Sembilan Langkah Atasi Perubahan Iklim

Jumat, 12 Juni 2020, 19:56 WIB

ilustrasi : Perubahan Iklim Global | Sumber Foto:Dok AGRONET

AGRONET -- Hasil pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa musim kemarau 2020 diprediksi datang lebih awal Menurut catatan BMKG secara umum musim kemarau dimulai dalam waktu tidak bersamaan.

Pada Mei dan Juni, 65,8% zona musim kemarau mulai terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia. Sementara 64,9 % zona musim yang merupakan puncak kemarau terjadi pada Agustus 2020 di sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Bagian selatan, Sulawesi Bagian Selatan dan Tenggara, serta Maluku Utara.

Kepala BPTPH Provinsi Jambi, Farda Sopian Simanjuntak, memberikan tips, sejumlah langkah yang dilakukan guna mengantisipasi dampak perubahan iklim:

Pertama, petani rutin melaksanakan pemantauan di areal pertanaman, mengasuransikan lahan dengan mengikuti AUTP.

Kedua, menanam varietas yang tahan kekeringan.

Ketiga, pola tanam berdasarkan pola curah hujan dan ketersediaan air irigasi.

Keempat, gunakan bahan-bahan organik agar tidak memicu tingkat porositas tanah yang tinggi."Penggunaan pupuk dan pestisida kimia akan memicu hilangnya air lebih cepat," jelasnya.

Langkah kelima adalah mengembangkan kemampuanĀ early warning system (EWS).

Keenam, membuat sumur suntik/pantek dan atau Biopori.

Ketujuh, gunakan pompa air.

Kedelapan menjaga stabilitas pasokan, distribusi, dan harga pangan di tingkat masyarakat.

Terakhir menjalin kerja sama insan pertanian secara komprehensif dan terpadu," paparnya.(139/234)