Wisata Kebun Kelengkeng: Makan Sepuasnya atau Bawa Pulang

Sabtu, 26 Juni 2021, 19:12 WIB

Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto saat mengunjungi kebun kelengkeng di Grobogan Jawa Tengah. | Sumber Foto:Humas Ditjen Hortikultura

AGRONET -- Wisata pertanian sedang menjadi tren. Pasalnya prospek agro wisata sangat menjanjikan. Kementerian Pertanian kini telah menggagas kampung Hortikultura yang direspon luar biasa oleh petani. 

Lokasi Agrowisata yang terletak di Desa Sumber Agung, Kecamatan Ngaringan, Andalan Kab. Grobogan, Jawa Tengah ini menjadi tempat rekreasi baru di tengah pandemi. Lahan seluas 60 hektare ini dulunya adalah lahan yang kurang produktif. Alhasil, kini telah berubah menjadi kebun petik kelengkeng yang banyak digandrungi khususnya anak-anak milenial. 

Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto mengaku sangat senang melihat kebun kelengkeng milik kelompok tani Sumber Rezeki ini. Ahli Lingkungan dan Agroklimat itu juga menuturkan bahwa kampung kelengkeng ini adalah contoh nyata pengembangan Kampung Hortikultura yang digagasnya.

"Lokasi ini telah mengusung konsep Kampung Hortikultura. Inilah contoh dari kampung buah yang rencananya akan kita kembangkan," tuturnya, Kamis, (24/6).

Pengembangan kampung kelengkeng bertujuan untuk mengurangi importasi kelengkeng yang setiap tahun datang dari Thailand. Diharapkan program kampung Hortikultura ini nantinya akan menjadi pemantik kesejahteraan petani sehingga bisa mandiri kelengkeng dan tidak tergantungan impor lagi. 

Saat ditemui, Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki, Wasiran, mengaku tidak pernah sepi pengunjung. "Iya betul mas, Alhamdulillah banyak yang berkunjung ke sini, baik sekedar berwisata sambil metik sendiri atau sengaja beli untuk dijadikan buah tangan. Insya Allah mereka semua mematuhi prokes yang telah ditatapkan oleh pemerintah," ujarnya.

Senada dengan Wasiran, Koordinator PPL Kec. Ngaringan Moh Matamari membeberkan bahwa 30 hektare dari total luasan 60 hektare kebun kelengkeng itu berasal dari alokasi APBN 2021. Sedangkan sisanya swadaya petani.

Varietas yang ditanam yaitu Itoh Super dengan rata-rata produksi 1 kwintal per pohon. Dalam 1 hektare terdapat 300 pohon, maka produksi mencapai 30 ton per hektare dalam satu periode panen. 

Kampung kelengkeng ini dinilai sangat menguntungkan petani, sebab setiap pengunjung yang masuk ke kawasan agrowisata dikenakan tarif Rp 30 ribu dengan atraksi makan kelengkeng sepuasnya. Tapi jika ingin membawa pulang maka harus membayar Rp 40 ribu perkilogramnya. Pengunjung yang datang ke kebun kelengkeng ini berasal dari sekitar Kab. Grobogan, Blora, Pati, dan Semarang. (139)