Tips Urban Farming di Rumah

Kamis, 22 April 2021, 09:39 WIB

Urban farming bisa jadi salah satu solusi atas permasalahan keterbatasan ketersediaan pangan. | Sumber Foto:Dok kementan

AGRONET -- Urban farming, istilah untuk menjelaskan kegiatan bertani atau berkebun bagi penghuni kota, menjadi tren akhir-akhir iniSeperti bertani atau berkebun konvensional, kegiatan ini meliputi praktek budidaya, pemrosesan, dan distribusi bahan pangan.

Tren urban farming sejatinya sudah dimulai sejak Perang Dunia ke II di Amerika. Para masyarakat menyuburkan kultur urban farming dengan menciptakan lahan tumbuh di halaman belakang rumahnya yang disebut Victory Garden atau Kebun Kemenangan. Hasil panen kebun kemenangan pada masa itu telah berhasil memasok 40% kebutuhan sayuran dan buah ke negara-negara kelaparan.

Di Indonesia, turunnya jumlah petani, urbanisasi, dan keterbatasan lahan menjadi masalah krusial yang telah lama dihadapi. Urban farming bisa jadi salah satu solusi atas permasalahan tersebut, apabila diterapkan secara maksimal. Masalahnya kemudian, perumahan di kota rata-rata hanya memiliki ‘jatah’ ruang terbuka yang minim. Karena itu, menata sebuah taman untuk budidaya bahan pangan pun menjadi tantangan tersendiri.

Kita bisa memulai urban farming dengan menanam jenis sayur-sayuran. Misalnya terong dan cabai yang bijinya tinggal disebar. Namun untuk mendapatkan hasil ideal dari urban farming, beberapa hal perlu diperhatikan saat memulai : 

1. Memilih tanaman

Pemilihan tanaman merupakan bagian penting dalam urban farming di rumah. Saat ini yang sedang menjadi tren, bercocok tanam di rumah dengan sayur-sayuran.

Sering kali jenis sayur yang ditanam merupakan tipe siap saji. Sayuran tipe siap saji seperti selada, kol, tomat, timun, serta beberapa sayur lain seperti tomat, terong, sampai cabe termasuk mudah untuk tumbuh.

Tak perlu perawatan khusus untuk sayuran ini bisa tumbuh subur.

Selain jenis-jenis sayuran, buah juga bisa jadi pilihan tanaman saat bercocok tanam di rumah. Buah jeruk dan lemon misalnya akan sangat cepat dan mudah tumbuh.

2. Siapkan media tanam

Setelah memilih wadah yang tepat untuk menanam, berikutnya merupakan media tanam. Untuk bercocok tanam di rumah, ada beberapa media tanam yang dapat dipilih.

Masing-masing memiliki keuntungan dan kerugian. Serta penting juga memperhatikan kebutuhan dari tanaman dan kesesuaian dengan media tanam nantinya.

Ini merupakan pengetahuan penting yang harus diketahui saat memulai bercocok tanam di rumah.

Secara umum, media tanam yang ideal merupakan tanah gambus yang subur. Selain tanah gambus yang sudah dicampur pupuk, juga bisa menggunakan sabut kelapa sebagai media tanam.

Selain itu saat bercocok tanam di rumah, media tanam yang digunakan bisa berlebih bervariasi seperti sekam padi sampai kulit kacang.

3. Wadah untuk menanam

Wadah untuk menanam sudah tentu memiliki peranan penting ketika mulai bercocok tanam di rumah. Ada berbagai pilihan berbeda untuk wadah bercocok tanam di rumah ini.

Bila rumah memiliki halaman, maka menanam langsung di tanah bukan pilihan yang salah. Sedangkan di sisi lain, bila tak memiliki ruangan yang cukup atau halaman, maka harus dipikirkan cara lain mendapatkan wadah bercocok tanam di rumah.

Bila tak bisa menanam langsung di halaman, bercocok tanam di rumah dengan wadah pot bisa jadi pilihan. Selain pot, juga bisa menggunakan berbagai wadah daur ulang lain.

Mulai dari botol dan ban bekas, kaleng, ember, dan lain-lain. Selain itu juga bisa menggunakan sistem wadah bercocok tanam meningkatkan untuk lahan yang benar-benar sempit.

Membuat wadah bercocok tanam di rumah dari kayu juga bisa menjadi pilihan. Ini akan memberikan ruang besar untuk tanaman tumbuh.

Selain itu juga tak memakan tempat. Alternatif lain merupakan wadah yang bisa digantung atau disusun secara vertikal.

4. Pengairan

Saat berkebun, pengairan memang bisa dilakukan dengan menyiram. Cara ini sama sekali tak salah dan sangat bisa dilakukan saat bercocok tanam di rumah pula.

Selain dengan cara menyiram tanaman secara teratur, juga bisa membuat sistem pengairan dari air sisa yang masih layak.

Sistem pengairan ini memastikan tanaman akan tetap mendapatkan kebutuhan air. Sehingga tak perlu khawatir lupa menyiram tanaman saat bercocok tanam di rumah.

Cara membuat sistem pengairan ini sendiri juga sangat mudah. Bahkan bisa dilakukan dengan botol yang dilubangi dan diletakan dalam wadah tanaman.

Selain itu jangan ragu juga untuk mempelajari sistem pengairan lain yang bisa digunakan saat bercocok tanam di rumah.

5. Berikan Nutrisi tambahan

Seperti juga lainnya, tanaman yang dipilih untuk bercocok tanam di rumah membutuhkan nutrisi tambahan.

Pastinya air dan juga nutrisi dari tanah tak akan cukup untuk memastikan tanaman tumbuh subur serta sehat. Untuk itu bisa memberikan nutrisi tambahan sesuai kebutuhan tanaman.

Demi memastikan kegiatan bercocok tanam di rumah benar-benar bebas dari penggunaan bahan kimia, nutrisi tambahan bisa didapatkan secara alami.

Ada beberapa cara untuk memberikan nutrisi secara alami pada tanaman kesayangan. Mulai dari dengan mencampur serpihan kulit telur dalam tanah.

Sampai juga dengan ampas kopi. Pastikan nutrisi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan tanaman.

6. Anti hama

Hama untuk tanaman memiliki banyak sekali bentuk. Terutama untuk urban farming di rumah. Hama yang bisa datang ke tanaman bisa saja berasal dari tanah, bahkan dari hewan peliharaan.

Untuk itu demi suksesnya bercocok tanam di rumah, pastikan tanaman benar-benar terletak di area yang aman.

Bila tanaman terkena hama dan penyakit juga sebaiknya segera dilakukan antisipasi. Seperti menyemprot dengan larutan cuka dan lemon. Cara ini akan memastikan tanaman bebas dari hama serangga.(234-dari berbagai sumber)

BERITA TERKAIT