Riza Azyumarridha Azra, Relawan Sosial Pendiri Rumah Mocaf

Rabu, 15 April 2020, 14:13 WIB

Riza Azyumarridha Azra Petani Tepung Mocaf dan Pendiri Rumah Mocaf | Sumber Foto:Istimewa

AGRONET -- Tahun 2014, Riza Azyumarridha Azra (28) pemuda asli Banjarnegara, lulusan teknik elektro, menjadi relawan dalam program Sekolah Inspirasi Pedalaman di daerahnya Banjarnegara Jawa Tengah. Suatu ketika saat sedang menjalankan program, Riza bertemu dan berbincang dengan beberapa petani yang mengeluhkan nasib mereka sebagai petani singkong. 

SIngkong yang mereka panen dibeli sangat murah oleh para pedagang atau pengepul. Hanya 200 rupiah per kilogram. Karena tidak sepadan antara tenaga dan hasil yang diperoleh, petani pun akhirnya membiarkan begitu saja singkongnya di kebun, hingga singkong tersebut membusuk. Riza melihat sendiri bagaimana suburnya singkong di desanya, begitu mudah ditanam, menghasilkan singkong begitu banyak namun sayang tidak termanfaatkan dengan baik.

Dari keluhan petani dan melihat sendiri begitu banyak terbuangnya singkong  di desanya. Riza bertekad  merubah nasib petani dan melihat peluang pencapaian keinginannya tersebut dengan mengoptimalkan singkong. Riza kemudian mencari tahu hal ihwal singkong dengan banyak bertanya kepada teman-temannya yang kuliah di jurusan yang lebih sesuai, mencari informasi kesana kemari termasuk melalui internet. Hingga pada akhirnya Riza tertarik dengan mengolah singkong menjadi tepung Mocaf. Riza merasa yakin, dengan mengolah singkong menjadi tepung mocaf, banyak permasalahan pemasaran singkong akan teratasi.  

Mocaf adalah tepung dari ubi kayu atau singkong yang dibuat dengan menggunakan prinsip modifikasi sel ubi kayu secara fermentasi. Di Nigeria dan beberapa kawasan dti Afrika, produk modifikasi tepung singkong disebut dengan fufu dan Gari. Mocaf memilki kandungan yang cukup baik yaitu tinggi serat, mengandung fitoesteron, 100% Gluten Free, rendah kadar glikemik artinya aman untuk orang berpenyakit diabetes.

Berbekal semua informasi dan pengetahuan yang ia dapatkan, Riza  belajar membuat tepung Mocaf mulai dari nol sampai bisa. Setelah merasa berhasil dalam membuat tepung Mocaf, ia mendatangi beberapa para petani singkong di desa Banjarnegara. Melakukan edukasi, mengajari mereka mulai dari awal, pembuatan tepung Mocaf.

Setelah petani bisa melakukan proses pembuatan tepung Mocaf. Petani mulai memproduksi secara mandiri. Petani mulai memasarkannya dan menjual dengan harga lebih tinggi dari pada harga singkong. Namun proses tersebut tidak berjalan dengan baik. Dalam perjalanannya para petani mendapatkan masalah, petani tidak mampu memasarkan tepung Mocafnya, karena mereka tidak memiliki segmen yang tepat untuk dipasarkan.

Hal ini membuat tepung Mocaf tertimbun, dan tidak terjual. Akhirnya Riza mencari langkah terbaik dalam  menemukan solusi dari masalah tersebut dengan proses yang cukup panjang. Langkah yang ia ambil adalah sebuah ide besar yang sampai hari ini terus berkembang yaitu membentuk Rumah Mocaf.

Rumah Mocaf adalah sebuah perusahaan yang berlandaskan asas sociopreneurship. Perusahaan ini sangat mengedepankan kolaborasi dengan seluruh masyarakat Banjarnegara. Hal tersebut bertujuan agar mampu meningkatkan kesejahteraan petani singkong dan masyarakat. Semua bertumbuh dan berkembang bersama untuk menyediakan produk tepung yang terbaik.

