Founder Bangsring Underwater

Ikhwan Arief, Anak Nelayan Penyelamat Laut

Rabu, 07 Oktober 2020, 11:29 WIB

Ikhwan Arief bersama Presiden Jokowi, saat Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2017 di Jakarta. | Sumber Foto:Dok Istimewa

AGRONET -- Ikhwan Arief lahir dan dibesarkan dari keluarga nelayan, kedua orang tua mendidiknya dengan disiplin keras. Menyadari bahwa keluarga mereka  bukan golongan keluarga yang agamis, bapaknya mengirim Ikhwan ke pondok pesantren dengan harapan Ikhwan menjadi sosok yang lebih paham agama. 

Namun di Pesantren Nurul Mansur dan Salafiyah Safiiyah, Sukorejo, Ikhwan Arief tak hanya belajar agama. Ia juga banyak belajar tentang adab, etika, tauladan dan hidup sederhana. Pembelajaran inilah yang dijadikan modal dakwahnya untuk mengubah paradigma berfikir nelayan Bangsring, desanya yang banyak melakukan aktivitas ilegal fishing mengebom ikan. 

Alm H. Moh Arip, bapaknya, adalah pengepul ikan di Bangsring. Juga seorang nelayan yang mencari ikan dengan menggunakan potas. Mencari ikan dengan cara mengebom telah berlangsung selama tiga genarasi. Boleh dibilang Ikhwan hidup dalam keluarga yang merusak lingkungan.

“Saya memang bukan pelaku. Tapi, saya dibesarkan dari hasil merusak lingkungan. Saya merasa bersalah karena saya bagian dari kedzaliman,” ucapnya.  Ia bertekad menghentikan illegal fishing yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Cara pertama yang ia lakukan adalah dengan memberi contoh untuk membersihkan lingkungan pesisir. 

Selain itu, Ikhwan juga berupaya menyisipkan pesan agama dari ayat Al- Qur’an dan Hadist tentang larangan merusak lingkungan. Ikhwan pun sampai menawarkan diri kepada para pengurus masjid di desanya untuk membuatkan naskah khutbah salat Jum’at. Melalui jalan inilah, Ikhwan dapat menyisipkan dakwah pesan agama kepada para nelayan setempat. “Pada saat itu masih 2008, saya masih muda, tidak munglkin juga diterima oleh mereka. Kalau saya mengundang tokoh untuk pengajian juga tidak mungkin. Jadi, alternatifnya adalah pesan ini disampaikan oleh tokoh masyarakat,” paparnya.

Pria kelahiran 6 April 1984 tersebut menjelaskan bahwa tidak mudah untuk mengubah kebiasaan seseorang. "Sulit sekali jika kita tidak mulai dari awal dengan tujuan yang baik. Toh awal untuk memulai ini semua saya sempat tidak diterima oleh sebagian besar nelayan Bangsring," ujar Ikhwan Arief.

Dalam upayanya menyadarkan rakyat pesisir, Ikhwan sempat mengalami  pertentangan dari banyak pihak. Baik dari keluarga, mapun para tentangganya. Ikhwan juga sempat diancam untuk dibunuh jika ia melanjutkan misinya untuk menghentikan pengeboman ikan. 

“Nah disini kan (suku) Madura, punya filosofi dari pada putih mata lebih baik putih tulang. Jadi, dari pada lapar mending mati. Jadi saya dituduh menghambat usaha mereka, jadi dari pada mereka lapar lebih baik saya yang mati,” katanya dengan penuh penegasan. Ancaman ini justru membuat Ikhwan lebih bersemangat untuk lekas merealisasikan program konservasinya.  

Kala itu, para nelayan di Desa Bangsring beranggapan jika Ikhwan merupakan sosok yang akan mematikan sumber penghidupan masyarakat setempat untuk melakukan pengeboman ikan. Anggapan ini justru berdampak besar pada keluarga Ikhwan. Sebab, jika para nelayan berhenti mengebom ikan, maka secara otomatis setoran ikan ke bapaknya akan berhenti. Sehingga orangnya dengan keras menentang. “Setiap saya hendak pergi untuk melakukan kegiataan konservasi, ayah saya marah dan mengingatkan untuk berhenti. Tapi, saat itu saya tidak melawan. Saya hanya mendengarkan,” kisahnya.

Sembari mengajar di MI Nurul Karim, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Ikhwan Arief membentuk komunitas nelayan Samudra Bakti dan melakukan penanaman terumbu karang secara swadaya. Komunitas ini perlahan memberikan edukasi tentang pentingnya terumbu karang sebagai tempat tinggal ikan. Mereka juga melakukan transpalansi terumbu karang dengan menggunakan pipa paralon dan senar. Dana yang didapat ialah melalui iuran para nelayan. 

