Alhamdulillah, Ketahanan Pangan Indonesia Membaik

Rabu, 20 November 2019, 19:54 WIB

Luas bahan baku sawah yang terus menurun perlu menjadi perhatian serius | Sumber Foto:id.wikipedia.org

AGRONET - Ketahanan pangan Indonesia terus menunjukkan peningkatan sejak tahun 2013.  Berdasarkan data Indeks Ketahanan Pangan Global (Global Food Security Index/GFSI), ketahanan pangan Indonesia mencapai nilai indeks 54,8 pada tahun 2018.

Negara tetangga kita, Singapura, menduduki posisi pertama diikuti oleh Irlandia, Inggris, dan Amerika Serikat, dan Belanda. Pada tahun sebelumnya, Indonesia mencapai indeks 51,3 (2017), 50,6 (2016), 46,7 (2015), 46,5 (2014), dan 45,6 (2013). Dengan nilai indeks tersebut, pada tahun 2018 Indonesia berada diperingkat 65 dunia dan posisi kelima di wilayah ASEAN.

Indeks ketahanan pangan dinilai dari empat aspek. Pertama, affordability, yaitu terkait dengan keterjangkauan atau usaha memotong rantai pasok. Kedua, availability, berkaitan dengan ketersediaan. Ketiga, quality and safety, berhubungan dengan kualitas dan keamanan standar nutrisi dan pengawasan impor. Dan yang terakhir adalah natural resources and resilience, terkait dengan lahan dan produksi pangan.

Untuk aspek keterjangkauan, Indonesia berada di peringkat 63 dari 113 negara. Sedangkan pada aspek ketersediaan Indonesia berada pada posisi 58. Selanjutnya, untuk aspek kualitas dan keamanan serta faktor sumber daya alam, Indonesia berada pada peringkat 84 dan 111.

Pencapaian ini sudah pasti membuktikan keseriusan pemerintah Indonesia terhadap ketahanan pangan nasional. Khususnya kerja keras Kementerian Pertanian lewat program peningkatan produksi beras melalui bantuan benih, pendampingan, alat mesin pertanian, embung, dan jaminan harga untuk petani. Namun banyak faktor yang harus diperhatikan agar di masa depan ketahanan pangan tetap dapat terjaga dengan baik.

Faktor-faktor tersebut antara lain, peningkatan jumlah penduduk. Setiap tahun jumlah penduduk Indonesia bertambah sekitar 2,5 juta jiwa. Jika sekarang jumlah penduduk Indonesia sekitar 265 juta jiwa, maka pada 10 tahun ke depan -jika pertambahan jumlah penduduk tidak dikendalikan- jumlah penduduk Indonesia akan mendekati 300 juta jiwa.

Faktor lain. Keseragaman pangan pokok masyarakat Indonesia. Dikhawatirkan ketahanan pangan dapat terganggu jika sistem ketahanan pangan hanya berbasis beras. Diharapkan masyarakat Indonesia secara perlahan dapat beralih ke komoditas pangan lain seperti jagung, ubi, atau sagu.

Konsumsi beras per kapita pertahun di Indonesia cukup tinggi. Total bersih konsumsi beras dalam negeri sekitar 33,47 juta ton per tahun dengan konsumsi per kapita sekitar 114,6 kg per tahun. Sedangkan, jumlah bersih produksi beras domestik diperkirakan mencapai 46,5 juta ton. Sehingga diperoleh surplus 13,03 juta ton.

Lainnya, soal lahan pertanian produktif yang hilang karena pembangunan atau kondisi kualitas tanah yang menurun. Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), luas lahan baku sawah terus menurun. Pada tahun 2018 luas lahan 7,1 juta hektar, turun dibandingkan tahun 2017 seluas 7,75 juta hektar. Masalah lain seperti iklim global, hama, kualitas benih, tenaga kerja, dan lainnya juga berpengaruh dan juga harus menjadi perhatian

Ketahanan pangan nasional memang tidak melulu soal strategi pengadaan pangan. Namun juga menyangkut sektor lain sehingga kesinambungan pembangunan dapat terjaga dan maju selaras. (555)