Paidi Porang Berbagi Sukses dan Maslahat

Senin, 30 Maret 2020, 15:57 WIB

Paidi, Petani Porang, Asal Desa Kepel, Jawa Timur | Sumber Foto:Dok Istimewa

AGRONET -- Paidi (38), petani porang miliuner dari desa Kepel, kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur memiliki tekad memberangkatkan semua masyarakat di desanya menunaikan ibadah umroh ke Tanah Suci. Keinginan tersebut diinisasinya menjadi sebuah program yang ditawarkannya kepada petani setempat.

“Saya memberikan bibit gratis untuk petani tanpa meminta dikembalikan, namun para petani tersebut terikat perjanjian. Nantinya setelah panen, kami wajib memberangkatkan umroh. Dari hasil panen  sangat cukup untuk biaya umroh.” ujar Paidi.

Sudah 5 petani yang diberikan bibit gratis. Mereka adalah para petani yang telah setuju mengikuti Paidi bercocok tanam Porang di bawah pembinaan PT Paidi Indo Porang, perusahaan miliknya.

Setelah mendapatkan ilmu secara langsung dari Paidi, setiap orang mendapatkan bantuan 30 kg bibit bubil secara gratis. Dalam jangka dua tahun hasil panen Porang akan menghasilkan nilai jual seharga Rp 90 juta.

“Uang hasil panen itulah yang digunakan untuk memberangkatkan umrah, tidak hanya sendirian melainkan sepasang suami istri. Jika lebih, uangnya diserahkan untuk mereka,” lanjutya.

Saat ini mayoritas masyarakat di desa Kepel adalah petani porang. Sebelumnya mereka adalah petani cengkeh dan durian, yang hasil panennya tidak sebanyak jika dibandingkan dengan tanaman porang. Terinspirasi dari kesuksesan Paidi bercocok tanam porang yang mereka lihat sendiri hasilnya, akhirnya mereka tertarik untuk mengikuti jejak Paidi. Mereka belajar, mendapatkan benih dan bercocok tanam sesuai ilmu yang dibagikan Paidi secara suka rela.

Paidi selalu bersemangat dalam hal membagikan ilmu suksesnya dalam menanam Porang. Bukan hanya kepada petani di desanya tetapi juga kepada seluruh petani dimana saja. Untuk itu, sejak tahun 2010 ia telah membuat sebuah blog yang berisi tentang budidaya tanaman porang. Tahun 2013 ia juga mulai membuat video yang diunggahnya di channel youtobe yang bisa diakses siapa pun. Ada puluhan video yang telah dibuat dan dibagikannya, yang seluruhnya berisi cara budidaya tanaman porang. Tujuan Paidi membagikan di media sosial ini, agar petani dimanapun dapat mengembangkan porang dimanapun mereka berada.

Jalan Paidi menuju sukses tidaklah mudah. Dulu Paidi dikenal sebagai seorang pemulung dengan kondisi ekonomi yang sangat kurang. Rumahnya saat itu hanya berdinding anyaman bambu dan berlantaikan tanah.

Bukan hanya sekali dua kali ia mengalami kegagalan.  Pengalaman bekerja yang serabutan telah dijalaninya. Mulai dari menjual ayam, buah, dan tahu keliling yang berujung kebangkrutan. Namun kondisi tersebut tidak membuatnya patah arang. Ia pun tak malu ketika akhirnya menjadi pemulung.

Sampai sekali waktu ia bertemu dengan teman lamanya di tahun 2007. Mereka sepanti asuhan di Desa Klagon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. Di rumah temannya, Paidi dikenalkan dengan tanaman porang dan cara budidayanya. Paidi tertarik dan mulai mencari informasi sebanyak-banyaknya melalui Internet. Banyak informasi tentang porang yang ia dapatkan.

Porang, jenis umbi-umbian yang bentuknya tidak beraturan dan membuat gatal yang menyentuhnya ini sering dijumpainya di hutan. Umbi tersebut ternyata memiliki nilai yang cukup tinggi. Banyak kandungan yang dimiliki Porang dan bisa dimanfaatkan, membuat Porang memiliki nilai jual yang cukup tinggi baik di dalam ataupun di luar negeri.

Banyak negara seperti Jepang, Taiwan, dan Korea, mengolah umbi porang menjadi sumber makanan. Negara-negara tersebut, mengimpor umbi, salah satunya dari Indonesia. Sayangnya, penyedia umbi porang di Indonesia masih terbatas.

Penurunan nilai ekspor komoditas porang bukan karena tidak adanya permintaan pasar, tetapi lebih karena keterbatasan bahan baku olahan. Selama ini pasokan hanya dipenuhi dari pedagang kecil yang mengumpulkan umbi yang tumbuh liar di hutan atau di sekitar perkebunan sehingga lama-kelamaan akan habis jika tidak diupayakan budidayanya.

Paidi menyimpulkan bahwa porang mempunyai potensi besar untuk dibudidayakan dan dipasarkan. Maka tahun 2010 ia awali dengan menjadi seorang pengepul porang. Ia mendatangi petani porang dimana saja, dan membelinya. Setelah itu Porang yang sudah dibeli, dilakukan proses penjemuran sampai kering, yang selanjutnya dijual kembali dengan harga yang cukup tinggi.

Tak berhenti disitu, Paidi pun mulai menanam secara mandiri, ia mencari bibit porang dipinggiran desa. Porang yang ditemui banyak yang tidak terawat.  Ia bertekad untuk menanam serta mengembangkannya di rumahnya, di desa Kepel.

Sembari bercocok tanam Porang, Paidi terus menerus belajar melalui internet, cara terbaik mengembangkan tanaman porang. Hingga sampai suatu saat, dirancangnya program yang ia namai revolusi pola tanam baru. Program ini maknanya adalah mengubah cara tanam lama menjadi tanam baru. Bukan hanya ditanam saja, namun dipelihara, dijaga sampai panen selama 2 tahun.

Dengan revolusi pola tanam baru yang dikembangkan Paidi, umbi porang yang dihasilkan jauh lebih banyak dan lebih cepat dibandingkan dengan penanaman di bawah tegakan. Dengan mengikuti revolusi pola tanam baru, petani bisa memanen porang per hektar dengan keuntungan hingga Rp 800 juta.

Keberhasilan Paidi mengembangkan Porang telah memberikan manfaat kepada banyak orang. Tidak hanya dinikmatinya sendiri, tidak pula sekedar berhasil mengangkat derajat hidup petani-petani desa yang telah mengikutinya, namun lebih dari itu Porang telah mengantarkan desa Kepel Kabupaten Madiun menjadi 3 desa terbaik di Indonesia pada tahun 2020 dalam program pemberdayaan masyarakat. (196)