Petani Milenial Yance Maring, Kembangkan Teknologi Smart Farming di Sikka

Senin, 15 Maret 2021, 13:35 WIB

Yance Maring, petani milenial asal Desa Kloang Popot, Kecamatan hewo Kloang, Sikka Nusa Tengara Timur (NTT) . | Sumber Foto:Dok Mediakupang

AGRONET -- Saat acara peresmian Bendungan Napun Gete, oleh Presiden Joko Widodo akhir februari lalu, Bupati Sikka, Roberto Diogo Idong dalam sambutannya menyebut nama Yance Maring. Petani milenial Kabupaten Sikka yang berhasil mengembangkan sistem irigasi di daerahnya berkat ketekunannya bertani.

Yang lebih istimewa, Yance Maring, petani milenial asal  Desa Kloang Popot, Kecamatan hewo Kloang, Sikka Nusa Tengara Timur (NTT)  menjadi pusat perhatian karena dalam mengolah 1 hektar lahan pertanian cabai miliknya menggunakan irigasi tetes yang dioperasikannya melalui ponsel di tangan.  

Yance Maring pria lajang 35 tahun ini mengaku kaget saat namanya disebut, namun ia menegaskan dirinya bukan hanya membutuhkan sekedar pengakuan. Ia lebih berharap bantuan yang riil bagi petani kecil seperti dirinya.

Seperti yang dialaminya, likut-liku hingga perjuangannya menjadi petani tidak mudah. Namun, ia berani melakukan terobosan baru di bidang pertanian. Alumnus Politeknik Pertanian Negeri Kupang tahun 2015 ini mendapatkan ilmu irigasi tetes ketika belajar di Israel, di Arava International Center of Agriculture Training (AICAT) Israel.

Berbekal belajar ilmu pertanian di Negeri Padang Gurun Israel tentang Sistim Pertanian Lahan Kering itulah ia mengaplikasikan pendidikan yang diperolehnya dengan menerapkan pola tanam yang cocok dan efektif di atas lahan tidurnya yang Berlokasi di RT 01/RW 02 Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat. 

“Saya belajar sembilan bulan, setelah pulang ke Indonesia, saya mencoba sistem irigasi tetes ini,” katanya.

Pertanian yang dikembangkannya adalah pola pertanian holtikultura yang memanfaatkan lahan kering berbasis irigasi tetes secara otomatis untuk pendistribusian air dan pupuk. 

Yance mulai menggarap dengan kemampuan selangit namun modal terbatas. Jatuh dan bangun, hutang sana-sini. Berkat ketekukan, keuletan dan kerja kerasnya, Yance berhasil mengembangkan irigasi tetes dan sistem penyiraman serta pemupukan tanaman menggunakan menggunakan teknologi Short Message Service dan Wifi pada tahun 2020 lalu.

Maring memiliki kebun seluas 1 hektare yang ditanami tomat dan lombok. Sistem irigasi untuk lahan itu awalnya menggunakan selang irigasi sederhana tetapi kekuatan airnya tidak bisa stabil meskipun dirinya menggunakan beberapa mesin pompa.

"Akhirnya saya membeli alat rakitan alumni ITB yang dinamakan modul SMS dan solenoid valve yang merupakan keran otomatis untuk bisa dihubungkan ke timer dan internet menggunakan data handphone," jelasnya.

Ia kemudian menggunakan kontrol Short Messages System (SMS) atau melalui WiFi dan berhasil. Tanaman tomat dan lombok di kebunnya dapat berbuah dengan hasil yang lebih baik. Keberhasilan ini mendorongnya untuk mengembangkan metode SMS ke Smart Farming Irrigation System menggunakan Android.

Kini yance menggagas pengembangan sistem irigasi tetes menggunakan teknologi yang dinamakan Smart Farming Maring Drip Irrigation System. Sistem irigasi ini dioperasikan melalui smartphone.

Menurut Yance, penggunaan irigasi tetes sangat hemat air dan praktis sesuai kebutuhan tanaman. Dimana, lahan kelihatan kering dari atas, tetapi di dalam basah dan titik jatuhnya air tepat pada batang dan akar, tidak melebar atau membias sehingga menekan tumbuhnya tanaman-tanaman lain yang bakal mengganggu tanaman hortikultura. 

Yance mengaku sudah banyak mendapatkan tawaran kerjasama sehingga ia merasa perlu mendirikan PT Agro Mar Indonesia. Selain menata manajemen, pihaknya pun sudah mendaftarkan hak paten di Kemenkumham. Ia menjual sistem smart farming dengan jasa konsultasi. Selain juga membuka sebuah lahan untuk dijadikan tempat pembelajaran agar memudahkan petani saat mengaplikasikannya dalam bertani.

Sistem irigasi tetes smart farming ini dijual dengan harga yang murah untuk membantu petani. Umur ekonomis semua peralatan maksimal 5 tahun. “Banyak petani tidak mau berinvestasi dengan nilai yang besar. Rata-rata mau investasinya kecil tapi untungnya besar. Padahal dengan alat ini, umur ekonomisnya 5 tahun dan sekali musim tanam sudah bisa kembali modal,” ucapnya.

Berkat keberhasilannya, AICAT, mantan kampusnya di Israel memintanya mengajukan proposal bantuan business plan pengembangan teknologi sistem irigasi tetes. Lembaga tersebut tertarik membantu sebab apa yang dia kembangkan lebih dari yang dikembangkan di Israel. Disana hanya menggunakan sistem otomatis dan timer.

“Saya disini sudah menggunakan aplikasi android dan ada sensor-sensornya sehingga membuat mereka tertarik memberikan bantuan. Saya mendapatkan ilmu di sana namun saya kembangkan lagi dengan belajar secara otodidak,” pungkasnya.

Hingga kini, Yance masih tetap menjalankan rutinitas kebun dan layanan jasa konsultasi. Penjualan peralatan irigasi tetes yang disiapkannya, bisa dipesan dengan datang langsung PT. AGRO MAR INDONESIA yang berdomisili di RT 01/RW 02 Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka atau di kontak melalui HP ke nomor  081338350470.(234)