Rizal, Pemuda Mojokerto : Sukses Beternak Domba di Saat Pandemi

Kamis, 02 September 2021, 11:34 WIB

Muhammad Rizal Firmansyah, pemuda asal Dusun Balong Lombok RT 03 RW 09, Desa Sumolawang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, sukses bisnis ternak domba. | Sumber Foto:Dok Istimewa

AGRONET --  Di masa pandemi Covid-19, di saat mayoritas pelaku usaha mengeluh lesunya bisnis, penurunan omzet, Muhammad Rizal Firmansyah, pemuda asal Dusun Balong Lombok RT 03 RW 09, Desa Sumolawang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto  justru meraih puncak sukses bisnis ternak domba. Tiga bulan sekali, pemuda 23 tahun ini bisa panen hingga 350 ekor domba dengan omzet mencapai Rp100 juta per bulan.

Bahkan saat mengahadap Iduladha 2021 yang lalu, permintaan untuk hewan kurban dari berbagai kota sudah ada sejak enam bulan sebelumnya.  Harga domba milik Rizal dijual mulai Rp1,5 juta sampai Rp4 juta.

Putra tunggal dari Samiadi, 53 tahun seorang kuli bangunan dan Sujaiyah, 51 tahun ini nekat berbisnis jual beli domba sejak lulus dari SMAN 1 Gondang 2016 lalu. Bisnis domba diawalinya dengan modal tiga ekor saja. Ia rela keluar masuk pasar untuk mempelajari secara otodidak beternak domba. Sebelum akhirnya memutuskan secara serius terjun di usaha ternak dan jual beli domba hingga sekarang.

“Lulus SMA langsung belajar secara otodidak, saya banyak bertanya kepada peternak dan penjual domba kambing,” ucap pemuda kelahiran tahun 1997 ini. 

Rizal menggadaikan BPKB dan bahkan hingga menjual dua sepeda motor kesayangannya, demi memiliki lima ekor domba yang dibelinya dengan harga Rp3 juta di awal usahanya. Namun usaha yang digelutinya tak berjalan lancar sehingga beberapa kali angsuran pun tak bisa dilunasi. Ini lantaran banyak domba miliknya mati. 

“Saya ingat, dari gadai dapat lima juta rupiah, tiap bulan angsurannya Rp500 ribu. Yang awalnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi, akhirnya ketahuan bapak karena pihak leasing datang ke rumah. Akhirnya saya dimarahi,” ungkapnya mengenang. 

Dengan semangat dan kerja kerasnya tanpa pantang menyerah, ia terus mengembangkan usahanya. Sedikit demi sedikit, ia mulai belajar cara beternak domba dari sejumlah peternak dan belantik. 

Sampai akhirnya punya kandang kecil di belakang rumah. Ada tiga kandang, ukuran 9 meter x 20 meter, 4,5 meter x 20 meter dan 24 meter x 50 meter. Untuk memisahkan antara domba yang baru datang, sakit dan yang sudah lama. 

Untuk mempersiapkan domba-domba terbaik, Rizal memelihara dombanya dengan memberi asupan yang cukup. Seperti memberi makanan tumbuhan hijau segar dan ditambah jamu khusus. “Gula merah dan empon-empon buat minuman stamina, kemudian diberi obat cacing dan disuntik penambah stamina dan penghilang stres dan vitamin sambil dipotong bulu-bulunya,” jelasnya.

“Datang, di hari pertama dikasih jamu, campuran gula merah dan empon-empon untuk minuman stamina. Sore masuk kandang dikasih obat cacing sama disuntik penambahan stamina sama penghilang stres. Hari kedua suntik anti parasit dan vitamin sambil dipotong bulunya, dua sampai tiga bulan kemudian siap dipanen,” jelasnya.

Namun, lanjut Rizal, jika saat memberikan campuran makanan salah satu bahan tidak tepat atau kebanyakan maka bisa mencret dan daging kurang bagus. ”Campuran dari bekatul, bonggol jagung, polar, itu juga saya belajar dari peternak lain,” jelasnya.

Hingga saat ini, pelanggan terbanyak datang dari luar kota, mulai dari Sidoarjo, Surabaya dan Solo. Dalam sebulan bisa kirim 90 ekor sampai 200 ekor tergantung bibit awal untuk kebutuhan warung sate.

“Permintaan paling banyak dari Solo dan Sidoarjo warung sate. Sehari warung sate bisa 10 ekor sampai 20 ekor untuk hajatan, aqiqah dan warung sate. Kalau Idul Adha, enam bulan sebelumnya sudah ada permintaan. Teman-teman Solo, Jogja banyak, 1 orang bisa pesan sampai 80 ekor, kebutuhan yayasan sampai 200 ekor,” ujarnya.

Kini hasil beternak domba dari pemuda yang terinspirasi sosok Bob Sadino ini sudah berbentuk rumah tinggal, mobil, dan pekarangan di belakang rumahnya yang akan digunakan untuk perluasan ternak ratusan dombanya.

“Alhamdulillah sudah kebeli rumah, mobil buat orangtua. Sama ini pekarangan belakang rumah, untuk pengembangan kandang,” ucap Rizal.

PPKM baginya justru menjadi berkah. Penjualan domba di Kota maupun Kabupaten Mojokerto semakin meningkat. Terutama pesanan dari para pedagang sate. Pasalnya, pembatasan hewan ternak sehingga minim pesaing.

Rizal yang awalnya kerap diremehkan kini malah menjadi suplier pakan domba bagi peternak di Jawa Timur hingga Jawa Barat usai menemukan resep yang cocok untuk penggemukan domba.  Kini, peternakannya pun bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Selain kotoran domba yang bisa dibuat pupuk bagi petani sekitar, dia juga mempekerjakan sejumlah orang.(234)

BERITA TERKAIT