Yuli Asnita Asal Solsel, Penyuluh Pertanian Teladan Nasional

Kamis, 07 Januari 2021, 10:41 WIB

Yuli Asnita, honorer Penyuluh Pertanian yang dinas di Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat (Sumbar), salah satu dari 10 penyuluh teladan se-Indonesia tahun 2020. | Sumber Foto:Dok Istimewa

AGRONET -- Nama Yuli Asnita sontak harum di Kantor Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar di Padang pada saat hari kemerdekaan tahun lalu. Ia seorang honorer Penyuluh Pertanian yang dinas di Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat (Sumbar) diumumkan oleh Kementerian Pertanian RI sebagai salah satu dari 10 penyuluh teladan se-Indonesia.

Sebelumnya, ia adalah pemegang predikat teladan I tingkat provinsi dalam kategori penilaian Tenaga Harian Lepas (THL) penyuluh pertanian. Wanita kelahiran 1974 itu merupakan alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Unand) angkatan 93.

Yuli Asnita bukanlah orang baru di dunia kepenyuluhan. Bahkan, ia telah mengabdikan dirinya di Kabupaten Solok Selatan sejak 2008 sebagai tenaga honorer penyuluh pertanian.

“Saya bertugas sebagai honorer penyuluh pertanian sudah hampir 12 tahun, sejak 2008. Hingga saat ini saya masih berstatus sebagai pegawai honorer pemerintah pusat yang ditugaskan di Pasir Talang Selatan, Solok Selatan,” ujarnya.

Honorer Dinas Tanam Pangan Hortikultura dan Perkebunan yang sehari-hari berkediaman di Mudiak Lolo, Nagari Sako Pasir Talang, Kec. Sungai Pagu, Solok Selatan, memiliki beberapa harapan kepada pihak-pihak terkait. Harapannya ini menurut Yuli juga menjadi harapan penyuluh-penyuluh lainnya, agar dapat menjalankan tugas secara lebih optimal.

“Sebenarnya ini juga menjadi harapan para penyuluh lainnya. Tolong bantu fasilitasi kami dengan kendaraan motor yang sesuai dengan medan atau wilayah kerja masing-masing. Karena belum semua penyuluh memiliki kendaraan dinas,” ungkapnya.

Meski mengaku telah mendapatkan kendaraan dinas roda dua, namun kondisinya tidak begitu maksimal. Meskipun dalam kondisi seperti itu, Yuli mengaku tidak menyurutkan semangat para penyuluh untuk mengabdi kepada masyarakat. 

“Motor yang saya pakai juga sudah mengalami turun mesin. Alangkah bahagianya, kalau pemerintah bersedia memberi reward sebuah motor dinas baru,” ucapnya.

“Yang jelas, selama lebih kurang 12 tahun mengabdi, saya dan kawan-kawan tetap bekerja sesuai tupoksi, walau status kami sampai saat ini masih terombang ambing,” lanjutnya.

Terombang ambing yang dimaksud Yuli, yaitu belum adanya kepastian pengangkatan mereka sebagai tenaga Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK/P3K) oleh pemerintah pusat. Bahkan, pengakuan Yuli, dengan kondisi sebagai honorer, ia kerap ikut bertani secara mandiri demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Solok Selatan, Vera Septaria membenarkan bahwa belum semua tenaga penyuluh pertanian bisa terfasilitasi dengan baik dalam pelaksanaan tugasnya di lapangan, karena adanya berbagai keterbatasan. Termasuk fasilitasi kendaraan dinas roda dua.

“Kita ada 32 orang PNS, dan 32 orang honorer penyuluh pertanian. Baru sebagian yang bisa kita bantu dengan sepeda motor,” ujarnya.

Vera mengaku bahwa pihaknya sudah berencana menyediakan sepeda motor tahun ini melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) pusat, namun terkendala akibat Corona.

Sementara itu, Plt. Kadis Pertanian Del Irwan berharap Yuli Asnita mendapatkan motor dinas baru. Bahkan, ia juga berjanji akan mengupayakan anggaran untuk itu. “InsyaAllah, nanti akan kita upayakan penganggaran kendaraan dinas baru buat Yuli yang telah berprestasi tingkat nasional,” katanya.

Temukan Varietas Unggul

Yuli bersama rekan-rekan penyuluh honor lain sebenarnya telah dinyatakan kelulusannya sebagai tenaga P3K pada Januari 2019 silam. Namun hingga saat ini belum ada informasi pasti terkait pengangkatan mereka sebagai P3K tersebut. Saat ini, ia sedang menunggu proses ditetapkannya padi simauang sebagai padi varietas unggul lokal Solok Selatan.

Ia mengaku telah melakukan uji lapangan semenjak 2018 silam dengan dibantu oleh Balai Pengawasan Sertifikasi Benih (BPSB) Sumbar di Bukittinggi dan juga Dinas Pertanian.

Menurutnya sudah seharusnya Solok Selatan memiliki varietas benih padi yang tersertifikasi yang akan meningkatkan produktifitas petani seperti halnya varietas siamuang. Selama ini benih padi di Solsel seperti halnya redek, anak daro, bawan, dan lainnya telah disertifikasi oleh daerah lain.

Dengan disertifikasinya padi ini nantinya, maka para petani akan mudah mendapatkan benih berlabel, tersertifikasi, dan telah melalui uji lapangan dan juga penelitian. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan produktifitas petani itu sendiri. (234. /Humaspro Pemkab Solok Selatan).

BERITA TERKAIT