Setelah hampir 9 tahun terumbu karang di perairan Bangsring bagus kembali, ikan pun bertambah. Bukan itu saja, perairan Bangsring ini menjadi tempat wisata yang sering dikunjungi oleh mereka pecinta snorkeling atau diving. Berkat kerja kerasnya Ikhwan mampu mempersatukan nelayan juga mengembangkan tempat wisata.

Ikhwan Arief juga membuat zona konservasi di wilayah perairan Bangsring dengan luas lima hektar. Tujuannya ialah agar ikan dapat berkembang biak dengan baik dijaring atau dipancing. Zona konservasi inilah yang sekarang dikenal dengan tempat wisata Bangsring Underwater. Bukan saja hanya menjadi tempat wisata, saat ini Bangsring Underwater sudah menjadi tempat wisata edukasi tentang kelautan. Ikhwan dan rekan-rekan nelayan sering sekali mengunjungi sekolah yang berada di sekitar perairan Bangsring. Tujuannya ialah untuk menjelaskan pentingnya terumbu karang sebagai keberlangsungan ekosistem laut.

Saat ini Bangsring Underwater telah menyedot perhatian wisatawan. Terlihat dari volume pengunjung yang setiap minggu bertambah jumlahnya. "Bukan hanya wisatawan lokal saja yang sudah menikmati Bangsring Under Water ini. Wisatawan asing juga kerap datang kesini untuk menikmati indahnya bawah laut. Ini berkat pak Ikhwan," ujar bapak dua anak tersebut.

Semua nelayan di perairan Bangsring saat ini berpenghasilan meningkat. Bukan itu saja, yang terpenting terumbu karang tidak rusak kembali dan ilmu para nelayan bertambah berkat Ikhwan. 

Ikhwan merasa lega melihat para nelayan hidup lebih baik dengan mendapatkan hasil tangkapan yang melimpah tanpa merusak ekosistem laut. Tidak ada timbal balik berupa materi yang Ikhwan dapatkan dari gerakannya tersebut. Ada satu impian Ikhwan yang belum terwujud, yakni memberikan beasiswa kepada anak-anak nelayan agar bisa melanjutkan pendidikan yang tinggi. 

Di tengah perjuangannya, tahun 2010 Ikhwan diikutkan seleksi nelayanan teladan tingkat nasional dari Kementerian Keluatan. Ia meraih juara dua. Ia pun berangkat ke Jakarta untuk menerima penghargaan tersebut. Momen itulah yang dapat mengetuk kesadaran keluarganya dan meyakini bahwa apa yang diperbuat Ikhwan dalam koridor yang benar.

“Mulai hari ini nak, saya percaya apa yang kamu lakukan itu benar. Jadi mulai hari ini juga siapapun yang mengganggu kamu, bapak akan ada di depan. Itu kata bapak saya sebelum saya menerima penghargaan,” ungkap pria kelahiran Banyuwangi, 6 April 1984 tersebut.

Usai menyabet pengahragaan tersebut, program untuk memulihkan keadaan laut pun bertambah. Tak hanya konservasi, Ikhwan juga menggandeng beberapa nelayan untuk melakukan program apartemen ikan, hingga penanaman mangrove di pesisir. “Pada 2014 lingkungannya sudah mulai bagus, ikannya banyak, terumbu karangnya juga banyak. Akhirnya kita kemas dalam sebuah Wisata Bangsring Underwater,” jelasnya.

Penghargaan tertinggi kemudian diraih Kelompok Nelayan Samudra Bakti yang dipimpin Ikhwan. Mereka meraih Kalpataru Kategori Penyelamat Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penghargaan diserahkan Menteri LHK Siti Nurbaya kepada Ketua Kelompok Nelayan Ikhwan Arief pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2017 di Gedung Mandala Wanabakti, Jakarta, dan disaksikan langsung oleh Presiden Jokowi.

Kini, kelompok Nelayan Samudra Bakti dipercaya  oleh Kementerian Pariwisata serta Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mendampingi nelayan dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Raja Ampat, Wakatobi, Manokwari, hingga Bawean, untuk melakukan konservasi laut dan pengembangan pariwisata bahari. 

Kegigihan serta semangat membawa Ikhwan Arief menjadi sosok yang patut ditiru. Perjuanganya, terlebih untuk para nelayan, kecintaan terhadap ekosistem laut menjadi modal dari semua usaha yang dilakukan dapat membuahkan hasil. Meski tidak berlatar belakang pendidikan kelautan, dengan dedikasinya, seorang lulusan Pasca Sarjana Institute Agama Islam Ibrahim Situbondo telah berhasil membangun perekonomian bidang kelautan

"Saya lega, lingkungan laut tetap lestari dan nelayan menjadi lebih sejahtera," kata Ikhwan.(234)

BERITA TERKAIT