lagi. 

Anggur jenis Ninel yang dikembangkan Rio ini tingkat kemanisannya  bahkan lebih tinggi dibandingkan di negara asalnya. "Bisa mencapai 22 brix, hampir setara dengan gula pasir yang berada di angka 24 brix," ujarnya. Keunggulan lain Anggur Ninel, mudah dikembangkan dan dirawat. Tak mengenal musim, dapat berbuah terus sepanjang tahun.

Halaman rumah Rio yang tidak begitu luas untuk ukuran rumah di pedesaan kini dipenuhi tanaman Anggur merah varietas Ninel asal Ukraina ini.

Setelah keberhasilan itu, warga mulai tertarik ikut menanam anggur di rumah mereka. Merespon hal tersebut, Rio lantas mengajari warga Dusun Plumbungan cara menanam, merawat hingga memanen anggur. Untuk memenuhi kebutuhan bibit, sejumlah warga diajak mengikuti pelatihan teknik sambung pucuk. Biayanya pinjam dari kas PKK. Ada 100 bibit untuk sambung pucuk yang disiapkan, setelah jadi, warga menebusnya.

"Memang harga bibitnya mahal. Tapi soal merawat bisa dipelajari seperti kita menanam pohon lainnya. Kuncinya pada penyiraman dan pemupukan sesuai kebutuhan," ujar Rio berbagi tips.  Pupuknya hanya NPK, yang masih kecil dua minggu sekali setengah sendok teh dicairkan kemudian disiramkan di media tanam. Pupuk kandang diberikan enam bulan sekali. Anggur butuh mandi matahari sepanjang hari.

Seiring berjalannya waktu, warga mulai menanam Anggur di depan rumahnya masing-masing. "Warga di sini mulai menanam Anggur  tahun 2017, dan saat ini sekitar 80 persen warga memiliki tanaman Anggur di depan rumahnya. Saya ingin masyarakat Plumbungan bisa maju bersama secara ekonomis karena Anggur punya nilai jual tinggi dibanding hasil pertanian konvensional. Apalagi Anggur bisa berbuah sepanjang tahun," katanya sambil tersenyum. 

Dari hasil budi daya Anggur,  bisa panen setiap hari minimal satu kilogram. Harganya Rp 100.000 per kg petik di tempat. Memang jauh lebih mahal dibanding di toko atau kios buah, karena sensasinya memetik sendiri langsung dari pohon.  Setiap satu tandan buah anggur yang masih bertengger di dahan, rata-rata punya bobot sekitar 3 kg dengan harga sekitar Rp 100.000 per kilo. Saat panen raya, bahkan satu kuintal Anggur bisa ludes dalam sehari. 

Selain buah, Rio juga menjajakan bibit Anggur Ninel di kebunnya. Ada dua jenis bibit yang dijual yakni bibit on root dari batang asli dengan harga Rp 200.000 per bibit serta bibit sambung atau grafting sekitar Rp 125.000 per stek dengan daun sekitar lima lembar. Setiap hari ia bisa menjual 10 bibit. 

Semakin banyak warga menanam Anggur maka lebih banyak orang menikmati hasilnya. Bukan hanya dari hasil berjualan buah Anggur, tetapi juga dari pengolahan Anggur menjadi berbagai produk olahan. Pengelolaan Kampung Anggur juga memberi banyak peluang pekerjaan. Warung makan dan minum banyak bermunculan, pengelolaan lahan parkir,  dan para pemuda berkesempatan menjadi pemandu wisata. 

Meski menolak kampungnya disebut sebagai obyek wisata, tapi nyatanya kini ratusan orang setiap hari datang silih berganti. Bukan hanya dengan sepeda motor, mobil-mobil pribadi, tetapi juga bus. Para pesepeda dari berbagai komunitas, bahkan sudah datang sejak jam 5 pagi.  Rio menyarankan agar pembeli dan wisatawan datang pada bulan Juli hingga Oktober, dimana saat itu buah Anggur sedang dalam kondisi paling bagus.

Kampung Anggur bukan saja menjadi destinasi para wisatawan untuk mencicip rasa buah Anggur dan berfoto ria, namun juga banyak dari instansi pemerintah atau kampus yang melakukan studi.

"Dengan adanya hasil yang menggembirakan dari berkebun Anggur ini, setidaknya membuka mata kita bahwa bertani tidak hanya melulu padi, kita bisa bertani dan menanam apa saja. Bertani juga tidak harus di sawah dengan tanah yang luas, namun bisa dengan memanfaatkan lahan yang sempit di rumah. Menjadi lebih bernilai ekonomis dan lebih bermanfaat untuk lingkungan," tutur Rio.(234)