Agus Wibowo, Petani Muda Desa yang Hadirkan Benih Kentang Bersertifikat

Jumat, 04 September 2020, 10:33 WIB

Agus Wibowo, membuktikan bahwa pertanian layak ditekuni oleh kaum muda dan mampu memberikan hasil memuaskan. | Sumber Foto:Dok Istimewa

AGRONET --  Agus Wibowo, S.P. (26), petani warga Dukuh Kragon Wetan, Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, yang lebih dikenal dengan panggilan Agus Kentang, berhasil memproduksi bibit kentang G0 sendiri secara aeroponik.  

Petani di Ngablak, tempat tinggalnya, dari waktu ke waktu selalu mendatangkan bibit berkualitas dari daerah lain yaitu dari Kabupaten Bandung Jawa Barat, atau Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah, untuk mempertahankan produktivitas dan mencegah hawar.

Dengan tujuan awal untuk memutus ketergantungan terhadap bibit dari daerah lain tersebut, petani kelahiran Magelang, 15 Agustus 1994 itu akhirnya mampu memproduksi bibit kentang G0 sendiri secara aeroponik sejak 2017. 

Pembibitan kentang G0 wajib menggunakan rumah jaring (screenhouse) di media tanam steril. Ukuran rumah jaring 8 m x 45 m. “Rumah jaring menihilkan potensi penularan hama atau penyakit dan tidak ada peluang penyerbukan silang dari kentang lain,” katanya.

BERITA TERKAIT

Selain itu sistem aeroponik meminimalkan peluang terjangkit penyakit tular tanah karena bibit tumbuh di udara. Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Jawa Tengah memberikan bibit kentang itu dengan sertifikat kompetensi tertanggal 3 Mei 2018.

Rumah jaring yang dibuat Agus Wibowo mampu menghasilkan 60.000 bibit kentang setiap 70 hari. Dengan harga kentang G0 2.000 rupiah per benih maka omzetnya mencapai 120 juta rupiah per 70 hari. Kelebihan kentang G0 produksi Agus telah teruji pada tahun 2017. Ia menanam 30.000 bibit G0 di lahan sewaan seluas 1 ha dan memanen 20 ton 70 hari kemudian. Padahal, pada waktu bersamaan, 80% tanaman kentang petani lain di Kecamatan Ngablak ambyar terjangkit Phytophthora infestans.

Pencapaian itu menghapus keraguan sebagian petani lain terhadap kualitas bibit produksinya. Sebelumnya Agus juga lolos dari lubang jarum ketika menanam kentang di lahan 5.000 m?2; milik neneknya. Modal penanaman Rp60 juta berasal dari teman-temannya di kampus. Ia menganggarkan Rp48 juta untuk belanja bibit dari suatu daerah. Namun, pembibit ingkar janji hanya mengirim sekali. Itu pun sebagian busuk sehingga tidak bisa ditanam. Melalui penyortiran yang melelahkan, terkumpul 1 ton bibit. Bibit itulah yang ditanam Agus.

Agus memanen 10 ton. Kala itu pengepul membeli kentangnya Rp12.000—Rp14.000 per kg sehingga meraih omzet Rp120 juta. Untungnya cuaca mendukung dan ia mendapat harga bagus. Sejak itu namanya melambung sebagai pembibit sekaligus petani terpercaya. Menghimpun modal menjadi mudah lewat program committed farmer (petani terpercaya). 
 
Kentang memang bukan barang baru bagi Agus Wibowo, S.P. Bersama komoditas hortikultura lain, kentang menyumbang biaya pendidikannya di Jurusan Agroteknologi Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah.
 
Sebagai bendera resmi, Agus membentuk kelompok tani Agro Lestari Merbabu yang kini beranggota 20 petani berusia 30—40 tahun. Petani milenial, menurut Agus bisa bercocok tanam dengan memasukan teknologi. Di antaranya smart Irigasi yang diterapkan sejumlah kelompok tani di kawasan Ngablak. Dengan menerapkan teknologi irigasi ini, penyiraman dapat dilakukan kapanpun, tanpa harus ada petani di lokasi pertanian. Sebab proses penyiraman dikendalikan melalui aplikasi yang ada di telepon genggam.

Selain pembibitan dan budidaya, Agus juga merintis pembuatan keripik kentang. Tujuan awalnya selain sebagai pemanfaatan pasca produksi juga sebagai pencirian oleh-oleh khas daerahnya, Ngablak.

Selain terkenal sebagai basecamp pendakian Gunung Merbabu, di daerahnya muncul objek wisata baru yang menarik pelancong yang bisa menjadi target pasar. Keripik produksinya bermerek Pikebu, akronim dari keripik kentang merbabu ternyata sukses di pasaran. Baru seumur jagung, produksi keripik itu menyerap 10 tenaga kerja yang berproduksi 2 kali sepekan.

Setiap proses memerlukan 50 kg kentang. “Itu baru sedikit sekali dari total produksi kentang di Ngablak yang mencapai ratusan ton tiap tahun,” katanya. Walau demikian, idenya itu mengaryakan pemuda di desanya sehingga mereka memperoleh tambahan penghasilan selain bertani. Maklum, pada tengah hari, petani biasanya mempunyai waktu luang.

Bersama Agro Lestari Merbabu, Agus sedang mengembangkan varietas Vega yang nikmat untuk olahan goreng maupun rebus. Apalagi selama ini bahan baku olahan kentang goreng adalah kentang impor. Sehingga dengan pembudidayaan varietas lokal untuk olahan kentang goreng, peluang usaha dan penyerapan tenaga kerja di desa semakin terbuka luas, karena melibatkan banyak orang, dari orang tua hingga anak-anak muda, baik laki-laki maupun perempuan bekerja dan mendapatkan penghasilan dari kentang yang menjadi komoditas unggulan lereng Merbabu tersebut.

Melalui budidaya kentang dari hulu hingga hilir, baik langsung maupun tidak langsung berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan sebagian besar warga bermata pencarian sebagai petani dan luas lahan pertanian 200 hektare, Kregon Wetan sangat berpotensi sebagai daerah penghasil kentang unggulan.

Kesuksesan Agus merangkai produksi kentang sejak bibit hingga olahan itu membuatnya mendapat penghargaan terbaik kedua Kategori Mahasiswa Wirausaha Muda Mandiri pada 2018.

Pada April 2019, ia terpilih mewakili Indonesia dalam ajang Entrepreneur Organization Global Student Entrepreneur Awards di Makau, Tiongkok.. Agus Wibowo membuktikan bahwa pertanian layak ditekuni oleh kaum muda dan mampu memberikan hasil memuaskan. (234)

BERITA TERKAIT