Rengginang Mak Cicih, Sukses Bu Khadijah di Usia Senja

Minggu, 20 Desember 2020, 11:44 WIB

Rengginang Jadul Hasilkan Omzet Rp 200 juta, Sandiaga Uno Bagikan Resepnya dalam | Sumber Foto:Dok facebook jemput rejeki

AGRONET --  Bagi Ooy Khadijah, menjadi seorang ibu, single parent, di usianya yang 53 tahun, hanya fokus kepada satu hal yaitu bagaimana supaya roda ekonomi keluarga tetap berjalan. Untuk itulah ia merintis usaha. Dipilihnya usaha kuliner kecil-kecilan, mengolah  makanan ringan khas masyarakat Indonesia yaitu rengginang.

Namun siapa sangka, bahkan bu Khadijah sendiri pun tidak. Wanita asal Sumedang, yang tinggal di Depok, Jawa Barat itu bukan hanya berhasil mendorong roda ekonomi rumah tangganya. Melalui usaha rengginang yang dijalaninya, hebatnya, ia bahkan meraih sukses.

Merek yang dipakai, Mak Cicih, diambil dari nama orang tuanya. Mulai dijalankan pada tahun 2018, kini itdak hanya mampu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya, lebih dari itu, omzet yang diraih bahkan pernah mencapai ratusan juta dalam satu bulan.

Awal mula kepikiran untuk menjual rengginang terinspirasi dari anaknya yang suka makanan ringan. Bukan sekedar rengginang biasa, tapi yang membuat produk rengginang ini menjadi unik adalah kreasinya menciptakan tambahan topping dengan berbagai varian rasa.

BERITA TERKAIT

Memulai usaha, Khadijah menghabiskan modal kurang lebih Rp 1 juta rupiah. Dana tersebut ia gunakan untuk membeli bahan baku rengginang, seperti bumbu, hingga beras yang dimasak menjadi nasi kering, awalnya bentuk dan rasa rengginangnya masih original atau sama seperti kebanyakan rengginang lainnya. Hasil produksinya ia tawarkan kepada para tetangga.

Membesarkan nama Rengginang Mak Cicih tentu bukan urusan mudah, Khadijah terus berupaya menjaga kepercayaan pelanggan dalam segala hal. Menurutnya, pelanggan dengan mudah saja beralih ke penjual lain jika pelayanan tidak baik.

“Pernah saya alami, rengginangnya hancur semua ketika sampai ke pelanggan. Terpaksa saya harus menggantinya dan keluar modal lagi,” ujarnya.

Mendapat respon yang baik dari tetangganya, dirinya lalu mencoba untuk menitipkan barang dagangannya di toko-toko yang berada di sekitar Stasiun Depok. Namun proses penitipan di toko-toko ini tidak berjalan lancar, keluhan yang ia terima adalah lantaran produknya sama seperti produk lain namun harganya lebih mahal. Adapun rengginang Mak Cicih miliknya dibandrol dengan harga Rp 15.000 sampai Rp 25.000 per bungkusnya.

Rengginang Mak Cicih pun lalu dibuat tampil beda dengan rengginang pada umumnya. Ia berkreasi membuat rengginang bulat kecil agar bisa dimakan sekaligus tanpa menyisakan sisa atau remah. Tidak hanya bentuk, dirinya juga mengembangkan resep rengginang dengan bermacam varian rasa dan tambahan topping seperti cokelat, blueberry, dan greentea.

“Saya cobain buat resep, dibuat kecil seperti kelereng, supaya kekinian, juga coba pakai cokelat atau blueberry,” ujarnya.

Ia pun mengikuti pelatihan mengenai UMKM yang merupakan program pemerintah daerah Depok. Di sana, dirinya belajar mengenai marketing atau memasarkan suatu produk.

Berkat kerja kerasnya selama 1 tahun, produk dagangannya mulai maju dan berkembang. Bahkan suatu saat diminati oleh pihak ritel dan mendapat tawaran kontrak untuk mengisi produk rengginangnya di 10 ritel sekaligus. Mulai dari sinilah Khadjiah dan Mak Cicihnya meraih keuntungan.

Keuntungan yang didapat dari kerja sama ini pun menjadi salah satu modal dirinya mengembangkan usaha lainnya, seperti produk makanan beku atau frozen food. Usaha produk makanan beku inipun tercipta karena dirinya terdampak langsung oleh pandemi COVID-19 yaitu pelaksanaan pembatasan sosial oleh pemerintah, membuat dagangan rengginang di 10 ritel turun. Agar bisa tetap memutarkan bisnis, maka ia memutuskan untuk menambah varian baru pada produk usahanya. Di masa pandemi, dia membuat produk makanan beku atau frozen food seperti pisang lumer. Pisang yang dilapisi kulit lumpia lalu dikombinasi dengan cokelat dan keju.

Rengginang Mak Cicih

Saat ini ada sembilan varian rasa produk frozen food atau makanan beku yang sudah dijualnya, di antaranya pisang cokelat, pisang cokelat keju, nangka goreng, nanas goreng, tape keju, tape cokelat. Tidak disangka-sangka, produk makanan bekunya langsung laris manis. Di tengah pandemi, banyak masyarakat yang mencari produk makanan beku sebagai stok kebutuhan sehari-hari. Dari produk makanan beku ini juga, Khadijah mengaku mendapat omzet terbesar sepanjang dirinya menjalankan usaha. Dia berhasil mengantongi omzet hingga Rp 200 juta per bulan.

“Alhamdulillah waktu pandemi bulan Juni itu penjualan tertinggi saya, waktu itu dari 2018, per bulan paling antara Rp 4 juta, Rp 6 juta, paling tinggi ke Rp 12 juta. Di bulan Juni itu saya kaget karena omzet sampai Rp 200 juta,” ungkapnya.

Lonjakan omzet yang tinggi tersebut tak lepas dari aktifitasnya berjualan di media sosial. Ia lalu membagikan rahasia, bisa mendapat omzet hingga Rp 200 juta per bulan awalnya karena bertemu dengan orang-orang yang menjadi distributornya di Facebook. Sekarang setidaknya dirinya telah memiliki 8 distributor, 10 agen, dan lebih dari 50 reseller.

Dengan adanya peran distributor, Khadijah mengaku berhasil menjual dalam jumlah yang lebih banyak walaupun margin keuntungannya tergerus. Adapun pangsa pasar produk Mak Cicih untuk rengginang sudah sampai Aceh hingga Papua. Sementara market utama frozen foodnya ada di seputar Jabodetabek dan Semarang sesuai dengan domisili distributornya.

Bisnisnya kini sudah melibatkan sekitar 20 orang tetangganya baik ibu-ibu maupun remaja yang digaji per minggu untuk membantunya. Ia bersyulur, usaha Mak Cicih telah bisa membantu banyak orang.

“Cita-cita saya sekarang, usaha saya bukan hanya untuk mencari uang tapi juga untuk membahagiakan banyak orang, mudah-mudahan usaha saya besar dan banyak orang yang terbantu,” ungkapnya.  Dari omzet yang telah diperolehnya, ia bercita-cita membangun masjid dan mendirikan pesantren bagi anak-anak kurang mampu.(234)

 

BERITA TERKAIT