Berkolaborasi dengan berbagai pihak, ia menilai langkah tepat dalam menyumbang percepatan pertumbuhan suatu usaha. Seluruh masyarakat ini terdiri dari generasi tua dan generasi muda. Ia yakin bahwa ketika pangan ini dilakukan secara kolaborasi antara generasi tua dan generasi muda, maka kedepan indonesia akan berdaulat pangannya.

“Semua masyarakat harus berkolaborasi, seperti kata Bung Karno, soal pangan adalah soal hidup matinya bangsa. Ketika pangan ini tidak dilakukan secara kolaborasi antara generasi tua dan generasi muda, maka ke depan Indonesia jika tidak dilakukan regenerasi juga akan kekurangan pangan juga,” ujar Riza.

Melalui konsep yang Riza terapkan dalam bisnisnya, semua masyarakat yang terlibat saling menguatkan untuk terus mengembangkan tepung Mocaf. Hal ini didukung dengan adanya program yang sifatnya transparasi, keterbukaaan, dan demokrasi ekonomi.

Masyarakat di desa Banjarnegara yang tergabung dalam usaha mengembangkan tepung Mocaf saat ini terdata sebanyak 451 orang. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis ini membawa kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.

Melalui Rumah Mocaf, Riza menerapkan konsep dengan membagi deskripsi pekerjaan menjadi beberapa bagian sesuai dengan kemampuannya. Riza membagi tiga bagian dan memiliki deskripsi pekerjaan yang berbeda-beda. Tiga bagian tersebut terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu rumah tangga, dan anak muda.

Tiga bagian tersebut yaitu bagian pertama yang terdiri dari  bapak-bapak yang sudah bertahun-tahun menjadi petani singkong,  dimaksimalkan untuk memanajemen lahannya, dengan berbagai program. Bagian kedua terdiri dari ibu-ibu rumah tangga, yang bertugas mengupas, memotong, dan merendam singkong, sampai menjadi tepung Mocaf yang masih kasar. Dan bagian ketiga terdiri dari anak-anak muda yang konsen di dunia pertanian dan di masyarakat, tugasnya adalah melakukan branding, packaging, pengemasan, quality control, inovasi prodak turunan, dan juga melakukan pendampingan terhadap petani pengrajin singkong.

Konsep yang dibentuk Riza, membuahkan hasil yang memuaskan. Saat ini pemasaran tepung Mocaf sudah mulai merata ke daerah-daerah di seluruh provisi Jawa Tengah. Omset penjualan setiap bulannya mencapai 100 juta. Tahun 2020, ia mendapat pesanan untuk ekspor ke negara bagian Amerika, dan berencana akan ekspor ke beberapa negara lainnya seperti Eropa, Malaysia, dan Singapura.

Meskipun begitu, pemasaran tepung Mocaf tetap memiliki kendala. Kendalanya adalah banyak orang-orang yang belum memahami dan kurangnya edukasi bahwa mengonsumsi tepung Mocaf akan mendukung hidup sehat.

Sebagai bentuk program edukasi ke seluruh masyarakat Indonesa, Rumah Mocaf membuat berbagai produk turunan dari tepung Mocaf. Produk turunannya seperti mie Mocaf, kue pie Mocaf, dan produk lainnya. Riza juga membuka pelatihan membuat tepung Mocaf ke seluruh daerah di luar daerah Banjarnegara.

Tidak hanya itu, bentuk edukasi yang pernah ia lakukan bersama teman-teman Rumah Mocaf pada tahun 2018 adalah memecahkan rekor versi musium rekor dunia Indonesia (MURI) ke 8.420 dengan pembuatan sajian mi ayam terbanyak berbahan Mocaf. Sebanyak 2.750 porsi mi ayam dinikmati seluruh masyarakat secara gratis di Alun-Alun Purwokerto, Kabupaten Banyumas. 

“Saya berharap target utama dan impian besar kami yaitu Mocaf benar-benar bisa menjadi tepung khas Indonesia, sehingga Indonesia bisa berdaulat pangan. Tidak lagi bergantung pada impor," tambahnya.(196)