Webinar Kementan Bahas Covid-19 di Bidang Peternakan

Sabtu, 02 Mei 2020, 10:15 WIB

Webinar Coronavirus dan Covid-19: Apa dan Bagaimana. Rabu (29/4/2020). | Sumber Foto:Dok Kementan

AGRONET --  Di tengah pandemic Covid-19 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) terus berupaya memfasilitasi pertukaran informasi untuk para peneliti dan stakeholder di bidang peternakan. Salah satunya dengan menggelar Web Seminar (Webinar) bertajuk Coronavirus-Covid-19 : Apa dan Bagaimana, Rabu (29/4/2020).

Webinar ini dimoderatori Kepala Puslitbangnak Dr. Atien Priyanti, M.Sc. dan diikuti oleh 85 peserta melalui zoom meeting dan 106 peserta melalui live streaming di Youtube yang merupakan peneliti, dosen, mahasiswa, dokter hewan serta beberapa masyarakat awam. 

Sebagai narasumber Webinar yakni Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) Dr. drh. NLP Indi Dharmayanti, M.Si. Dalam paparannya Dr. Indi mengatakan bahwa sifat genom coronavirus membuatnya mudah dalam mengakomodasi dan memodifikasi gen. Virus ini dapat menyebabkan penyakit pada saluran pernafasan, pencernaan, dan sistem saraf pusat pada hewan dan manusia. Munculnya beberapa coronavirus patogen pada hewan menunjukkan bahwa virus ini memiliki kemampuan dalam menginfeksi dan teradaptasi secara transspesies.

Indi lebih lanjut menjelaskan, Coronavirus sendiri dapat menginfeksi hewan kesayangan misalnya kucing atau anjing. Pada kucing terdapat dua gejala klinis berbeda. Feline enteric coronavirus (FECV) yang dikarakterisasi dengan infeksi saluran pencernaan ringan dan Feline Infectious peritonitis (FIP) yang merupakan patotipe virulen dan hampir selalu berakibat fatal.

“FIP sendiri memiliki dua bentuk klinis, yaitu basah dan kering. Bentuk basah FIP dikarakterisasi dengan efusi abdominal, sedangkan pada bentuk kering FIP dengan gejala klinis gangguan pada sistem saraf seperti kejang,status  mental dan perilaku abnormal, deficit secara kranial, ataksia, tetraparesis, dan hiperestesia,” jelas Indi.

Gejala klinis yang ditemukan pada anjing adalah diare ringan. Infeksi pada anjing muda biasanya bersifat fatal jika ditemukan adanya koinfeksi dengan penyakit lain seperti parvovirus. Pada akhir Februari 2020 lalu Covid-19 juga terdeteksi pada anjing tanpa gejala klinis di Hongkong dengan level virus yang rendah.

Pada hewan ternak, coronavirus dapat ditemukan pada sapi, kuda, babi dan unggas. Virus ini dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernafasan dan pencernaan (diare profus/berdarah, gastroenteritis, dehidrasi) pada pedet sapi dan sapi dewasa diikuti dengan penurunan produksi dan reproduksi. Gejala klinis ini menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan baik pada industri sapi pedaging maupun perah.

Pada kuda gejala klinis yang ditemukan adalah demam, gastroenteritis, gangguan pencernaan berupa diare dan kolik. Virus ini menghasilkan morbiditas yang bervariasi yaitu 10-83% namun dengan mortalitas rendah. Sedangkan pada babi, kerugian ekonomi peternak babi diakibatkan oleh gejala klinis diare, dan dehidrasi akibat nekrosis intestinal enterosit dan atropi vili disertai dengan tingginya morbiditas dan mortalitas.

Selain pada manusia dan hewan domestikasi, coronavirus juga dapat ditemukan pada hewan liar seperti kelelawar, burung liar serta tikus. Kelelawar merupakan mamalia dengan kemampuan terbang yang sangat baik, sehingga memiliki cakupan jarak migrasi yang lebih luas dibanding dengan mamalia darat. Cakupan jarak migrasi kelelawar yang jauh dihubungkan dengan kemampuannya dalam mentransmisikan berbagai penyakit.

Dr. Indi juga menyebutkan kelelawar biasanya menyebarkan penyakitnya ketika berada di dalam kondisi stress. Oleh karena itu keseimbangan alam perlu dijaga. “Biasanya kelelawar akan menspreadoverkan ketika berada dalam kondisi stress. Misalnya di kandang atau dipasar dan hendak dijual. Oleh karena itu baiknya jangan terlalu mengintervensi kehidupan mereka, biarkan mereka di alamnya,” ujarnya.

Seperti diketahui, pada manusia virus ini menyebabkan infeksi saluran pernafasan pada manusia secara umum, termasuk demam, kesulitan bernafas, dan infiltrasi paru-paru bilateral pada kasus yang paling parah. Lansia dan orang yang memiliki underlying diseases (Hipertensi, penyakit paru obstruktif kronik, diabetes, penyakit kardiovaskular) penyakit berkembang menjadi sindrom gangguan pernapasan akut, syok septik, asidosis metabolik yang sulit dikoreksi dan disfungsi koagulasi, bahkan menyebabkan kematian.

Balitbangtan dalam mengantisipasi wabah Covid-19 ini telah melakukan penelitian coronavirus pada hewan (kelelawar), penelitian daya antivirus hand sanitizer dan disinfektan yang benar-benar efektif dalam membunuh virus, dan studi invitro antivirus bahan alami tumbuhan. (234/Ivn-litbangtan)

BERITA TERKAIT