Haji Mat Aji, Buruh Tuntun yang Menjadi Raja Sapi Lampung

Rabu, 22 Juli 2020, 20:30 WIB

Haji Mat Aji, saatb diliput Net TV. | Sumber Foto:Dok Net TV

AGRONET -- Melalui twitter, Muhamad Said Didu, mantan staff khusus menteri ESDM ini mewancarai seorang peternak sapi dari Desa Adi Jaya, Kecamatan Terbanggi Besar, Lampung Tengah. Pria tersebut adalah Mat Aji, seorang pengusaha sukses yang memulai usahanya dari nol, yang mengawali karirnya sebagai seorang buruh peternakan. Buruh yang bertugas menuntun sapi, mencari dan memberi pakan, membersihkan sapi dan jasa pengurusan sapi lainnya.  

Mat Aji,  pria kelahiran 1965 menghabiskan masa remaja dengan bekerja turut banting tulang demi membantu orang tua. Apapun pekerjaan dijalaninya, menjual rokok, mengojek bahkan pekerjaan kasar lain seperti menjadi buruh. Keluarganya hidup dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan membuat dirinya tidak mempunyai pilihan lain. Iapun hanya sempat mengenyam pendidikan hingga kelas lima sekolah dasar. 

Tapi siapa sangka, pekerjaan menjadi tukang ojek mengantarkannya ke dunia lain. Berkenalan  dengan sapi dan mengubah nasibnya, mengantarkannya pada kesuksesan besar.

Suatu hari, ia pun mendapatkan penumpang pedagang sapi atau blantik yang kemudian jadi pelanggannya. Dengan seringnya Mat Aji  antar jemput si pedagang sapi, ia pun mulai memperhatikan kehidupan sang blantik yang terlihat enak dan mapan dengan menjadi pedagang sapi.

Sembari antar jemput pelanggannya ke pasar sapi, Mat Aji banyak berkenalan dengan pedagang sapi lainnya. Saat itu, tahun 1986, ia mengawali kiprahnya di dunia perternakan sebagai buruh. Pekerjaannya adalah menuntun sapi kemana-mana. Sambil terus mengamati dan belajar, seiring kepercayaan yang diperoleh, ia pun lantas terlibat dalam jual beli sapi.

Berawal dari sekedar mencarikan sapi, menjualkan sapi, ia pun lantas nekad membeli dan menjual sapinya sendiri, Usaha yang tak sia-sia, ia mampu meraup keuntungan kurang lebih 1 juta rupiah. Angka yang sangat besar untuk ukuran saat itu.

Tak puas dengan apa yang sudah dijalankannya, Mat Aji yang lahir dari keluarga transmigran asal Lamongan, Jawa Timur di Lampung sekitar tahun 1960-an itupun lantas memberanikan diri terjun di bisnis peternakan sapi. Peruntungan mengantarkan Mat Aji. Ia mendapatkan pinjaman modal untuk memulai usahanya tersebut. Tapi prinsip hidupnya, modal utama sebenarnya adalah kejujuran. Hal itulah yang membuat Mat Aji mendapat banyak kepercayaan dari pedagang atau pemilik sapi. Pada periode tahun 1988-1990 sapinya sudah berjumlah 10-30 ekor.

Berkat ternak sapi pula ia berkesempatan menunaikan haji. Membuatnya akrab disapa dengan Haji Sapi. Nama Haji Mat Aji, kini tak asing lagi dalam bisnis jual beli sapi. Ia dikenal sebagai pengusaha sukses yang memiliki peternakan sapi skala besar. Bisa dikatakan ia telah menjadi ‘rajanya peternak sapi di Lampung’. Motivasi setelah menggeluti dunia tersebut cukup sederhana, ingin agar jumlah sapi di Lampung dan sekitarnya semakin banyak. Keinginannya akhirnya terwujud dalam proses yang sama sekali tidak singkat.

Sekitar dua windu, jumlah sapinya sudah bertambah semakin banyak. Tak tanggung-tanggung di atas lahan peternakan seluas 1 hektar, pria yang juga menjadi Anggota Dewan  Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) itu, terdapat 1.000  ekor sapi. Untuk mengurus sapi-sapinya itu, Haji Mat Aji mempekerjakan 10 orang pekerja.

Sapi-sapi yang dipeliharanya adalah sapi-sapi lokal seutuhnya. Dari 1.000 sapi yang dipelihara, 300 ekor diantaranya berupa sapi indukan. Dengan jenis-jenis sapi diantaranya Sapi Limosin, Sapi Simental, Sapi Bali, Sapi Ongol, Sapi PO, dan sebagainya.

Sapi-sapi tersebut memiliki bobot  rata-rata 700 kilo hingga 1 ton per ekor sapi. Jumlah sapi peliharannya mencapai 1.000 ekor, tak mengherankan jika dalam setiap bulannya terdapat banyak pula bayi sapi yang lahir.  Tak tanggung-tanggung, sekitar 30 ekor sapi lahir setiap bulannya. Jika diperhitungkan dengan jumlah yang konstan kelahiran sapi setiap bulannya, maka saat ini tentu jumlahnya sudah jauh lebih banyak. Dalam setiap bulannya, ia mampu menjual hingga 15 ekor sapi.

Mengkalkulasi jumlah sapi yang dijual dengan harga per kilo gram bobot hidup, untung yang diraup Mat Aji sangat besar. Meski demikian, bukan berarti ia tak menemui kendala dalam menjalan bisnis jual sapi lokal ini. Kenaikan harga pakan merupakan salah satu masalah klasik yang berimbas pada kerugian peternak.

Apalagi ditambah dengan jumlah permintaan yang tidak menentu. Menyikapi hal ini, sebagai peternak Mat Aji pun harus pandai-pandai melakukan ‘manuver’. Satu kunci yang tak boleh dilepaskan dalam bisnis ini adalah selalu tekun dan disiplin, sehingga berbagai masalah yang dihadapinya tak membuat usahanya gulung tikar. (234- dari berbagai sumber)

BERITA TERKAIT